
Kenzo tidak mempedulikan panggilan sang mama untuk menghentikan langkahnya. Kenzo tetap membawa Vanya pergi dari sana dan berjalan menuju balkon lantai dua rumah tersebut.
"Kita harus menikah," kata Kenzo setelah sampai dan melepaskan tarikan tangannya.
"Menikah?!" Tanya Vanya sedikit berteriak. Dia benar-benar sudah habis kesabaran. Sedari tadi orang-orang asing ini membicarakan pernikahan, memang siapa yang mau menikah, batinnya.
Kenzo yang masih memandangi wajah Vanya pun mengangguk. "Iya, kita harus segera menikah," jawabnya.
Vanya yang mendengar jawaban Kenzo mendengus kesal. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan orang-orang asing yang baru saja dia temui.
"Jangan seenaknya ya Om ngomongin pernikahan. Memangnya siapa juga yang mau menikah denganmu Om, kita saja tidak saling kenal," ketus Vanya.
Mendengar Vanya memanggil dirinya dengan sebutan om, rahang Kenzo langsung mengeras. Dia benar-benar geram. Usianya memang sudah memasuki dua puluh sembilan tahun. Tapi dia tidak merasa setua itu. Bahkan, beberapa temannya mengatakan dirinya terlihat seperti berusia dua puluh empat atau dua puluh lima tahun. Kenzo benar-benar merasa geram.
"Kenalkan, aku Kenzo. Kenzo Julian," katanya sambil mengulurkan tangan.
Vanya yang melihat uluran tangan Kenzo tidak serta merta menyambutnya. Dia memandang tangan Kenzo sebentar sebelum mengulurkan tangan untuk menyambut uluran tangan Kenzo.
"Vanya, Zivanya Anindita," jawab Vanya.
Setelahnya, mereka saling melepaskan tautan tangan mereka.
"Sekarang kita saling kenal. Jadi, kita bisa menikah kan?" Tanya Kenzo dengan tatapan mata yang mengintimidasi.
Vanya mendecih kesal. "Ccckkk. Enak saja Om bilang pernikahan. Pernikahan itu tidak seperti membeli baju, sekali lihat langsung gaskeun," dengus Vanya.
Kenzo menyugar rambutnya kebelakang. Dia benar-benar frustasi saat ini. Jika dia tidak segera memberikan pengumuman tentang pernikahannya, bisa dipastikan perusahaannya yang sudah dirintisnya mulai dari nol, akan serahkan kepada sang papa. Itu adalah sebuah kesepakatan yang memang sudah disetujuinya bersama dengan orang tuanya sejak beberapa bulan yang lalu. Dan, batas akhirnya adalah ulang tahunnya yang kedua puluh sembilan tahun kali ini.
Kenzo benar-benar tidak habis pikir. Kenapa orang tuanya selalu memaksanya untuk segera menikah. Jika dia tidak mengumumkan pernikahannya kali ini, mau tidak mau dia harus menerima perjodohan dengan anak salah satu teman papanya.
"Bukan begitu," kata Kenzo sambil memutar badannya menghadap Vanya. "Aku benar-benar butuh bantuanmu kali ini, jika aku tidak mengumumkan pernikahan kali ini, aku harus merelakan perusahaanku di ambil alih," lanjut Kenzo.
Vanya mengerutkan keningnya. "Lantas, apa hubungannya denganku?, Aku tidak ada hubungannya dengan perusahaan Om," jawab Vanya. "Lagi pula, aku juga belum berminat untuk menikah di usia muda. Dan, kalaupun menikah, aku juga pikir-pikir kali jika harus menikah dengan Om-Om," lanjutnya.
Kenzo membulatkan matanya. Dia sudah benar-benar kesal mendengar Vanya selalu memanggilnya dengan sebutan Om.
"Aku belum setua itu!" Kata Kenzo. "Jangan memanggilku dengan sebutan Om," lanjutnya
"Cckkkk, umur Om dua puluh sembilan tahun kan, berarti selisih sepuluh tahun denganku. Sudah seharusnya aku memanggil dengan sebutan Om," kilah Vanya.
Kenzo memutar bola matanya jengah. Dia harus menurunkan egonya jika ingin meminta bantuan gadis di depannya kali ini. Kenzo melayangkan tatapan memohon kepada Vanya.
"Aku butuh bantuanmu kali ini, aku mohon kamu mau berpura-pura menjadi calon istriku," kata Kenzo memohon.
Vanya menyipitkan mata memandang Kenzo penuh selidik. "Kenapa aku harus membantu Om?" Tanyanya kemudian.
Kenzo menatap manik mata Vanya. "Karena kita sebagai sesama manusia harus saling membantu kan. Aku akan melakukan apapun yang kamu mau, jika kamu mau membantuku kali ini" jawabnya. "Lagi pula, mama sudah melihat apa yang kita lakukan di dalam kamar tadi. Jangan harap kamu bisa lolos darinya setelah ini," lanjut Kenzo.
Vanya membuka matanya dengan lebar. "Kita tidak melakukan apapun tadi, itu adalah sebuah kecelakaan," elaknya.
Kenzo merasa sedikit punya harapan. "Iya, dan hanya kita yang tahu akan hal itu, tidak dengan mama. Mama bisa saja menyebarkan hal itu ke media. Kamu tahu keluarga Abram kan, hampir setiap bulan ada saja berita yang selalu memenuhi majalah bisnis. Dan, untuk menyebarkan berita seperti itu akan sangat mudah sekali bagi mama," kata Kenzo. Dia sudah mulai menemukan cara untuk menakut-nakuti Vanya agar mau membantunya. Dan benar saja, Vanya terlihat sedang berpikir keras.
"Apa maksudnya itu?, Bagaimana mungkin berita seperti itu bisa masuk majalah. Tidak ada buktinya," elak Vanya.
Kenzo tersenyum smirk sebelum menjawab. "Tentu saja hal itu tidak akan menjadi masalah bagi mama, dia punya banyak koneksi yang bisa membuat berita seolah-olah terjadi. Dan, aku tidak yakin kamu tidak akan hidup tenang setelahnya. Akan banyak reporter yang akan mengejarmu," jawab Kenzo masih dengan senyuman smirknya.
"Kau ini sungguh menyebalkan sekali Om," sungut Vanya. "Apa yang akan terjadi jika aku menerima tawaran Om?" Lanjutnya.
Kenzo tersenyum senang sebelum menjawab. "Akan aku pastikan hidupmu tidak akan diganggu oleh para pencari berita itu. Apa kamu masih kuliah?" Tanyanya.
"Iya, aku masih semester tiga" jawab Vanya.
"Aku akan menjamin semua biaya kuliahmu sampai lulus. Aku juga akan membiayai kehidupanmu. Kamu bekerja di toko kue kan, jadi kamu bisa berhenti bekerja di sana karena semua biaya kehidupanmu akan aku tanggung. Asalkan, kamu mau membantuku" kata Kenzo.
Vanya mengerucutkan bibirnya. "Enak saja Om ngomong seperti itu, bisa-bisa aku akan kecolongan nanti,"
"Tenang saja, aku tidak tertarik denganmu," kata Kenzo meyakinkan Vanya.
"Apa Om seorang g ga…" Vanya terbata-bata mengucapkannya sambil membulatkan matanya.
"Bukan!" Sergah Kenzo dengan cepat. "Aku normal. Aku laki-laki normal. Cuma saat ini aku belum bisa menemukan wanita yang bisa membuatku tertarik," lanjutnya.
Vanya mengubah ekspresi wajahnya yang semula merasa risih menjadi sedikit lega. Setelah beberapa saat, Vanya akhirnya bersedia membantu Kenzo untuk menjadi pasangan pura-puranya. Kenzo merasa lega. Dia mengulas senyumnya dengan lebar sambil menarik lengan Vanya menuju tempat berlangsungnya acara.
Acara ulang tahun Kenzo berlangsung cukup meriah. Acara saat itu juga merupakan acara perkenalan hotel terbaru Kenzo yang ada di Lombok. Di sepanjang acara berlangsung, Kenzo benar-benar tidak melepaskan tangan Vanya dari gengamannya. Dia benar-benar ingin membuktikan kepada kedua orang tuanya jika Vanya adalah kekasihnya.
Mama Kenzo yang sedari tadi memperhatikan tingkah putra sulungnya merasa sangat gemas. Dia berjalan mendekati sang putra dan membisikkan sesuatu. Seketika tubuh Kenzo menjingkat terkejut.
"Apa?!, Aku harus melamar Vanya?!" Tanya Kenzo kepada sang mama.
"Tentu saja. Sekarang adalah waktu yang sangat tepat untuk melakukannya kan, mama dan papa tidak mau tertipu lagi. Saat ini juga kamu harus melamar Vanya di depan semua orang,"
Kenzo merasa sangat frustasi menghadapi sang mama. Dia merasa sangat heran dengan papanya yang bisa bertahan dengan sifat mamanya yang seperti ini.
"Aku belum mempersiapkan semuanya Ma. Lagipula aku juga belum mempersiapkan cincinnya. Ndak lucu kan, jika acara lamaran tanpa cincin," jawab Kenzo dengan sedikit senyum.
"Tidak masalah. Mama sudah mempersiapkan semuanya. Tuh, lihat. Adik kamu sudah membawa buket bunga dan cincinnya. Ayo, tunggu apa lagi. Cepat lakukan," desak sang mama.
"Hhhhaaaaa,"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon dukungannya ya man teman,
Jangan lupa like, vote dan comment nya
Thank you