
Nama : Reyhan Aditama
Pekerjaan : sekretaris sekaligus asisten Kenzo Julian
Hobi : tidur, makan, main game online jika punya waktu luang
Sifat : pekerja keras, penurut, pendiam
Nama : Fida Alvi Anggita
Pekerjaan : mahasiswi semester tiga
Hobi : tidur, makan, nonton drakor
Sifat : ceria, suka ceplas-ceplos kalau ngomong, gampang baper.
Setelah makan siang, Fida ikut Vanya ke rumahnya. Dia sangat penasaran dengan maksud Vanya yang akan membantu menggagalkan perjodohannya.
Sementara di kantor Kenzo, dia masih berada di ruang meeting bersama Reyhan. Meskipun meeting sudah selesai sekitar dua puluh menit yang lalu, Kenzo masih terlihat enggan beranjak dari tempat duduknya. Reyhan mau tidak mau menemani sang atasan berada di sana.
"Rey, kamu merasa aneh nggak dengan asisten pak Bisma tadi?" Tanya Kenzo sambil memainkan pulpen dengan jari-jarinya.
Reyhan menoleh menatap wajah sang atasan sambil mengerutkan keningnya. Dia juga sedikit merasa aneh.
"Iya Tuan. Saya juga merasakan hal yang sama. Dari sejak awal dia masuk ke ruangan ini, dia selalu menatap Tuan dengan tatapan aneh. Apa Tuan sebelumnya pernah bertemu dengannya?" Tanya Reyhan.
Kenzo menoleh menatap wajah Reyhan dan menggelengkan kepalanya. Dia juga merasa belum pernah bertemu dengan laki-laki itu sebelumnya. Namun, entah mengapa dirinya merasa jika laki-laki itu mengenalnya. Dari tatapan matanya saja, Kenzo bisa melihat sorot mata tidak suka.
"Aku merasa belum pernah bertemu dengannya. Tapi aku tidak bisa menjamin hal itu. Jika dilihat dari tatapan matanya, sepertinya dia tidak suka denganku." Jawab Kenzo.
Reyhan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia pun juga merasakan hal yang sama.
"Benar. Jika dilihat dari ekspresi wajahnya tadi, dia seperti tidak suka dengan anda." Kata Reyhan.
Kenzo mengangguk-anggukkan kepalanya setuju dengan perkataan Reyhan.
"Tadi siapa nama laki-laki itu?" Tanya Kenzo. "Mungkin aku bisa mengingat jika aku mengetahui namanya." Lanjutnya lagi.
"Seingat saya namanya Rasha. Tapi sebentar akan saya carikan kartu namanya." Kata Reyhan sambil mencari kartu nama laki-laki tadi. "Ini dia. Ya, benar. Namanya Rasha Prima Andika. Tuan mengenal nama itu?" Tanya Reyhan.
"Tidak. Aku tidak mengenal nama itu." Jawab Kenzo.
Entah mengapa Kenzo masih merasa ada sesuatu yang janggal saat itu. Namun, dia tetap belum menemukan alasannya.
"Ya sudah, biarkan saja. Jika dia macam-macam, aku akan membereskannya nanti." Kata Kenzo sambil berdiri.
Reyhan juga segera membereskan peralatannya dan beranjak mengikuti Kenzo. Kenzo segera kembali ke ruangannya, sementara Reyhan juga melakukan hal yang sama.
Kenzo melihat ponselnya yang sudah ada pemberitahuan pesan singkat dari Vanya. Dia segera membuka ponselnya untuk memeriksa pesan singkat dari sang istri.
13.46 ~ Mas, nanti ajak Reyhan makan malam di rumah ya, ada Fida.
13.54 ~ Malam ini, bolehkan Fida menginap di rumah kita? Kasihan orang tuanya tidak ada di rumah. Dia sendirian Mas.
14.21 ~ Masih meeting ya, kok belum dibalas sih 😪
Kenzo langsung membulatkan matanya saat melihat pesan Vanya yang berisi meminta ijin agar Fida bisa menginap di rumah mereka. Dia mendengus kesal. Bisa-bisa dia akan menderita karena tidur sendiri tidak mendapatkan kehangatan. Kenzo buru-buru menelepon Vanya.
Tuuut tuuuttt tuuuut.
Pada dering ketiga panggilan telepon tersebut di angkat oleh Vanya.
"Hallo Mas, sudah selesai meetingnya?" Tanya Vanya di seberang sana.
"Iya. Apa maksudnya itu Fida akan menginap di rumah. Tidak boleh!" Kata Kenzo.
Dia sudah sangat hafal dengan tingkah para perempuan itu. Sudah lima kali Fida menginap di rumahnya. Dan, sebanyak itu pula Kenzo harus tidur sendiri karena Vanya lebih memilih tidur bersama Fida sambil mengobrol banyak hal hingga larut malam. Alhasil, Kenzo harus pasrah tidur sendiri, dan itupun bisa lebih dari satu hari. Jika kali ini dia membiarkan Fida menginap di rumahnya, bisa dipastikan dia tidak akan mendapatkan jatah olahraga malamnya. Kenzo tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Kenapa tidak boleh?" Tanya Vanya.
"Tentu saja tidak boleh. Jika Fida tidur di rumah kita, kamu pasti akan lebih memilih tidur bersama Fida karena ingin mengobrol sampai larut malam. Aku tidak mau tidur sendiri!" Kata Kenzo.
"Ya itu beda. Dulu kan belum merasakan enaknya buah melon dan kawan-kawannya. Sekarang, aku nggak mau melewatkan hal itu setiap malam." Jawab Kenzo.
Vanya terdengar mendengus kesal di seberang sana. Jika sudah seperti itu, bisa dipastikan Kenzo tidak akan bisa didebat lagi. Mau tidak mau Vanya lah yang harus mengalah.
"Baiklah, baiklah. Nanti aku akan tidur di kamar kita. Tapi izinkan Fida menginap di sini ya Mas. Aku tidak tega membiarkan dia tidur sendiri di rumahnya." Rajuk Vanya.
Kenzo mendengus kesal mendengar rajukan Vanya. Dia benar-benar tidak habis pikir bagaimana sang istri bisa bersuara seperti itu saat sedang merajuk. Membuatnya ingin segera menerkamnya saja.
"Kamu janji?" Tanya Kenzo memastikan.
"Iya, iya. Aku janji nanti akan tidur di kamar kita." Kata Vanya.
"Baiklah. Aku akan mengijinkan Fida menginap. Aku pegang janji kamu." Kata Kenzo.
"Terima kasih Mas. Jangan lupa ajak Reyhan sekalian untuk makan malam di rumah. Aku sedang memasak makan malam bersama Fida sekarang." Kata Vanya dengan antusias.
"Hhhmmm."
"Kok cuma ham hem ham hem saja sih Mas." Gerutu Vanya.
"Iya, aku akan mengajak Reyhan sekalian nanti." Jawab Kenzo tidak ingin mendebat sang istri.
Vanya terdengar senang sekali. Setelahnya, mereka segera mengakhiri panggilan telepon tersebut. Saat itu, bersamaan dengan datangnya Reyhan ke ruangan Kenzo dengan membawa beberapa berkas yang harus di oeriksa dan ditandatangani oleh Kenzo. Reyhan bahkan sempat mendengar namanya dibawa-bawa sang atasan dalam teleponnya.
"Ada apa Tuan? Kenapa nama saya di bawa-bawa?" Tanya Reyhan sambil meletakkan berkas-berkas yang dibawanya dihadapan Kenzo.
Kenzo mendongakkan kepalanya menatap wajah Reyhan sekilas sebelum kemudian memeriksa berkas-berkas yang berada di hadapannya.
"Vanya memintaku untuk mengajak kamu makan malam di rumah nanti malam." Jawab Kenzo.
"Benarkah?" Jawab Kenzo dengan antusias.
Kenzo kembali melirik wajah Reyhan dan terlihat tidak suka melihat ekspresinya. Reyhan yang menyadari hal itu segera mengubah ekspresi wajahnya.
"Ada Fida di rumah." Kata Kenzo tiba-tiba.
"Fida? Temannya nona Vanya?" Tanya Reyhan sedikit terkejut.
"Hhhmmm, kenapa? Bukannya kamu sering memperhatikannya?" Tany Kenzo.
Ya, beberapa kali Kenzo pernah memergoki Reyhan tengah memperhatikan Fida. Hal itu yang membuatnya menyetujui rencana sang istri saat ingin menjodohkan Fida dengan Reyhan.
"Ma-maksud Tuan apa?" Tanya Reyhan pura-pura tidak mengerti.
Kenzo menghembuskan napas beratnya. Dia tahu jika Reyhan sedang mengelaknya.
"Aku tahu kamu diam-diam memperhatikan Fida Rey. Jika memang kamu serius dengan hal itu, ini kesempatan terakhirmu." Kata Kenzo.
"A-apa maksud anda Tuan?" Tanya Reyhan salah tingkah. Dia benar-benar tidak habis pikir jika sang atasan mengetahui gelagatnya.
"Fida dijodohkan, dan dia akan segera menikah." Jawab Kenzo memanas-manasi Reyhan.
"Apaa?!"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Hhmmm gimana ya kira-kira. Fida mau nggak dijodohkan dengan Reyhan? 🤔
Mohon dukungannya ya, like, komen dan vote.
Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, bisa follow ig othor @keenandra_winda
Thank you