The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 32



Dena yang membaca balasan Rean seketika langsung menggigit gemas case ponselnya hingga retak. Dia tidak sampai hati menggigit ponselnya yang tidak bersalah tersebut.


Dena langsung mengatur napasnya yang mendadak ngos-ngosan padahal hanya sedang membuka aplikasi perpesanan dan berbalas pesan dengan beberapa teman sejawatnya.


"Kenapa ada orang seperti Rean begini, sih? Mana aku akan menikah dengannya lagi! Sial." Dena memukul-mukul bantal yang ada di pangkuannya. Dia benar-benar kesal dengan tingkah Rean. Meskipun begitu, dia tetap berusaha untuk bersikap baik kepadanya.


Panggil Dena saja. ~ tulis Dena pada pesan balasannya.


Rean yang membaca pesan balasan dari Dena pun mengernyitkan keningnya. Dia merasa tidak nyaman saat hanya memanggil dengan menggunakan nama. Rean buru-buru mengetikkan pesan balasan untuk Dena.


Ckckck, mana bisa hanya panggil nama. Aku nggak mau, terasa tidak sopan sekali. ~ balas Rean.


Tak perlu menunggu lebih lama lagi, Dena terlihat sedang mengetik.


Terserah mau panggil apa saja. ~ tulis Dena.


Rean tampak berpikir. Dia mengusap-usap dagunya dengan jari. Setelah beberapa saat kemudian, Rean mengetikkan pesan balasan kembali.


Bagaimana jika panggil mama dan papa, untuk membiasakan diri jika nanti kita mempunyai anak. ~ tulis Rean. Dia memang sengaja melakukannya untuk melihat reaksi Dena.


Dena langsung membulatkan kedua matanya saat. Apa-apaan mama dan papa? Dia kira apa yang akan kita lakukan setelah menikah nanti? Batin Dena sambil mendengus kesal. 


Jangan suka berkhayal. ~ tulis Dena.


Rean yang membacanya menjadi semakin bersemangat untuk membalas pesan tersebut.


Aku nggak berkhayal. Itu memang kenyataan. Jika dua orang menikah, apalagi yang diharapkan selain memiliki keturunan, Miss? Meskipun tidak sekarang, tapi setidaknya, kita bisa pemanasan dulu. Ya, kenalan dulu lah. Atau mungkin bisa saling senggol. Hehehe. ~ tulis Rean.


Sementara di tempat lain, Rean terlihat sangat kesal. Dia yang sedari tadi melihat ponselnya, namun tidak mendapati pesan dari Dena. Rean segera meletakkan ponselnya di atas nakas dengan kasar. Setelah itu, dia langsung merebahkan diri dan memejamkan mata.


Keesokan hari, Rean masih menjaga Drew dan Dryn, karena sang kakak belum pulang. Cello juga sedang mencuci mobil sebelum pulang.


"Kak, ini gimana nyusuinnya jika mereka haus bersamaan?" tanya Rean saat sang kakak mulai memberikan sarapan asi untuk Dryn.


"Ya gantian, Re. Jika mereka nangis barengan, ya yang satu pakai botol dulu."


Rean tampak mengangguk-anggukkan kepala. "Apa kak Cello nggak pernah gangguin, Kak?"


Seketika Shanum menoleh ke arah sang adik. "Mengganggu? Mengganggu apa maksudnya?"


"Ya, itu. Drew dan Dryn kan selalu menyabotase melon Kakak. Memang kak Cello nggak sering protes?"


Shanum mencebikkan bibirnya setelah mendengar perkataan Rean. "Bukan hanya protes, tapi dia rewel sekali. Aku merasa jadi punya tiga orang anak yang harus disusui. Hhhh," Shanum mendesahkan napas ke udara.


Rean hanya terkekeh geli mendengar perkataan sang kakak. Namun, belum sempat Rean menjawab perkataan Shanum, Cello yang sudah selesai mencuci mobil pun ikut bersuara.


"Jangan salah, Re. Suatu saat kamu juga pasti akan merasakannya. Jika kamu melihat Dena lebih sering memperhatikan anak-anak kamu nanti, lama-lama kamu juga pasti merasakan apa yang aku rasakan," kata Cello sambil terkekeh geli.


Kali ini, Shanum yang menimpali perkataan Cello. "Kalau kamu itu sudah akut, Mas. Lihat anak sendiri lagi nyusu saja sudah gelisah, melihat anak dimandikan juga jadi ikutan. Sekalian saja lihat anak sedang di pakein popok kamu juga ikutan."


"Eh, nggak melembung itu nanti, Yang?"


"Bodo amat!"