
Setelah makan siang, Kinan mencoba untuk mencari-cari cara terbaik untuk mengajak suaminya mencoba pengalaman baru. Maklum keduanya masih sama-sama pemula. Ya, meskipun mereka tidak memungkiri jika sudah pernah melihat video pemersatu bangsa.
Namun, saat Kinan hendak mencari beberapa artikel pada pencarian di laman pencarian internetnya, tiba-tiba ada panggilan masuk dari sang mertua. Kinan buru-buru menggeser ikon berwarna hijau tersebut untuk menyambungkan panggilan.
"Hallo, assalamualaikum, Ma." Sapa Kinan begitu panggilan telepon terhubung.
"Waalaikumsalam, Sayang. Bagaimana kabar kalian?"
"Alhamdulillah baik, Ma. Mama dan Papa apa kabar?"
"Kami baik, Nak. Ini kami baru saja sampai di apartemen. Ehm, ngomong-ngomong kalian masih tinggal di rumah kamu?"
"Eh, iya, Ma. Apartemen Mas Ian belum selesai di renovasi."
Terdengar helaan napas berat dari seberang sana. Dan, tentu saja hal itu membuat Kinan penasaran.
"Ada apa, Ma? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Kinan penasaran.
"Nggak ada, Sayang. Sebenarnya, kami sudah menawarkan Adrian untuk tinggal di rumah yang ada di kompleks X. Tapi, Adrian tidak mau. Dia bilang jika rumah itu terlalu besar untuk kalian. Mama dan Papa sudah sering kali menasehati Adrian. Namun, dia selalu menolak hal itu dengan alasan yang sama.
Kinan cukup terkejut mendengar ucapan mama Adrian. Pasalnya, Adrian sama sekali tidak pernah membicarakan rumah yang dimaksud oleh mamanya itu. Entah apa alasannya mengapa Adrian merahasiakannya. Yang jelas, Kinan tidak akan menanyakan hal itu sampai Adrian sendiri yang bercerita lebih dulu.
Kinan tidak mau jika Adrian beranggapan jika dirinya menginginkan rumah yang besar untuk tempat tinggalnya. Padahal, Kinan mau tinggal dimana saja asalkan dengan suaminya tersebut.
"Ehm, kalau untuk itu, Mas Ian sama sekali tidak pernah membicarakannya, Ma," ucap Kinan.
"Iya, Ma. Bisa jadi."
"Tapi, kamu tidak usah khawatir. Cepat atau lambat, Mama yakin Adrian mau menempati rumah tersebut. Apalagi, jika kalian sudah mempunyai anak nanti. Kalian pasti akan membutuhkan tempat yang luas untuk anak-anak kalian bermain. Rumah itu, mempunyai halaman dan tempat bermain yang cukup luas. Mama yakin, Adrian pasti akan dengan senang hati mengajak kalian pindah ke sana."
Kinan bisa merasakan suara penuh harap mama Adrian saat membicarakan tentang hal anak. Sepertinya, mama Adrian benar-benar mengharapkan hadirnya seorang cucu dari putra semata wayangnya tersebut.
Baiklah, aku akan berusaha untuk mewujudkannya, Ma. Doakan aku berhasil dan bisa segera memberikan cucu untuk kalian, batin Kinan dalam hati.
Setelahnya, obrolan ringan antara mertua dan menantu masih terus berlanjut. Hingga sekitar lima belas menit kemudian, panggilan telepon tersebut berakhir. Setelahnya, Kinan segera melanjutkan niatnya untuk mencari referensi dari beberapa artikel.
Hingga sekitar satu jam kemudian, Kinan merasa kesal karena tidak mendapatkan informasi apapun seperti yang diinginkannya. Kinan mulai memutar otak untuk melancarkan aksinya nanti malam.
"Ehm, apa iya aku harus memberi obat perangsaang seperti yang ada di cerita-cerita novel itu?" gumam Kinan saat sudah mulai frustasi.
Namun, beberapa saat setelahnya, Kinan menggeleng-gelengkan kepala karena tidak menyukai pemikiran seperti itu.
"Tidak. Jika pakai yang begituan, rasanya tidak alami. Tidak natural. Aku kan mau melihat seberapa ganasnya Mas Ian tanpa bantuan obat-obatan. Hhmmm, apa aku pakai pancingan alami saja, ya?" Kinan mulai menemukan beberapa ide di kepalanya.
•••
Pancingannya sebesar apa jika ikannya Adrian? 🤔