The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 114



Hari ini adalah hari ketiga Shanum berada di rumah sakit. Rencananya siang ini, dia dan kedua bayinya sudah bisa pulang. Mama Revina dan juga mommy Fara selalu menemani Shanum di rumah sakit. Mereka sangat bahagia karena langsung mempunyai dua cucu sekaligus.


"Kamu yakin tidak mau pulang ke rumah Mama?" Tanya mama Revina kepada Shanum. Entah itu sudah pertanyaan ke berapa ditanyakan kepada Shanum. Namun, jawaban Shanum tetap saja sama.


"Maaf, Ma. Aku pulang ke rumah mommy saja ya. Bukan karena apa-apa, tapi karena rumah mommy lebih dekat dengan kampus dan juga cafe. Aku nggak tega jika mas Cello harus menghabiskan waktu hampir tiga jam setiap hari untuk bolak balik kampus, cafe dan rumah," jawab Shanum dengan wajah bersalahnya.


Mama Revina mengangguk mengerti. Dia bukannya marah dengan keputusan Shanum. Tapi, dia memang menyadari dan memahami jika alasan Shanum memang benar adanya. Rumah mereka sebenarnya lebih dekat daripada rumah kakek dan neneknya. Hanya saja, jalanan yang akan dilaluinya menuju rumah sangat padat dan sering macet. Bisa dipastikan mereka pasti membutuhkan banyak waktu di jalan.


Siang itu, Cello sudah bersiap menjemput istri dan kedua putranya. Mama Revina juga ikut ke rumah cello untuk membantu memangku cucu-cucunya. 


"Re, kamu bantu kakak kamu membawa peralatannya. Kasihan jika dia membawanya sendiri," kata mama Revina kepada Rean yang terlihat baru saja memasuki kamar perawatan Shanum.


"Lho, sudah mau pulang ya?"


"Iya lah. Masa mau disini terus. Sudah cepaetan bantu bawa perlengkapannya semua," lanjut mama Revina.


Mau tidak mau Rean menuruti perkataan mama Revina. Dia membantu Cello membawa perlengkapan Shanum dan juga twins ke mobil. 


"Waahh, satu anak saja pasti berat mengasuhnya, ini dua langsung. Pasti bakal begadang terus nih. Belum lagi perlengkapannya yang banyak sekali," gumam Rean sambil melangkahkan kakinya menuju lift.


Dia masih tidak menyadari jika pada saat bersamaan, ada seseorang yang juga hendak menaiki lift tersebut. Hingga saat pintu lift terbuka, Rean baru menyadari siapa orang yang berdiri di samping kirinya tadi.


"Miss Dena?!" Kata Rean sedikit berteriak.


Ya, perempuan tersebut adalah misa Dena. Dosen favorit Rean dan sekaligus menjadi calon terkuat sebagai gebetannya.


"Hhhmm,"


"Waahhh, benar-benar tidak menyangka jika bertemu dengan miss Dena. Sedang apa disini, Miss?" Tanya Rean dengan penuh semangat. Dia masih belum menyadari tatapan yang dilayangkan oleh miss Dena pada barang bawaan yang sedang dibawa oleh Rean.


Ada selimut bayi, tas bayi yang berisi popok, bantal bayi dan juga alas tidur bayi. Miss Dena memperhatikan semua yang dibawa oleh Rean satu persatu. Dilihatnya jika barang-barang tersebut adalah perlengkapan newborn baby.


"Ini rumah sakit. Kamu bisa memikirkan sendiri untuk apa aku kesini." Jawab miss Dena sambil menolehkan kepalanya.


Rean hanya bisa mendengus kesal setelah mendengar jawaban miss Dena. Sebenarnya, Rean sudah sangat hafal dengan respon yang diberikan oleh miss Dena. Dia memang selalu seperti itu saat Rean bertanya atau ngomong sesuatu kepadanya.


Miss Dena menoleh menatap Rean. Tatapan matanya tajam seperti biasanya. Dia benar-benar sudah menebalkan telinganya dari segala macam bentuk gombale mukiyo Rean.


"Jangan suka ngomong sembarangan!" Hardiknya.


"Siapa juga yang ngomong sembarangan, Miss. Aku kan hanya ngomong jujur apa adanya," elak Rean.


Tak terasa lift yang mereka tumpangi sudah sampai bawah. Miss Dena segera beranjak keluar begitu pintu lift terbuka. Rean juga langsung mengikutinya keluar. Namun, langkah kaki mereka terhenti saat mendengar sebuah suara memanggil nama mereka.


"Mayang!"


"Rean!"


Seketika langkah kaki Rean dan miss Dena terhenti. Keduanya menoleh ke arah utara, ke tempat orang-orang yang memanggil nama mereka.


"Papa?" ucap Rean saat melihat wajah papa Bian.


"Papi?" tanya miss Dena sambil berjalan ke arah laki-laki yang berdiri di samping papa Bian.


Kening Rean berkerut sambil mengikuti langkah kaki miss Dena. 


"Sudah siap pulang, Re?" Tanya papa Bian sambil mengamati barang-barang yang dibawanya.


"Sudah, Pa."


Laki-laki yang berada di samping papa Bian tersebut tampak tersenyum sambil menatap ke arah Rean. Menyadari hal itu, Rean membalasnya sambil menganggukkan kepalanya.


"Re, kenalkan ini teman papa, om Hendrawan Gusnadi," kata papa Bian sambil menggeser tubuhnya.


Seketika kedua bola mata Rean membesar saat menyadari nama belakang laki-laki tersebut. Apa ini orang tua miss Dena? Waahhh calon mertua nih, batin Rean.


Waahh siap-siap nih.