
Kaero yang kini sudah mulai terbawa suasana karena ulah sang istri pun hanya bisa pasrah. Dia dengan senang hati menuruti keinginan istrinya tersebut.
"Kamu mau buat stempel lagi, Yang?" Kata Kaero sambil mencegah wajah sang istri mendekati ceruk lehernya. Entah mengapa Keyya sangat suka sekali melakukannya.
Keyya menghentikan tujuannya. Kini, kedua bola matanya menatap wajah Kaero yang berada di bawahnya dengan tatapan tajamnya.
"Kamu keberatan, Mas?" Tanya Keyya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Eh, eng-enggak, Yang. Tapi geli ini." Kata Kaero memberi alasan.
"Kalau geli ditahan saja, Mas. Tinggal merem dan mengunci mulut kan beres."
"Mana ada beres untuk hal seperti itu. Lagipula, mulutku pasti tidak akan bisa diam untuk urusan seperti itu." Jawab Kaero.
Keyya hanya bisa mendengus kesal setelah mendengar perkataan sang suami. Tanpa memperdulikan perkataan Kaero, Keyya langsung kembali menyerang sang suami.
"Aaiiisssshhh sssshhhh, Yaanngggg. Hhmmmmpphh." Kaero benar-benar merasa sangat geli. Keyya benar-benar sangat bersemangat.
Setelah beberapa menit, Kaero benar-benar sudah tidak tahan lagi. Dia langsung membalik tubuh Keyya hingga kini berada di bawahnya.
"Gantian. Dari tadi kamu sudah membuat stempel di sekujur tubuhku. Kini giliranku untuk memberikan stempel, bahkan ditempat-tempat tersembunyi sekalipun." Kata Kaero sambil tersenyum smirk.
Keyya yang merasa jika Kaero akan balas dendam pun langsung menciut. Dia sudah pernah merasakan sebelumnya. Dan hal itu, membuat Keyya benar-benar melayang.
Sementara di tempat lain, Bian benar-benar kehilangan fokus. Jaket yang semula tersampir pada lengan kanannya bahkan sudah terjatuh. Kedua tangannya masih menggenggam tangan Revina yang hendak menggoda si perkutut yang sudah mulai menggeliat.
"Maassshh." Rengek Revina sambil kembali menggoda sang suami.
"Ssshhhh, Dek. Jangan main-main. Aku tidak bisa menjamin kamu akan selamat hari ini." Kata Bian. Dia masih berusaha untuk fokus sambil memejamkan mata. Bian berusaha menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan.
"Aku tidak mau selamat sore ini, Mas. Aku mau kok berdarah-darah demi kamu. Aku ikhlas." Jawab Revina sambil mendekap erat tubuh Bian.
Dan kini, Revina menjadi semakin berani. Dia bahkan sudah menarik jepitan handuknya hingga kini sudah berhasil lolos dari tubuhnya. Handuk tersebut sudah teronggok di bawah kaki Revina dan Bian.
Bian benar-benar sudah kehilangan fokus. Gesekan benda kenyal yang nempel di punggungnya benar-benar membuat tubuhnya terasa panas luar dalam. Gerakan Revina yang semakin menggoda Bian juga menambah tubuhnya terasa panas. Darahnya langsung berdesir hebat dan kini sudah berpusat pada bagian inti tubuhnya.
Seketika Bian berbalik sambil memejamkan mata. Dia masih berusaha untuk tidak menatap tubuh polos Revina. Bian langsung memeluk tubuh Revina. Dia berpikir, dengan begitu otaknya yang sudah mulai travelling tidak akan terkontaminasi dengan melihat tubuh sang istri.
Namun, dugaannya ternyata salah. Justru dengan mendekap tubuh sang istri, Bian malah merasakan darahnya berdesir semakin hebat. Kini, Bian justru merasakan benda-benda kenyal tersebut mengganjal di d*da bidangnya.
Revina yang merasa mendapat lampu hijau dari sang suami justru semakin berani. Dengan semangat empat limanya dia bergerak naik turun naik turun, hingga membuat Bian semakin tak karuan.
"Dek, ssshhhhh. Berhenti." Kata Bian lemah.
Revina yang mendengar nada suara pasrah dari sang suami langsung bersemangat. Dia semakin gencar menggerakkan tubuhnya. Jangan lupakan tangannya yang mulai gencar berkelana kesana kemari untuk membuat tubuh Bian bereaksi.
Dan, benar saja. Bian langsung menegang. Dia sudah benar-benar tidak kuat dengan perlakuan Revina. Langsung saja Bian menggendong Revina dan membawanya ke tempat tidur. Segera dia membaringkan tubuh sang istri disana. Kedua bola matanya benar-benar sudah terkontaminasi dengan tubuh polos sang istri. Tanpa banyak ngomong lagi, Bian langsung menindih tubuh Revina.
"Kamu yang memulai ini. Jangan menyesal setelahnya." Kata Bian yang langsung membungkam bibir Revina saat melihatnya hendak protes.
"Hhhhmmmppphhhhh."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Maaf othor benar-benar ada deadline kerjaan, jadi upnya sebisanya dulu.