The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 84



Sama seperti Adrian, sore itu juga semua akses Kinan ke media sosialnya di sita oleh sang mama. Tak terkecuali ponsel Kinan. Mama Kinan bahkan melarang Kinan keluar rumah meskipun hanya untuk melihat keadaan depan rumahnya.


Kinan juga baru mengetahui jika semua berkas pendaftaran pernikahannya dengan Adrian ke kantor KUA sudah diselesaikan oleh mama Sinta, mamanya Adrian. Kalau sudah seperti ini, apalagi yang bisa Kinan lakukan selain pasrah?


Malam itu juga, banyak para tetangga yang sudah mulai berdatangan untuk membantu mempersiapkan acara pernikahan Kinan esok hari. Mereka tahu jika acara esok hari hanya akan dilakukan prosesi akad nikah dan acara syukuran sederhana. Sedangkan untuk prosesi resepsi pernikahan, akan digelar di Jakarta mengingat siapa Adrian dan keluarganya.


Sementara di sebuah hotel, Adrian hanya bisa menggerutu kesal tanpa bisa melakukan apa-apa. Semua akses komunikasi dengan dunia luar, benar-benar dibatasi oleh kedua orang tuanya.


Dan, tugas Adrian adalah mulai menghafalkan lafal ijab kabul yang akan diucapkannya esok hari. Adrian benar-benar merasa kesal. Selain kesal kepada orang tuanya, Adrian juga merasa kesal kepada Kinan. Adrian berpikir jika Kinan sudah merencanakan semua ini untuk menjebaknya agar mau menikahi Kinan.


Padahal, semua itu tidak benar. Sama seperti dirinya, Kinan juga tidak mengetahui apa-apa. Kinan juga baru mengetahui rencana pernikahannya setelah sampai di rumah.


Menjelang malam, rumah Kinan sudah mulai sepi. Orang tua Adrian yang berada di rumah Kinan sejak sore, kini sudah kembali ke hotel untuk beristirahat. Esok pagi-pagi sekali mereka akan datang untuk acara inti tersebut.


Kinan yang memang berada di dalam kamar yang sudah dihias dengan dekorasi kamar pengantin, hanya bisa duduk selonjoran sambil menatap layar televisi. Jangankan tidur, mau ngapa-ngapain pun Kinan terasa berat. Pikirannya berkelana kemana-mana.


Mama Kinan mengetuk pintu kamar Kinan sebentar, sebelum akhirnya membuka pintu tersebut. Mama Kinan mengintip ke dalam kamar dan mendapati Kinan belum tidur.


"Mama boleh masuk, Sayang?" tanya mama Kinan.


Kinan yang saat itu memang belum tidur, hanya bisa menganggukkan kepala dan mempersilahkan sang mama masuk.


Sambil mengulas senyumannya, mama Kinan berjalan mendekati tempat tidur dimana Kinan sedang duduk. Kamar berukuran empat kali tiga meter tersebut memang cukup luas. 


"Mama boleh tanya sesuatu, Sayang?" mama Kinan mengusap bahu Kinan dengan lembut.


"Boleh, Ma. Mama mau tanya apa?" 


Kinan sebenarnya masih merasa kesal dengan sang mama. Namun, tentu saja dia tidak bisa marah. Bagi Kinan, mamanya adalah segala-galanya. Semenjak sang papa meninggal, Kinan hanya hidup berdua dengan sang mama. 


Sebenarnya, Kinan ingin mengajak mamanya untuk pindah ke Jakarta dengannya. Namun, pekerjaan sang mama sebagai PNS guru di sebuah SMA tidak mungkin membuatnya ikut pindah. Lagipula, mama Kinan juga masih merasa nyaman tinggal disana.


"Apa kamu marah kepada mama?" tanya mama Kinan sambil masih mengusap-usap bahu dan rambut Kinan dengan lembut.


Kinan menatap wajah mamanya yang terlihat sendu tersebut. Dia menggelengkan kepala sambil langsung menghamburkan pelukan kepada mamanya.


"Tidak, Ma. Aku sama sekali tidak marah. Justru aku merasa bersalah kepada Mama karena selalu menolak untuk segera menikah seperti yang mama inginkan. Mungkin, memang sudah seperti ini garis hidup yang harus aku jalani."


Mama masih mengusap-usap punggung Kinan yang saat itu sedang memeluknya. Sesekali sebuah kecupan mendarat pada pucuk kepala Kinan.


Sebelum scroll, jangan lupa klik like dan komen banyak-banyak, ya.