
Revina benar-benar menuruti perintah Keyya untuk sarapan pagi itu. Keyya dengan sabar menunggu Revina menyelesaikan sarapannya. Sesekali mereka mengobrol tentang kehidupannya. Setelah selesai, Revina membereskan sarapannya. Dia menolak bantuan Keyya yang ingin membantu membereskan sarapan tersebut.
Setelah selesai membereskan sarapannya, Revina dan Keyya berjalan menuju ruang tengah villa tersebut. Mereka ingin mengobrol sambil menonton drakor favorit mereka. Beruntung mereka mempunyai hobi yang sama.
Namun sebelum memulai untuk menonton drakor, Keyya menelepon putranya, Sean terlebih dahulu. Dia mengobrol sebentar dengan sang pura melalui panggilan video. Keyya hanya bisa menggerutu saat sang putra benar-benar mengabaikannya. Sean terlihat bersemangat saat berdiri di tepi sungai kecil yang berada di tepi sawah. Sepertinya, orang tua Keyya mengajak Sean untuk jalan-jalan. Mendapati sang putra yang tidak meresponnya, Keyya menutup panggilan video tersebut.
Revina yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum. Dia berharap suatu saat juga bisa memiliki momongan. Setelahnya, mereka menonton drakor sambil bercerita.
"Jadi, Sean itu bukan putra kandung anda, Bu?" Tanya Revina. Sebenarnya, Keyya melarang Revina untuk bersikap formal kepadanya. Namun, Revina menolak melakukannya.
"Iya. Sean adalah putra angkat kami. Karena Sean juga aku dan mas Kaero bisa menikah." Jawab Keyya sambil mengulas senyumannya. Revina bisa melihat jika tidak ada rasa penyesalan pada wajah istri atasannya tersebut.
Revina hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan Keyya. Setelahnya, giliran Revina juga menceritakan awal mula pernikahannya dengan Bian. Keyya cukup terkejut mendengar penjelasan Revina.
"Eh, maksud kamu Nova adik ipar kakanya Bian?" Tanya Keyya. Pasalnya, Keyya memang mengetahui cerita Bian yang sering diganggu oleh Nova dari Kaero, sang suami.
"Iya. Bu Keyya juga sudah mengetahui ceritanya?"
"Iya. Mas Kaero sudah pernah menceritakan tentang hal itu. Lalu, apa yang terjadi dengan Nova? Apa dia masih mengganggu Bian?" Tanya Keyya penasaran.
Revina menghembuskan napas beratnya sebelum menjawab pertanyaan Keyya.
"Kemarin, Nova masih mencoba menghubungi mas Bian, Bu. Dia menghubungi mas Bian menggunakan nomor bu Halimah. Mas Bian memang tidak memblokir nomor bu Halimah. Dia ingin selalu mengetahui perkembangan Juna." Jelas Revina.
Keyya yang mendengar hal itu hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia bisa mengerti posisi Bian.
"Kita tidak akan bisa mengontrol orang lain untuk tidak menggoda suami kita, Rev. Yang bisa kita lakukan adalah menjaga suami kita. Buat dia hanya merasa candu kepada kita. Jadilah sahabat tempat untuk suami kita bercerita. Jadilah rumah tempat suami kita selalu ingat untuk pulang. Bahkan, jadilah p*****r untuk suami kita sehingga dia tidak akan sempat untuk melirik wanita lain di luar sana."
"Kita tidak bisa mengawasi aktivitas suami dua puluh empat jam penuh. Kita juga tidak bisa mengekang aktivitasnya. Hal yang bisa kita lakukan adalah memberikan kepercayaan kepada suami kita. Sebisa mungkin, kita selalu berkomunikasi dan saling terbuka. Biasakan untuk memupuk komunikasi sebaik mungkin. Dan satu lagi, jangan menyamakan kehidupan rumah tangga kita dengan orang lain. Pasangan kita, adalah rezeki kita. Syukuri dan jaga sebaik mungkin."
Revina hanya bisa mengangguk anggukkan kepalanya setelah mendengar nasehat Keyya. Dia menjadi semakin kagum dengan istri atasannya tersebut.
Keyya tersenyum setelah mendengar pertanyaan Revina. Dia memutar tubuhnya hingga kini menghadap Revina sepenuhnya.
"Tentu saja aku punya cara yang membuat mas Kaero bertekuk lutut kepadaku. Mau tahu rahasianya?" Tanya Keyya sambil mengedipkan kedua matanya seperti sein sepeda motor.
"A-apa itu berkaitan dengan ranjang?" Tanya Revina penasaran.
"Sebagian besar iya." Jawab Keyya sambil tersenyum lebar.
"Aku mauuuuu."
"Eh,"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Siapa lagi yang mau nih?
Dah dulu ya, othor benar-benar butuh istirahat ini.