
Shanum langsung mengerucutkan bibirnya dan melepaskan pegangan tangannya kepada Cello. Shanum menatap sang suami dengan tatapan tajamnya.
"Kamu itu benar-benar tidak peka, Mas! Awas saja jika nanti kamu minta jatah!" Gerutu Shanum.
Dia langsung berbalik dan segera beranjak. Namun, baru dua langkah kaki Shanum beranjak, dia sudah merasakan kedua tangan Cello melingkar di perutnya. Ya, Cello sudah memeluk Shanum dari belakang sambil menciumi tengkuknya.
"Sayang, jangan ngambek ya. Maaf, tadi aku hanya bercanda." Kata Cello sambil mengusap-usap perut Shanum dari belakang.
"Bercanda kamu nggak lucu tau nggak sih, Mas!"
"Iya, iya Maaf. Maaf jika buat kamu kesel. Jangan ngambek lagi, ya. Kasihan nanti dedeknya jika mommynya ngambek begini."
"Ini juga gara-gara kamu tau nggak sih, Mas."
"Iya, maaf. Sekarang, kamu mau apa, hhmm? Mau aku jenguk jagoan-jagoan kita? Mau main billiard bareng? Ayo!"
Seketika wajah Shanum langsung berbinar bahagia. Dia langsung berbalik dan tersenyum menatap wajah sang suami. Kedua tangan Shanum langsung melingkar pada leher Cello sambil kakinya berjinjit dan memberikan beberapa kecupan pada bibir sang suami.
"Iya. Anak-anak kamu mau dijenguk daddynya," kata Shanum sambil masih menyunggingkan senyumannya.
Seketika Cello langsung membopong Shanum dan membawanya menuju tempat tidur. Meski berat, Cello masih sanggup membopong tubuh sang istri. Dia berjalan pelan-pelan menuju tempat tidur dan langsung menidurkan Shanum di atasnya. Kedua tangan Shanum masih melingkar pada leher sang suami.
"Aku akan menuruti apapun yang kamu dan kedua jagoan kita inginkan. Sekarang, katakan kamu ingin kita mulai dari mana?" Tanya Cello sambil berbaring di samping Shanum.
Bukannya menjawab pertanyaan Cello, Shanum justru menarik tengkuk Cello dan membungkam bibir sang suami dengan bibirnya. Cello yang sudah sangat hafal dengan tingkah sang istri pun langsung membalas pagutan tersebut.
Eehhmmm mmmhhh emmhhhh.
Suara perpaduan dua benda kenyal tersebut langsung menggema di dalam kamar mereka. Shanum tak tinggal diam. Dia membuka mulutnya dan memberikan akses kepada Cello untuk memperdalam aktivitasnya. Pertukaran saliva pun tak terelakkan.
Cello yang sudah merasakan tubuhnya terbakar, langsung mulai menggerakkan tangannya untuk melucuti pakaian yang dikenakan oleh sang istri. Cello sudah tidak kaget lagi jika Shanum sudah tidak memakai apa-apa lagi di dalam daster rumahan yang dipakainya. Sepertinya, Shanum benar-benar sudah mempersiapkan ini sejak tadi.
Tangan Cello langsung mengusap-usap perut Shanum sementara bibirnya memanjakan pabrik nutrisi calon anaknya. Entah mengapa semenjak hamil, sumber nutrisi tersebut terlihat sangat menggoda bagi Cello. Dia benar-benar gemas saat melihatnya.
Ya, seperti kata dokter Risma, Cello benar-benar selalu membuat Shanum puas dan mendapatkan apa yang diinginkannya terlebih dahulu. Namun, entah mengapa Shanum selalu saja merasa tidak akan pernah puas. Dia belum merasa benar-benar puas jika belum menjerit-jerit histeris saat merasakan Cello mulai bermain billiard dengan senjata andalan miliknya di bagian bawah tubuh Shanum. Bahkan, Cello sampai memasang peredam suara di dalam kamar karena Shanum sangat agresif sejak hamil.
"Aaahhhh, Maasss. I-iya. Terus Mas. Eh eh, kamu diam dulu, biar aku yang gerak aaakhhhh."
Cello hanya bisa menahan diri untuk tidak bergerak dan membiarkan Shanum bergerak dengan leluasa di atas pangkuannya. Cello selalu membiarkan Shanum memegang kendali saat pertempuran mereka. Namun, jika dia sudah akan mendapatkan puncaknya, Cello baru akan mengambil alih kendali.
"Aaahhh, Maassshhh. A-akuuu aaaahhhhhh."
Teriak Shanum saat mendapatkan apa yang diinginkannya. Cello membiarkan Shanum mengatur napasnya terlebih dahulu sambil memberikan kecupan bertubi-tubi diwajahnya.
Setelah Shanum cukup beristirahat, kini giliran Cello yang harus menuntaskan apa yang dirasakannya. Tentu saja Shanum dengan senang hati membantu sang suami. Hingga keduanya benar-benar mendapatkan kembali apa yang diinginkan.
Baik Cello maupun Shanum langsung merebahkan diri di atas tempat tidur. Keduanya masih berebut oksigen dengan napas memburu. Keringat bercucuran pada dahi Shanum. Cello dengan telaten mengusapnya dan memberikan beberapa kecupan di sana.
"Kamu capek, Sayang? Mau istirahat dulu atau ke kamar mandi?" Tanya Cello.
"Ke kamar mandi deh, Mas. Lengket ini."
"Baiklah. Aku bantu ke kamar mandi."
Setelahnya, Cello membantu sng istri ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Keduanya membersihkan diri bersama-sama setelah pertempuran yang baru saja mereka lakukan.
Malam itu, Shanum dan Cello makan malam seperti biasa. Kebetulan, malam itu Rean menginap di rumah Cello karena mommy Fara dan daddy El sedang tidak ada di rumah.
Saat Cello dan Rean sedang bermain game, terdengar suara teriakan Shanum yang memekakkan telinga dari dalam kamar.
"Maaasss, aauuuhhhh, perutku sakit!"
Waahhh apa Shanum mau melahirkan ya?