The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.25



Siang itu, El mengantarkan Fara untuk berziarah ke makam kedua orang tuanya. Ini pertama kali bagi El untuk berkunjung ke sana. El dan Fara bersama-sama mendoakan kedua orang tua Fara. Dalam hati, El berjanji untuk menjaga dan berusaha untuk membahagiakan Fara.


"Makan siang dimana, Mas?" Tanya Fara saat berjalan menuju mobil El terparkir.


"Terserah kamu. Kamu mau makan dimana?" Tanya El.


"Ehm, besok kan sudah mulai puasa, bagaimana jika kita makan di kedai Pak Kasidi. Aku kangen sotonya." Jawab Fara.


"Dimana itu?"


"Di dekat SMP ku dulu. Nanti aku tunjukkan jalannya."


"Baiklah, ayo."


Setelahnya, mereka segera pergi ke kedai yang dimaksud oleh Fara. Fara memberikan petunjuk arah kepada El. Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di kedai tersebut.


"Waahh ramai sekali." Kata El setelah memarkirkan mobilnya.


"Jelaslah, Mas. Ini waktunya makan siang. Lagipula, kedai ini lumayan terkenal di daerah sini. Sudah pasti penuh di jam makan siang seperti ini. Ayo, Mas."


El mengangguk mengiyakan. Setelahnya, mereka segera turun dan berjalan menuju kedai tersebut. Di dalam kedai sudah hampir penuh, hanya ada beberapa kursi kosong di bagian teras samping yang tempatnya agak turun dari kedai utama. El menunggu Fara yang sedang memesan makanan di sana.


"Tempatnya lumayan sejuk." Kata El sambil memperhatikan hamparan sawah hijau di sampingnya. Tempat yang diduduki El dan Fara tersebut mengarah langsung ke sawah. Teras tersebut sebenarnya hanya tambahan dari teras asli yang terletak di ujung. 


"Daerah ini masih perbatasan, Mas. Jadi, belum banyak aktivitas publik di sini. Pusat kecamatan juga masih jauh dari sini." 


"Kamu sejak kecil tinggal di sini?"


"Enggak. Aku tinggal disini sejak kelas lima SD sampai lulus SMP. Setelahnya, aku pindah ke Jakarta." Jawab Fara.


El mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Saat menunggu pesanan makan siang mereka datang, tiba-tiba terdengar sebuah suara memanggil.


"Kamu Fara, kan?" 


Fara dan El kompak menoleh ke arah sumber suara. Disana ada dua orang gadis seusia Fara dengan dua laki-laki yang berdiri di samping mereka. Fara berusaha mengumpulkan ingatannya tentang siapa mereka. Beruntung Fara mengingat gadis yang memanggilnya tersebut.


"Ah, kamu Dea, kan. Apa kabar?" Jawab Fara sambil mengulurkan tangannya.


Gadis bernama Dea tersebut terlihat enggan membalas uluran tangan Fara, namun karena dia mendapat tatapan dari El, mau tidak mau Dea menerima uluran tangan Fara. 


Setelahnya, mereka berempat meminta izin untuk bergabung di meja Fara dan El karena hanya tempat tersebut yang masih kosong. Setiap meja panjang berisi enam kursi dengan masing-masing sisi berisi tiga kursi.


"Ngapain kamu di sini? Bukannya kamu pindah ke Jakarta." Katanya lagi.


"Iya, aku memang pindah ke Jakarta. Ini baru ziarah ke makam orang tuaku." Jawab Fara.


"Ibu kamu?"


"Ibu dan bapak tepatnya."


"Oh, bapak yang menelantarkan anaknya itu sudah meninggal ternyata." Kata gadis satunya yang Fara lupa namanya.


Fara dan El saling pandang setelah mendengar perkataan gadis tersebut. Beruntung tak lama kemudian, makan siang pesanan mereka sudah datang. Mereka segera menyantap sajian makan siang tersebut.


"Ngomong-ngomong, kamu sekarang bekerja dimana?" Tanya Dea sambil melirik ke arah El.


"Memangnya mampu bayar kuliah? Atau jangan-jangan…" Kata gadis yang satunya.


"Jangan-jangan apa?" Tanya Fara. Dia menolehkan kepalanya menatap gadis tersebut. Sebenarnya, Fara sudah bisa menebak maksud dari gadis tersebut.


"Jangan-jangan kamu menjadi simpanan laki orang. Secara biaya kuliah di Jakarta kan mahal. Belum juga biaya hidup." Jawab gadis itu dengan entengnya.


Baik El dan Fara langsung terkejut saat terang-terangan mendengar gadis tersebut mengatakan hal seperti itu. El dan Fara langsung berpandangan. Tatapan mata El terlihat sangat tajam. Terlihat dia sedang menahan emosi. Fara yang menyadari hal itu langsung mengusap tangan sang suami untuk berusaha menenangkannya.


"Memangnya untuk mendapatkan uang, hanya bisa dengan menjadi simpanan laki orang?" Tanya Fara. "Atau mungkin, itu yang kamu lakukan?" Lanjutnya. 


Fara terlihat tenang saat menjawab pertanyaan gadis di seberang mejanya itu.


"Kurang ajar! Jaga mulutmu! Jangan sembarangan kalau ngomong!" Kata gadis tersebut sambil menggebrak meja. Kedua matanya nyalang menatap wajah Fara tak terima dengan perkataannya.


"Lhoh, kenapa kamu marah jika tidak melakukannya?" Kata Fara.


El menolehkan kepalanya ke sekitar. Banyak pasang mata menatap mereka. Namun, sepertinya sang istri tidak merasa terganggu.


"Jaga mulutmu!"


"Seharusnya, kamu yang harus jaga mulut. Jangan asal langsung njeplak kalau ngomong. Sekolah tinggi-tinggi kasihan jika mulutnya tertinggal nggak ikut sekolah." Jawab Fara.


Setelahnya, dia langsung berdiri dan mengajak serta sang suami. Fara juga meminta maaf kepada pengunjung yang berada di teras samping tersebut dan terganggu dengan ulah teman-temannya. Fara segera membayar makan siangnya dan segera mengajak sang suami pergi dari tempat tersebut.


"Aku baru tahu jika kamu bisa melakukan hal seperti itu." Kata El sambil mengemudikan kendaraannya.


"Habisnya mereka aneh-aneh deh, Mas. Masa iya aku jadi simpanan laki orang. Orang aku istrinya." Gerutu Fara.


"Ehm, belum sepenuhnya sih." Kata El.


"Eh, kok gitu sih." 


"Kan belum melakukan kewajiban sebagai seorang istri."


Glek.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Tetap diusahakan up meski sedikit.


Terima kasih yang sudah sabar menunggu othor. 🙏