The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 92



Cello dan juga Aldi hanya bisa menatap Danisha yang terlihat menyedihkan tersebut. Sebenarnya, mereka merasa kasihan setelah melihat penampilan wanita itu. Tapi, mengingat apa yang dilakukannya, seketika rasa kasihan tersebut langsung menguap tak berbekas.


"Apa yang kalian lihat?! Pergi dari sini!" Bentak Danisha sambil mengarahkan tatapannya pada para mahasiswa yang masih terlihat berdiri tak jauh dari posisinya.


Sekilas Danisha bisa melihat keberadaan Cello dan juga Aldi di sana. Dia menatap wajah Cello dengan tatapan tak bisa diartikan.


Cello dan juga Aldi masih bisa mendengar bisik-bisik para mahasiswa. Mereka juga menatap ke arah Danisha yang sedang memperhatikannya juga.


"Ayo pergi dari sini. Enek gue lihat wajahnya," kata Cello sambil menyenggol lengan Aldi.


"Kuy, cabut."


Mereka segera meninggalkan tempat tersebut dan segera berjalan menuju tempat parkir. Cello dan Aldi segera memasuki mobil Cello. Mereka segera berangkat menuju sebuah tempat yang dijanjikan oleh Mr. Bernard untuk bertemu.


"Gi*la benar istrinya pak Danu. Bar-bar banget. Dia bisa sadis gitu mencabik-cabik di Danisha. Gue benar-benar nggak menyangka." Kata Aldi setelah mobil yang dikendarai Cello berhasil keluar dari gerbang kampus.


"Biasanya, wanita jika sudah disakiti hatinya, bisa melakukan apa saja untuk membalas rasa sakitnya."


"Sepertinya memang begitu, Cell. Gue setuju dengan apa yang lo bilang. Kalau dilihat dari penampilannya, istri pak Danu itu sepertinya kaum sosialita. Jadi, dia pasti merasa sangat diinjak-injak harga dirinya."


Cello hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Hingga beberapa saat kemudian, terdengar sebuah suara notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Aldi dan juga Cello bersamaan. Ternyata, notifikasi tersebut berasal dari pesan grup yang mereka ikuti. Aldi yang memang membukanya lebih dulu karena Cello sedang menyetir langsung berteriak sambil menunjukkan ponselnya kepada Cello.


"Oh my God! Lihat ini, Cell! Video tadi sudah mulai beredar di grup. Sudah bisa dipastikan video ini akan viral di kalangan anak-anak. Gue juga yakin jika akun Danisha akan dicatut ini, mah." Kata Aldi sambil masih menunjukkan layar ponselnya ke arah Cello.


"Cepat sekali menyebarnya."


"Iyalah, bisa dipastikan para pencari berita sangat puas dengan video itu. Eh, sebentar. Gue lihat dulu akun 'lambe njleber' kampus. Biasanya, mereka cepet banget jika ada video yang lagi anget-anget begini."


Aldi langsung terlihat sibuk mengutak-atik ponselnya, sementara Cello masih fokus dengan jalanan yang ada di depannya. Beberapa saat kemudian, Aldi langsung memekik histeris sambil kembali mengacung-acungkan ponselnya ke arah Cello.


"Tuh kan bener apa gue bilang. Lambe njleber langsung menyambar berita panas ini. Lo lihat ini, Cell. Lambe njleber nggak hanya posting video tadi, tapi mereka juga posting video asli kemarin yang sempat mencatut nama lo!"


"Serius, lo?!"


Cello hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Dia sedikit merasa lega dengan kebenaran yang sudah mulai terkuak.


Tak berapa lama kemudian, mobil yang dikendarai Cello memasuki sebuah restoran yang cukup terkenal. Aldi yang menyadari hal itu langsung menolehkan kepalanya.


"Ngapain lo ngajakin gue kesini? Mau makan siang disini?"


"Iya."


"Ccckkk, gue nggak perlu lo ajak makan ditempat mewah seperti ini, Cell. Di tempat biasa juga gue mau kok, suer. Lagian, makan di sini itu, sudah mahal, nggak kenyang lagi. Yah, meskipun lo tajir melintir, gue sih sayang uangnya." Kata Aldi masih nyerocos.


"Enak aja! Lo kira gue ngajakin makan disini demi lo?! Ngawur. Sudah, turun!"


Mau tidak mau, Aldi mengikuti Cello memasuki restoran tersebut. Kebetulan, mereka bertemu dengan Zee yang juga terlihat baru saja turun dari kendaraan bersama dengan sang istri.


"Eh Cell, sudah datang juga ternyata?"


"Eh, iya Om. Apa kabar Tante?" Sapa Cello sambil menoleh menatap Kiara, istri Zee.


"Baik, kamu sehat Cell?" Balas Kiara sambil mengulas senyumannya.


"Alhamdulillah baik, Tan."


"Sudah, jangan senyum-senyum gitu, Yang. Dia itu seumuran Gen. Masih juga mau ngelirik brondong," gerutu Zee samb menarik pinggang sang istri.


"Astaga, Mas! Aku hanya menyapa Cello. Kamu ini berlebihan banget sih. Sudah tua juga dikurangi dong itu cemburunya. Bisa-bisanya berpikir yang tidak-tidak!" Balas Kiara tak mau kalah.


"Beneran, Yang?! Baiklah, aku akan memikirkan yang iya-iya kalau begitu. Ayo sekarang ke ruanganku. Cell, kamu masuk dulu. Tunggu Dave dan om Bernard, ya." Kata Zee sambil buru-buru pergi dari tempat Cello sambil menarik lengan sang istri.


Oalah Zee, sing diturun sopo lho jane kuwi 🤦‍♀️