The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 77



Malam itu, Dena benar-benar gelisah. Pikirannya sudah mulai ketakutan. Hatinya yang sudah mulai menerima keberadaan Rean, seolah merasa tidak rela jika sampai sang suami meninggalkannya.


Dena menggelengkan kepala dengan cepat sambil mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Dia buru-buru mengambil ponsel dan mulai menyalakannya. Beberapa saat dia menunggu ponselnya nyala. Dan, begitu ponsel tersebut sudah aktif kembali, ratusan pesan bermunculan. Panggilan telepon tak terjawab pun juga bermunculan. 


Dena tidak menggubris pesan dari teman-temannya. Dia hanya membaca pesan dari orang tua dan sang suami. Dena membaca semua pesan-pesan yang dikirimkan Rean.


Ada puluhan, bahkan mungkin sampai seratus lebih pesan yang dikirimkan oleh Rean. Dena membaca pesan-pesan tersebut satu-satu dari atas. Dadanya bergemuruh hebat. Ternyata, dia salah sangka terhadap Rean.


Rean menjelaskan jika dia memang sengaja tidak memberi kabar kepada Dena telah kembali ke Jakarta. Rean ingin memberi kejutan kepada sang istri. Namun, kejadian tak terduga terjadi. Bukannya Rean yang memberikan kejutan, tapi justru dia yang terkejut dengan kedatangan nenek Dena.


Belum sempat Dena menyelesaikan membaca pesan tersebut, dia langsung masuk ke dalam kamar hotelnya. Dena segera membereskan barang-barangnya dan bergegas kembali ke apartemen. 


"Kenapa aku tidak kepikiran untuk memeriksa CCTV? Bod*h sekali kamu, Den. Otak kamu yang sudah dipenuhi dengan amarah membutakan semua yang ada di depanmu." Dena masih menggerutu dan merutuki kebodohannya sendiri. 


Malam itu juga, Dena segera memesan taksi dan langsung pulang ke apartemennya. Begitu sampai di apartemen, Dena segera bergegas menuju ruangan CCTV. Dia meminta pengawas gedung untuk menampilkan CCTV yang mengarah pada apartemennya.


Lutut Dena terasa lemas saat menyadari jika memang apa yang dikatakan oleh Rean tersebut memang benar. Rean baru saja datang ke apartemen, dan terlihat nenek beserta paman dan bibinya datang. Tak berselang lama kemudian, Rean juga terlihat keluar dari apartemen setelah kepergian neneknya.


Dari CCTV tersebut juga terlihat jika cardigan rajut yang ditemukannya adalah milik sang bibi. Saat memasuki apartemen, bibi Dena tersebut terlihat membawa sebuah baju. Namun saat keluar, bibinya tersebut tidak terlihat membawa apa-apa. 


Dena menangis tersedu-sedu karena merutuki kebodohannya. Saat itu, dia benar-benar menyesal. 


Dena berjalan gontai menuju apartemennya. Dia langsung menuju kamar dan membanting diri di atas tempat tidur. Dia langsung menangisi kebodohannya.


Sekitar lima belas menit kemudian, Dena mengambil ponselnya dan berniat melanjutkan membaca pesan Rean yang belum selesai dibacanya tadi. Pesan-pesan tersebut baru dikirim tadi setelah maghrib.


Sayang, kenapa masih belum bisa dihubungi? Aku benar-benar minta maaf.


18.21


Jangan lama-lama perginya, segera pulang. Aku benar-benar kangen pengen ketemu.


18.52


Sayang, mohon jangan berpikiran jika aku memiliki perempuan lain selain kamu. Sejak pertemuan kita pertama kali waktu itu, hatiku sudah bukan lagi menjadi milikku. Kamu sudah berhasil mengambil semuanya, dan tidak menyisakan tempat untuk yang lainnya. Jika kamu masih memerlukan waktu untuk menenangkan diri, aku akan memberikan waktu sebanyak yang kamu mau. Aku juga tidak akan menghubungi lagi setelah ini. Tetap jaga kesehatan. Jangan lupakan hatiku selalu untukmu.


Air mata Dena kembali luruh setelah membaca pesan Rean tersebut. Dadanya terasa sesak karena merutuki kebodohannya sendiri.


Setelah cukup menenangkan diri, Dena memberanikan diri untuk menghubungi Rean. Namun, panggilan tersebut tidak tersambung. Dia mencoba beberapa kali, tetap saja tidak tersambung. 


Dena kembali menangis sesenggukan saat tidak berhasil menghubungi Rean. Sekarang, dia jadi merasakan perasaan Rean saat tidak berhasil menghubunginya.


\=\=\=


Satu kata buat Dena? 


Cusss tulis di kolom komentar.