The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.55



Bian dan Revina yang sudah dijemput oleh orang suruhan Bian pun segera masuk ke dalam mobil. Mobil tersebut langsung melaju menuju rumah sakit tempat kakek Bian dirawat.


Tadi pagi, kakek Bian masih baik-baik saja. Beliau juga masih melaksanakan sholat ied bersama dengan nenek di masjid dekat rumah. Namun, beberapa saat setelah selesai melaksanakan sholat ied, kakek Bian mendapat sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Pesan tersebut berisi dua buah foto yang menunjukkan sepasang laki-laki dan perempuan tengah berada di sebuah hotel. 


Laki-laki tersebut memang mirip Bian. Hampir sembilan puluh lima persen wajah dan postur tubuhnya mirip dengan Bian. Kakek Bian yang mendapatkan pesan tersebut langsung ngedrop. Beliau bahkan langsung tidak sadarkan diri. Beruntung saat itu ada tetangga yang sedang bersilaturahmi. Mereka langsung membawa kakek Bian ke rumah sakit dan mengabari Bian.


Sekitar satu jam kemudian, Bian dan Revina sudah sampai di rumah sakit tempat kakek Bian dirawat. Bian dan Revina langsung menuju ruangan tempat kakek dirawat. Dari kejauhan, Bian melihat nenek sedang berjalan sambil membawa sebotol air minum. Sepertinya wanita paruh baya yang masih terlihat segar bugar tersebut baru saja dari minimarket.


"Nek!" Panggil Bian dengan sedikit berteriak.


Wanita tersebut berhenti dan menoleh untuk menatap ke arah sumber suara. Sebuah senyuman langsung terbit saat melihat sang cucu berada tak jauh di depannya. Bian segera berjalan dan menghambur pada pelukan wanita paruh baya yang sudah bersusah payah membesarkannya selama ini.


"Nenek sehat?" Tanya Bian saat masih berada dalam pelukan sang nenek.


"Alhamdulillah, sehat. Kamu sendiri bagaimana, Le?" Jawab nenek sambil mengusap-usap punggung Bian. 


'Le' atau 'Tole' adalah panggilan yang biasa diberikan oleh orang tua kepada anak laki-laki dalam bahasa Jawa. 'Tole' juga biasa digunakan untuk panggilan kepada seorang laki-laki yang lebih muda dalam bahasa Jawa atau kepada anak-anak kecil, meskipun tidak ada hubungan darah.


"Sehat, Nek. Maafkan semua kesalahan Bian ya, Nek. Maaf selama ini Bian banyak menyusahkan kakek dan juga nenek."


"Jangan bicara seperti itu. Kamu itu cucu satu-satunya kakek dan nenek. Tentu saja kamu tidak merepotkan, kami. Sudah-sudah, ayo segera temui kakek kamu. Dari tadi dia terus menanyakan tentang kamu." Kata nenek sambil melepaskan pelukannya. Nenek masih belum menyadari keberadaan Revina yang tengah berdiri di belakang Bian.


Saat nenek hendak berbalik, beliau baru menyadari keberadaan Revina di belakang Bian. Seketika nenek mengerutkan keningnya saat menatap ke arah Revina.


"Ini siapa, Le?" Tanya nenek.


"Ehm, i-ini Revina, Nek." Jawab Bian sambil menggaruk tengkuknya.


Revina yang mendengar perkataan Bian langsung berjalan mendekat sambil mengulurkan tangan kepada nenek Bian. Nenek pun segera menyambut uluran tangan Revina.


"Perkenalkan, saya Revina, Nek." Kata Revina setelah mengecup tangan nenek Bian.


"Ah, ini kah gadis yang diceritakan oleh Halimah?" Tanya nenek dengan wajah berbinar.


Bian merasa bingung harus menjawab apa. Pasalnya bu Halimah sudah memberitahukan kepada kakek dan neneknya jika Bian sudah mempunyai calon istri. Mau tidak mau Bian hanya bisa mengangguk mengiyakan.


Nenek begitu bahagia setelah mendengar jawaban Bian. Beliau langsung menarik lengan Revina dan membawanya ke ruangan kakek Bian. Sementara Bian hanya bisa mengekori mereka dari belakang.


Ceklek.


Nenek membuka pintu kamar rawat inap sang kakek. Terlihat di atas brankar kakek sedang duduk sambil mengotak atik ponselnya. Meskipun usia kakek saat ini sudah enam puluh delapan tahun, namun beliau masih cukup awas saat menggunakan ponsel. Hanya saja, akhir-akhir ini kondisi beliau sering ngedrop karena cukup banyak mengkonsumsi makanan yang tidak sehat saat bulan puasa kemarin.


Kakek langsung mendongakkan kepalanya saat melihat kedatangan nenek beserta Revina dan Bian. Beliau mengernyitkan keningnya saat melihat nenek menarik lengan Revina. Kakek bahkan mengabaikan Bian yang berada di belakang nenek.


"Siapa, Bu?" Tanya kakek.


Revina sedikit terkejut mendengar jawaban nenek. Namun, dia berusaha menjaga ekspresinya agar terlihat biasa saja. Revina segera mendekat ke arah kakek dan memberikan salam kepada beliau.


"Saya Revina, Kek." Kata Revina setelah melepaskan tangan kakek.


Kakek mengangguk-anggukkan kepalanya mengamati Revina. Beliau masih belum menatap ke arah Bian. Bian yang merasa diabaikan hanya bisa mendesahkan napasnya dengan kasar.


"Kamu masih kuliah?" Tanya Kakek kepada Revina.


"Saya sudah lulus kuliah, Kek. Sekarang sudah bekerja." Jawab Revina.


Kakek dan nenek Bian mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah itu, kakek baru menolehkan kepalanya untuk menatao wajah sang cucu. Bian yang diperhatikan oleh kakek langsung menundukkan kepalanya.


"Kenapa berdiri di sana. Sudah lama tidak pulang, tahu-tahu bikin masalah. Sini!" Kata kakek meminta Bian mendekat ke arahnya.


Bian memberanikan diri mendongakkan kepalanya untuk menatap sang kakek. Dia berjalan mendekat ke arah kakek. Tanpa diduga, kakek merentangkan kedua tangannya agar Bian bisa memeluknya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Bian langsung memeluk sang kakek.


"Maafkan Bian, Kek. Maafkan semua kesalahan Bian. Maaf juga Bian sudah lama tidak mengunjungi kakek dan nenek." Kata Bian.


"Dasar anak nakal. Bisa-bisanya membuat orang jantungan." Kata kakek sambil menepuk-nepuk punggung Bian.


"Maafkan Bian, Kek."


"Jangan membuat masalah lagi. Segera nikahi dia." Kata kakek setelah melepaskan pelukan Bian.


"Hhaah? Maksudnya?" Bian mengernyitkan keningnya setelah mendengar perkataan kakek.


"Revina. Segera nikahi dia."


"Aseekkk,"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Mumpung libur, kasih boom vote, like dan komen buat othor dong, biar semangat upnya.