
Miss Dena benar-benar kesal dengan tingkah sang mahasiswa. Dia menatap tajam ke arah Rean. Tatapan tajam Miss Dena benar-benar membuat suasana kelas menjadi hening. Tidak ada yang berani lagi untuk bergurau, atau bahkan hanya berbisik-bisik.
"Jika kalian masih ada yang mau bercanda, silahkan keluar dari kelas saya," ucap Miss Dena sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian kelas.
Hampir semua mahasiswa terlihat menundukkan kepala. Namun, hal berbeda tidak dilakukan oleh Rean. Dia masih terlihat mencuri-curi pandang ke arah sang dosen.
Hingga beberapa saat kemudian, perkuliahan kembali dilanjutkan. Hari itu, entah apa materi kuliah yang disampaikan oleh Miss Dena, namun Rean sama sekali tidak berkonsentrasi di sana. Rean justru sibuk mencuri-curi pandang pada wajah dosen yang sudah mencuri hatinya tersebut.
Perkuliahan tersebut akhirnya berakhir. Rean hanya bisa menatap langkah kaki Miss Dena saat hendak keluar dari ruang kelasnya. Namun, ketika hendak mencapai pintu, Miss Dena menoleh ke arah Rean sekilas. Kedua pasang mata mereka bertemu.
Wuah, jangan ditanyakan bagaimana rasanya Rean. Jantungnya sudah berisik hebat hanya karena mendapati tatapan sekilas dari dosen yang sudah berhasil mengusik hatinya tersebut.
Hingga perkuliahan hari itu selesai, Rean dan Dandi terlihat berjalan beriringan menuju tempat parkir.
"Langsung balik, lo?" tanya Dandi.
"Enggak, mampir ke tempat kakak ipar gue dulu."
"Kafe?"
"Tempat futsal."
Dandi mengangguk-anggukkan kepala. Dia melanjutkan aktivitasnya memasang helm. Setelah itu, dia segera beranjak lebih dulu karena mendapati Rean tengah berbalas pesan.
Ke kantor Papa sebentar, Re. Tulis sebuah pesan dari papa Bian.
Rean menghembuskan napas berat sebelum membalas pesan dari sang papa. Dia juga mengirimkan pesan kepada Cello, sang kakak ipar, untuk membatalkan rencana mereka hari itu karena dia harus ke kantor papa Bian.
Setelah memastikan semua pesannya terkirim, Bian langsung mengemudikan sepeda motornya menuju kantor papa Bian. Beruntung jarak kampus Rean dengan kantor papa Bian tidak terlalu jauh. Rean hanya membutuhkan waktu sekitar empat puluh menit untuk sampai kantor papa Bian.
Begitu sampai, Rean langsung memarkirkan sepeda motornya dan beranjak menuju ruangan sang papa. Rean sudah beberapa kali datang kesana, jadi dia sudah lumayan hafal dengan letak ruangan papa Bian.
Begitu keluar dari lift, Rean langsung bertemu dengan sang papa yang tengah berjalan dengan Pak Kaero, sang atasan.
"Lho, Rean?" sapa Kaero.
"Iya, Pak." Rean mengangguk dan mengulurkan tangannya kepada atasan sang papa tersebut.
"Kamu sudah mulai kuliah, Re?"
"Sudah, Pak. Ini baru pulang dari kampus." Rean masih mengulas senyumannya.
"Hehehe, begitulah, Pak." Papa Bian menanggapi perkataan Kaero.
"Kenapa kedua putraku tidak ada yang mau kuliah di Indonesia ya," gumam Kaero.
"Nanti, mungkin putranya Mas Sean mau kuliah di sini, Pak."
"Cckk, itu masih lama, Yan. Lihat saja umurnya masih berapa sekarang."
Rean hanya bisa mengulas senyumannya mendengar obrolan papa dan atasannya tersebut. Setelah itu, papa Bian meminta Rean untuk menunggu di ruangannya. Papa Bian ingin membicarakan sesuatu dengan Kaero.
Tak berapa lama kemudian, papa Bian terlibat memasuki ruangannya. Dia membawa beberapa berkas pekerjaan di tangannya.
"Ada apa memintaku darang kesini, Pa? Kenapa tidak di rumah saja?"
"Kalau di rumah ada Mama kamu. Papa nggak bisa ngomong."
Rean mencebikkan bibirnya. Dia sudah bisa menebak maksud sang papa memintanya datang ke kantor. Dan, benar saja. Papa Bian terlihat membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah kunci. Begitu melihatnya, Rean sudah bisa menebak kunci apa itu. Ya, itu adalah sebuah kunci mobil untuknya.
"Buatku, Pa?" tanya Rean setelah menerima kunci tersebut dari sang papa.
"Ck, memangnya buat siapa lagi?"
Rean mengamati sebentar kunci mobil tersebut. Dia menatap ke arah sang papa dengan kening berkerut.
"Ini, jadi dimodif, Pa?"
"Tentu saja. Buat apa Papa susah-susah memesan lama jika tidak di modif sekalian."
"Lalu, bagaimana jika Mama tau, Pa?"
"Mama kamu tidak akan tahu jika kamu tidak memberitahunya."
"Aku nggak mau kena amukan Mama jika sampai dia tahu nanti, Pa."
"Tenang saja. Papa punya senjata ampuh untuk menaklukkan Mama kamu. Hehehe."
\=\=\=
Janga lupa tinggalkan jejak buat othor ya. Terima kasih.