
Pukul 01.20 mobil yang ditumpangi Kenzo dan rombongan terlihat sudah memasuki kota kelahiran Vanya. Mereka memutuskan untuk menginap di hotel yang ada di dekat aloon-aloon kota tersebut. Sebelumnya, Vanya sudah memberitahu kedua orang tuanya jika dia akan pulang bersama beberapa orang temannya. Vanya tidak memberitahu orang tuanya jika dia akan datang bersama dengan Kenzo dan keluarganya.
Sesampainya di hotel, mereka memesan empat kamar, satu kamar untuk orang tua Kenzo, satu kamar untuk Vanya, satu kamar untuk Kenzo dan satu kamar untuk Reyhan dan sopir keluarga Kenzo. Karena susah sangat lelah, mereka langsung tertidur begitu sampai di dalam kamar masih-masing.
Keesokan harinya setelah sarapan, mereka bersiap-siap untuk berangkat menuju rumah Vanya. Vanya memberikan petunjuk kepada sang sopir jalan menuju rumahnya. Setelah sekitar dua puluh menit berkendara, mereka telah sampai di depan rumah Vanya.
Terlihat rumah yang bercat putih dengan taman yang ada di depan dan samping kiri rumah yang dipenuhi dengan banyak bunga. Meski tidak luas, tapi tanaman yang ditata sedemikian rupa sehingga membuat kesan luas. Vanya dan rombongan segera turun dari kendaraan.
Pak Wahyu, ayah Vanya yang sedang membawa setundun pisang langsung menghentikan langkahnya. Beliau segera berjalan menghampiri sang putri beserta rombongannya. Vanya yang melihat sang ayah berjalan mendekat segera menyambutnya. Diraihnya tangan kanan sang ayah kemudian dikecupnya. Kenzo dan Reyhan yang melihatnya juga segera melakukan hal yang sama. Pak Wahyu mengernyitkan dahinya ketika mendapati Kenzo dan Reyhan juga melakukan hal yang sama. Namun, beliau tidak mempermasalahkan hal itu. Setelah bertegur sapa sebentar dengan para tamunya, pak Wahyu segera meminta para tamunya untuk memasuki rumah.
Mama Tari sangat senang sekali. Dia merasa nyaman berada di sana. Udara yang sejuk, tidak banyak polusi, tidak bising membuat tubuh dan pikirannya merasa rileks.
Bu Ratna, ibu Vanya juga menyambut kedatangan Vanya beserta rombongannya. Mereka terlihat duduk mengelilingi kursi yang ada di ruang tamu tersebut. Vanya dan ibunya segera membuatkan minuman dan membawakan camilan juga.
Ketika masih berada di dapur, bu Ratna bertanya kepada Vanya.
"Zi, siapa sebenarnya mereka?" Tanya ibu. "Sepertinya mereka berasal dari keluarga kaya," lanjut ibu.
Vanya bingung bagaimana menjawabnya. Dia hanya menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
"Eehhmmm, nanti deh biar Zizi jelaskan. Sekarang kita ke depan dulu ya bu," kata Vanya. Ya, Vanya memang biasa dipanggil Zizi jika di rumah. Teman-teman SD nya juga biasa memanggilnya begitu.
Setelah menyiapkan minum dan makanan ringan, Vanya dan ibu membawanya ke depan. Vanya melihat sang ayah tengah berbicara dengan papa Kenzo. Mereka terlihat sangat akrab sekali.
Vanya melirik Kenzo. Dia melihat jika laki-laki itu juga tengah menatap ke arahnya. Vanya mengerucutkan bibirnya sambil mendudukkan diri di samping ibunya.
Melihat semuanya sudah berkumpul, papa Mike, berdehem untuk menarik perhatian semua yang ada.
"Pak Wahyu, bu Ratna kami mohon maaf jika kedatangan kami semua kesini mendadak dan merepotkan bapak dan ibu. Kami mohon maaf untuk itu," kata papa Mike.
"Kami sangat senang sekali Pak, Bu. Ini sudah lebih dari cukup," kata papa. "Sebelumnya, kami mohon maaf jika kedatangan kami kemari sangat lancang. Kami berniat untuk meminang Vanya, putri bapak dan ibu untuk putra kami, Kenzo secepatnya," lanjut papa sambil menepuk bahu Kenzo pelan.
Kenzo yang mendengar perkataan sang papa mendadak gugup. Entah mengapa keringat dingin tiba-tiba merembes keluar dari dahinya. Tangannya juga terasa sangat dingin. Bahkan, perutnya terasa kram karena saking tegangnya.
Ayah dan ibu Vanya terkejut setelah mendengar perkataan papa. Mereka menoleh menatap Vanya secara bersamaan. Vanya yang mendapat tatapan penuh tanya dari kedua orang tuanya bergidik ngeri. Dia sudah memprediksi hal ini sejak semalam. Orang tuanya pasti akan bertanya-tanya tentang rencana pernikahan itu. Dan, Vanya bisa menebak arah pemikiran orang tuanya. Mereka pasti berpikir jika dirinya sudah berbadan dua. Vanya hanya bisa mengkerut di tempat duduknya. Dia masih sedikit takut menatap wajah kedua orang tuanya.
"Eehhmm maaf pak Mike, kenapa secepatnya. Vanya masih semester tiga kan, apa nanti tidak apa-apa jika masih kuliah terus menikah"? Tanya ayah.
Papa Mike tersenyum sebelum menjawab pertanyaan ayah. "Tidak apa-apa pak, kami bisa menjamin untuk hal itu," jawab papa Mike. "Lalu, kenapa buru-buru? Kami ingin segera menjadikan Vanya sebagai menantu kami. Anak kami, Kenzo sudah tidak sabar ingin segera menikah. Saya kira, akan sangat riskan sekali jika tidak segera menikahkan mereka," lanjut papa Mike sambil tersenyum.
Mendengar jawaban papa Mike, kini giliran ibu yang bersuara. "Kamu hamil Zi?" Tanya ibu dengan suara keras tertahan.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
mohon maaf slow up ya,
masih harus uwer ini di dunia nyata 🤭🤭