
"Lalu, siapa Celine?" Tanya Vanya.
Deg.
Kenzo segera menoleh menatap Vanya yang juga sedang menatapnya. Dia sedikit mengerutkan keningnya bingung.
"Darimana kamu tahu?" Tanya Kenzo penasaran.
Vanya mengembuskan napas sambil menoleh menatap lautan yang terhampar luas sejauh mata memandang.
"Maaf Mas, beberapa hari yang lalu, Reyhan sempat menceritakan sedikit tentang Celine, Celina atau Celita itu, lupa aku siapa namanya." Jawab Vanya. "Tapi, aku mohon kamu jangan marah pada Reyhan ya Mas, aku yang memaksanya untuk bercerita. Cuma sedikit kok. Aku cuma tidak mau ada yang tiba-tiba saja ngelabrak aku dan menuduhku merebut kekasihnya. Aku kan harus persiapan juga." Lanjut Vanya sambil tersenyum tipis.
Kenzo masih memperhatikan ekspresi wajah Vanya saat menjawab pertanyaannya. Masih datar.
"Lalu, apa saja yang diceritakan Reyhan?" Tanya Kenzo.
Vanya menoleh menatap wajah Kenzo yang terlihat tegang. Dia terlihat lucu saat khawatir seperti itu. Vanya menyunggingkan senyumannya sambil menjawab pertanyaan Kenzo.
"Hanya sedikit kok Mas. Waktu itu, aku cuma bertanya, apa mas Kenzo punya pacar, dan dijawab tidak. Lalu, Reyhan menceritakan sedikit tentang wanita yang pernah mas Kenzo sukai saat SMA. Hanya itu saja kok." Kata Vanya.
Kenzo menghembuskan napas beratnya setelah mendengar jawaban Vanya. Dia tidak menyangka jika Vanya mengetahui masa lalunya dari orang lain. Kenzo tidak ingin Vanya mempunyai pikiran yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Celina, dia adalah temanku saat masih di SMA. Kami sudah terbiasa bersama saat melakukan kegiatan di sekolah. Aku, Celina dan Leon. Kami bertiga hampir selalu menghabiskan waktu bersama. Entah mungkin karena terlalu sering menghabiskan waktu bersama, muncul rasa sukaku terhadap Celina. Saat itu, aku merasa sikapnya cukup welcome denganku. Entah keberanian dari mana, saat itu aku memberanikan diri mengungkapkan perasaanku kepadanya. Namun, bukannya diterima tapi aku malah di caci makinya. Aku di tolak saat itu juga. Dan, yang lebih menyakitkan, dia mau berteman denganku hanya untuk mengejar Leon, sahabat kami."
"Sakit memang. Tidak hanya sakit karena ditolak yang saat itu aku rasakan. Akan tetapi, malu juga aku rasakan. Celina menolakku di parkiran sebuah minimarket. Hahaha, bodohnya juga aku saat itu." Kata Ken sambil tertawa.
Namun, Vanya yang melihatnya bukannya merasa lucu. Tapi, ada sebuah perasaan iba yang tiba-tiba muncul di hatinya. Entah mengapa dadanya merasa sesak saat mendengar cerita dari Kenzo secara langsung. Beberapa waktu yang lalu, saat mendengar cerita dari Reyhan, dia tidak merasakan apa-apa. Bahkan, dia ambil pusing mengenai hal itu. Namun, kali ini berbeda.
Vanya menatap wajah Kenzo yang tengah menatap lautan di depannya. Ada luka yang terlihat di sana.
"Lalu, apa mas Ken pernah bertemu kembali dengan Celina?" Tanya Vanya membuyarkan pikiran Kenzo.
"Pernah. Sekitar satu tahun yang lalu." Jawab Ken.
Vanya terlihat ragu untuk menanyakan hal lain kepada Kenzo. Kenzo yang menyadari hal itu pun langsung menggeser badannya hingga menatap wajah Vanya.
"Apa yang ingin kamu ketahui?" Tanya Kenzo. "Kamu ingin kita memulai semua dari awal kan, aku pun juga sama. Aku berusaha untuk tidak menutupi apapun darimu. Dan, aku juga berharap kamu tidak menutupi apapun dariku." Lanjut Kenzo.
Vanya masih menggigiti bibir bawahnya. Namun, dia segera mengangguk saat memahami maksud Kenzo. Melihat Vanya yang masih tidak bersuara, Kenzo menjadi semakin gemas. Apalagi Vanya tak berhenti menggigiti bibir bawahnya. Segera dia menarik tubuh Vanya hingga menempel pada tubuhnya.
"Eh, ap-apa yang mau mas Ken lakukan?" Tanya Vanya gelagapan.
"Memakanmu."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Haauummmmm mau dimakan katanya si Kenzo, emang dikira dia kanibal apa 😂
Maaf telat upnya ya, ternyata ada acara dadakan 🙏