
"Bertemu dengan orang tua? Ada apa ya, Pak?" Dena tampak kaget saat mengetahui dosen senior tersebut ingin menemuinya bersama dengan orang tua.
"Ehm, i-itu, kami hanya ingin silaturahmi." Rama tampak salah tingkah. Dosen senior yang terpaut usia tujuh tahun dengan Dena tersebut tampak salah tingkah.
Dena mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, mereka langsung beranjak menuju ruangan. Mereka harus bersiap untuk rapat yang akan segera dimulai.
Sementara di Surabaya, Rean cukup sibuk dengan renovasi distronya. Dia harus mencari pekerja dan bahan yang diperlukan secepatnya. Hari itu juga, proses pengerjaan sudah langsung dimulai.
"Ini yang belakang jadi dibuat dua lantai, Re?" Refan yang batu saja datang langsung menghampiri Rean.
"Iya. Aku ingin menambahkan ruangan lagi di atasnya. Nanti, yang bagian bawahnya bisa dibuat untuk istirahat juga."
Refan mengangguk-anggukkan kepala. "Kamu ingin mempekerjakan pegawai yang bisa sekalian tinggal di sini, Re?"
"Belum kepikiran, sih. Dilihat saja nanti."
Refan kembali mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, mereka kembali melakukan pekerjaannya. Seharian iti, Rean benar-benar fokus pada perbaikan distronya. Dia bahkan melupakan ponselnya yang sejak tadi tergeletak diatas meja. Rean tidak menyadari jika Dena menghubungi dan mengiriminya pesan beberapa kali.
12.26
Kemana saja, sih? Kenapa tidak di angkat teleponku?
12.45
Sudah makan siang?
13.10
Mas?
14.26
Sesibuk itukah sampai tidak bisa menghubungi istri sendiri?
15.56
Baiklah, tidak apa-apa. Asal jangan lupa makan.
Rean benar-benar tidak memegang ponselnya sejak siang. Dia juga tidak mengetahui jika ada panggilan telepon dan pesan dari sang istri. Hingga menjelang pukul lima sore, Rean baru menyadari jika dia belum memeriksa ponselnya.
Malam itu, Rean kembali ke distro pusat untuk beristirahat. Para karyawannya juga sudah menutup distro dan sudah pulang. Rean segera membersihkan diri dan langsung menyantap makan malam yang sudah dibelikan oleh karyawannya sebelum mereka pulang.
Rean masih mencoba menghubungi ponsel Dena. Namun, lagi-lagi ponsel tersebut belum bisa dihubungi. Rean kembali melanjutkan makan malamnya.
Disaat Rean tengah menyantap makan malamnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Rean buru-buru memeriksa ponsel tersebut. Sebuah senyuman terbit pada bibirnya saat menyadari jika sang istri tengah menghubunginya melalui panggilan video. Rean melirik penampilannya sekilas pada cermin yang ada di atas rak buku sebelum menerima panggilan telepon tersebut.
Sambil masih mengulas senyumannya, Rean menggeser ikon berwarna hijau tersebut untuk menghubungkan panggilan.
"Hallo, assalamualaikum," sapa Rean begitu panggilan video tersebut terhubung.
"Waalaikumsalam." Dena terlihat baru saja memebersihkan diri. Rambutnya masih dibungkus handuk. Tetesan air juga masih membekas pada wajahnya.
"Maaf, Sayang. Tadi aku benar-benar sibuk mengurusi renovasi distro. Aku harus mencari semua bahan-bahan yang dibutuhkan dengan segera agar proses renovasi bisa segera dilakukan. Kamu tidak marah, kan?" Wajah Rean tampak khawatir. Dia masih menatap wajah Dena pada layar ponselnya.
Sebuah senyuman terulas pada bibir Dena. Dia menggelengkan kepala sekilas. "Tidak apa-apa, Mas. Aku bisa mengerti hal itu. Yang penting jangan sampai lupa makan. Jangan telat makan."
"Pasti. Ini, aku juga sedang makan, kok." Rean mengangkat sepiring nasi goreng dan menunjukkannya pada layar ponsel.
Dena menganggukkan kepala. "Ehm, ada yang ingin aku sampaikan." Dena tampak ragu-ragu mengatakannya.
Kening Rean berkerut setelah mendengar perkataan sang istri. "Ada apa?"
"Ehm, aku ada diklat di Jogja selama lima hari. Apa boleh?"
"Kapan berangkatnya?"
"Lusa."
Rean menganggukkan kepala. "Tentu saja boleh. Itu kan untuk pekerjaan. Lagi pula, aku juga masih harus berada di Surabaya untuk proses renovasi distro."
Dena tamoak tersenyum dan mengangguukkan kepala. "Terima kasih, Mas."
"Sama-sama. Tapi ingat, harus bisa jaga diri. Jangan lupa jika sekarang kamu sudah menikah. Jangan mudah menerima gombalan orang lain selain suamimu."
"Iya. Eh?"