
Setelah sarapan, Rean segera berangkat ke distro. Dia cukup tenang saat meninggalkan Dena dengan ditemani oleh asisten rumah tangga. Hari ini, Rean cukup sibuk dengan urusan di distro miliknya.
Menjelang pukul sepuluh pagi, Kinan sudah datang. Seperti biasa, dia sudah heboh duluan begitu memasuki rumah Dena. Sebenarnya, itu bukan kunjungan Kinan yang pertama ke rumah Dena. Kinan sudah pernah beberap kali mampir ke rumah Dena, sebelum dan sesudah dia menikah. Ya, Kinan memang sudah menikah sekitar dua bulan yang lalu. Tepatnya, terpaksa menikah.
"Kenapa perut kamu sudah semakin besar sih, Den? Perasaan, bulan lalu nggak sebesar ini, deh?" Kinan masih menatap perut Dena saat sahabatnya itu berjalan ke arahnya.
"Namanya juga sudah bertambah usia kehamilannya, jadi ya semakin besar," jawab Dena sambil mendudukkan diri di samping Kinan.
"Berapa minggu sih, ini?" Kinan mengusap-usap perut Dena. Dia cukup terkejut saat merasakan ada gerakan di sana. "Waahh, sudah ada gerakan nih," ucap Kinan dengan wajah berbinar bahagia.
"Sudah jalan minggu ke dua puluh lima," jawab Dena sambil mengulas senyuman.
"Waahh sudah mulai aktif nih gerakannya. Ngomong-ngomong, dia suka ngambek nggak sih kalau bapaknya jenguk?" tanya Kinan dengan santainya.
Dena menepuk tangan Kinan saat sahabatnya itu mulai menanyakan hal-hal aneh. "Nggak usah mulai, deh." Dena mengerucutkan bibirnya.
"Yyeey, orang tanya beneran kok." Kinan masih mengusap-usap perut Dena.
"Sudah, nggak usah ngomongi aku. Kamu sudah hutang cerita dulu, sekarang aku mau tagih," Dena menatap tajam ke arah Kinan.
Mendengar perkataan Dena, Kinan hanya bisa mencebikkan bibir.
"Kamu kan tahu aku nikah dadakan. Bahkan, aku juga terpaksa melakukannya, sama duda lagi." Kinan masih mengerucutkan bibir.
Dena mengulas senyumannya. Dia tahu meskipun Kinan menggerutu, tapi dia cukup bahagia dengan pernikahannya tersebut.
"Mana ada terpaksa. Jika terpaksa, kamu pasti sudah lari terbirit-birit kabur dari rumah. Lha ini, kamu justru berlari mendekat dan menyerahkan diri kepada pak Duda. Dibagian mananya ya disebut menyesal?" Dena menggoda Kinan.
Menyadari dirinya tengah di goda oleh sang sahabat, Kinan semakin mengerucutkan bibir.
"Ya, mana mungkin aku menolak jika dudanya seperti itu, coba?"
"Yyee, itu mah kamunya yang memang ngarep. Jika kamu nggak suka, mana mungkin empat hari menikah langsung kebobolan?" Dena berusaha menahan tawanya.
Kinan yang mendengar perkataan Dena, langsung berusaha menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Dia benar-benar merasa malu saat mengingat hal itu.
"Hahahaha, lagian kamu aneh-aneh saja. Bilangnya nggak suka lah, nyesel lah, nggak mau tinggal serumah lah. Eh, ujung-ujungnya, gedor-gedor kamar pak Duda."
Wajah Kinan semakin merah saat mengingat hal itu. "Itu kan darurat."
"Ckckck, darurat apanya. Kamu saja yang ngebet."
"Iya deh, iya. Bumil mah selalu benar." Kinan akhirnya mengalah. Dia tahu Dena paling nggak bisa di debat. "Eh, ngomong-ngomong, ini kan kandungan kamu semakin besar. Bagaimana aktivitas kamar dengan Rean? Masih jalan?" Kinan tampak antusias.
Dena langsung kaget saat Kinan menanyakan hal itu. Bisa-bisanya sahabatnya itu menanyakan hal-hal pribadi seperti itu dengan entengnya.
"Apaan sih, nanyain gituan. Malu tau," jawab Dena sambil memalingkan wajahnya yang sudah mulai merah.
Kinan benar-benar suka melihat wajah malu-malu penasaran sahabatnya itu. Kinan tahu jika Dena yang malu-malu itu, sebenarnya penasaran juga.
"Ngapain mesti malu, sih? Kita kan sama-sama sudah menikah juga. Eh, tau nggak Den, kemarin malam aku praktekin resep pijatan membuat pentol bakso lho. Eh ternyata, suamiku langsung kelojotan nggak kuat. Belum sampai aku selesai, dia sudah mulai merengek. Mau aku kasih tahu caranya, nggak?" Kinan menggoda Dena sambil mengedipkan matanya.
Wajah Dena sudah sangat merah saat mendengar perkataan Kinan.
"Nggak mau!" jawab Dena dengan cepat.
"Yakin nih nggak mau?"
"Enggak."
"Yah, sayang sekali. Padahal, cara itu cukup ampuh dilakukan oleh ibu-ibu yang sudah hamil besar begini untuk memuaskann suaminya agar tidak beli 'jajanan cilok' diluar." Kinan mandesahkan napas kecewa. Namun, dalah hati dia menertawakan ekspresi Dena yang terlihat sudah sangat penasaran.
Dena terlihat menimang-nimang perkataan Kinan sambil menggigiti bibir bawahnya. "Ehm, memangnya, bagaimana cara melakukannya? Memang ada caranya pijatan membuat pentol bakso?" tanya Dena lirih dengan wajah masih bersemu merah.
"Tentu saja ada. Mau tau?"
\=\=\=
Terima kasih yang sudah meninggalkan jejak. Jangan lupa tetap jaga kesehatan ya 🤗