
"I want you right now." Kata Vanya sambil menggigiti bibir bawahnya. Netra mata Vanya masih menatap wajah Kenzo.
Kenzo yang mendengar jawaban Vanya langsung menegang. Seketika pikirannya sudah melanglang buana menjelajah beberapa adegan video pemersatu bangsa yang sudah sering dilihatnya. Namun, beberapa saat kemudian senyum smirk terbit pada bibirnya. Kenzo mendekat dan menarik tubuh Vanya hingga menempel pada tubuhnya.
Vanya yang terkejut dengan tindakan tiba-tiba yang dilakukan oleh Kenzo langsung mencengkram kemeja Kenzo. Vanya menatap wajah Kenzo yang sedang tersenyum smirk itu dengan tatapan khawatirnya.
"Kamu sudah berani memancingku hari ini. Sekali kamu bilang iya, akan aku pastikan kamu tidak akan bisa mundur." Kata Kenzo.
Vanya menggigiti bibir bawahnya lagi. Dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri jika ini harus dilakukannya cepat atau lambat. Bukannya semakin cepat semakin baik, batin Vanya.
Vanya mengangguk yakin sambil masih menatap wajah sang suami.
"I-iya Mas. A-aku sudah siap." Kata Vanya.
Senyum Kenzo semakin lebar. Kenzo segera meraup bibir ranum sang istri. Tangan kanannya menahan tengkuk Vanya dan menekannya agar pertemuan kedua bibir tersebut bisa semakin intens.
Vanya yang sudah mulai bisa mengimbangi permainan Kenzo langsung melingkarkan kedua tangannya pada leher sang suami. Ingin lebih, lebih dan lebih. Itulah yang diinginkan tubuh Kenzo dan Vanya.
Suara pa*gutan dan lu*ma*tan dari kedua bibir tersebut terdengar sangat menggoda. Suaranya menggema di ruang tengah rumah Kenzo tersebut.
Hhmmmpphhh emmmhhpp hhmmppphh
Tak lama kemudian, Kenzo melepaskan tautan kedua bibir tersebut setelah Vanya memukul-mukul dadanya. Nafas keduanya ngos-ngosan setelah kedua bibir tersebut terpisah. Vanya dan Kenzo saling berebut oksigen agar bisa mengisi kekosongan paru-parunya.
Huh huh huh huh
Suara nafas Vanya dan Kenzo yang memburu. Kenzo menempelkan keningnya pada kening Vanya. Kedua pasang netra mata mereka saling mengunci dengan tatapan mata sayu.
Secepat kilat Kenzo segera membopong tubuh Vanya menuju kamarnya. Gelora dahsyat yang sudah meletup-letup pada tubuhnya menuntut untuk segera dituntaskan. Vanya hanya bisa pasrah saat Kenzo membopongnya menuju kamar tidur mereka. Vanya bahkan dengan berani melingkarkan kedua lengannya pada leher Kenzo.
Dug
Kenzo menendang pintu kamar yang tidak tertutup tersebut dengan ujung sepatunya. Setelahnya, dia juga menutup pintu tersebut dengan tungkai kakinya hingga pintu benar-benar tertutup. Kenzo berjalan menuju ranjang tidur king size yang berada di tengah-tengah kamar tidur mereka.
Netra mata Kenzo tak pernah lepas dari wajah Vanya. Tatapan matanya begitu mendamba. Bibir ranum yang sedikit bengkak karena ulahnya barusan, terlihat menggodanya.
Kenzo menurunkan Vanya pada ranjang tidur tersebut. Sementara Vanya, langsung melepaskan kedua lengannya pada leher Kenzo. Dia merasa sangat malu saat itu karena Kenzo masih menatapnya lekat-lekat.
Kenzo mulai melepas sepatunya dan melemparnya asal-asalan. Saat dia hendak menyerang sang istri, Vanya menahan dadanya. Kenzo mengerutkan keningnya bingung. Vanya yang melihat kerutan pada kening Kenzo pun berusaha menjelaskan.
"Ehm, cuci kaki dan tangan dulu Mas. Tadi kan baru pulang." Kata Vanya.
Kenzo menegakkan tubuhnya sambil mendengus kesal. Namun, mau tidak mau dia berbalik dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Sambil berjalan, Kenzo melepaskan kemeja dan ikat pinggangnya. Dia juga melepaskan celananya sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Kenzo segera mencuci tangan, kemudian mencuci kaki dan menggosok gigi. Namun, saat menyadari jika badannya sudah sangat lengket dan bau, akhirnya Kenzo memutuskan untuk mandi sekalian. Masa bodoh jika dirinya harus mandi sebelum hokya-hokya. Dia hanya tidak ingin membuat Vanya menjadi tidak nyaman dengan tubuhnya. Apalagi Kenzo tau jika Vanya sudah menyiapkan semuanya.
Tak butuh waktu lama bagi Kenzo untuk membersihkan diri cukup sepuluh menit dia sudah menyelesaikan kegiatannya. Kenzo mengambil handuk dan melilitkannya pada pinggangnya.
Sementara Vanya sudah melepas jubah tidurnya. Kini, dirinya hanya memakai baju tidur yang dipilihkan oleh Fida tadi siang. Jangan tanya bagaimana perasaan Vanya. Tentu saja dia sangat malu. Namun, Vanya meyakini jika dirinya harus melakukan ini.
Ceklek
Kenzo membuka pintu kamar mandi. Seketika pandangan matanya tertuju pada tubuh Vanya yang terekspos dengan sangat nyata di depannya. Kenzo berjalan menuju ke arah Vanya tanpa mengalihkan pandangan matanya dari tubuh Vanya.
Gugup. Itulah yang dirasakan oleh Vanya. Namun, dia tetap berusaha untuk tenang. Kenzo semakin mendekat ke arahnya. Semakin dekat dan semakin dekat. Nafasnya terdengar memburu saat tubuh Kenzo sudah merangkak naik ke atas tempat tidur.
Vanya mengangguk yakin.
"I-iya Mas. Aku tidak akan mundur." Jawab Vanya.
Mendengar jawaban Vanya, Kenzo langsung menubruk tubuh Vanya hingga tidur terlentang di atas tempat tidur. Bibir Vanya di bungkam dengan bibir Kenzo. Kedua benda kenyal yang saling bertemu tersebut memberikan berbagai macam sensasi.
Mereka saling memagut, me*lu*mat dan menye*cap. Kedua tangan Kenzo bahkan sudah mencengkeram baju tidur berwarna merah tersebut. Entah mengapa mereka menyebutnya baju tidur, bahkan benda itu tidak layak disebut baju karena bentuknya yang sangat transparan.
Greeett
Kenzo menarik baju tidur itu hingga menyebabkan baju tidur tersebut langsung robek. Vanya mendelik kesal melihatnya. Namun, belum sempat dia protes kepada sang suami, Kenzo sudah melancarkan aksinya kembali.
Kali ini, tangan kanannya langsung bergerilya untuk mencari buah melon favoritnya. Kenzo tak membiarkan bibir Vanya beristirahat. Dia terus bekerja dengan bibirnya. Sementara kedua tangannya sudah mulai bergerilya di bawah sana.
Aaaaauuhhhhh hhhmmmpphhh
Racau Vanya saat Kenzo mulai mengobrak abrik pertahanan Vanya. Vanya menjerit-jerit sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Dia tersentak-sentak tak karuan saat merasakan serangan dahsyat yang terjadi pada tubuhnya. Begitu menuntut dan begitu mendesak. Namun, seketika tubuhnya terasa ringan saat dorongan itu sudah terpuaskan.
Tubuh Vanya menggelepar tak karuan. Nafasnya memburu dengan sisa-sisa tenaganya. Tangan Kenzo masih tak berpindah tempat. Sementara nafas Vanya masih tak beraturan
Hah hah huh huh hah hah
Nafas Vanya benar-benar tak beraturan. Dadanya masih naik turun dengan baju tidur yang sudah tidak berbentuk. Kenzo segera berdiri dan menatap wajah Vanya dengan tatapan penuh damba. Dia segera menarik handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya. Vanya yang melihatnya hanya bisa membulatkan mata dan mulutnya. Dia merasa malu saat itu. Belum sempat Vanya bersuara, Kenzo sudah mulai menyerangnya.
"Aku tidak akan menahan lagi. Kamu boleh gigit atau cakar punggungku jika sakit." Kata Kenzo sambil mulai bekerja di bagian bawah sana. Vanya meringis kesakitan. Segera dia mencengkeram punggung Kenzo dan menggigit bahunya dengan keras.
Eeuuuggghhhh. Sak-kkiitthhhh.
Kenzo yang menyadari Vanya tengah kesakitan memelankan aktivitasnya. Hingga beberapa saat kemudian, dia mulai melanjutkan kembali aktivitasnya setelah mendapat izin dari sang istri. Semakin lama, semakin menuntut. Semakin lama, semakin meminta lebih dan lebih.
Cukup lama Kenzo dan Vanya bergulat dengan susah payah. Setelah selesai, mereka sama-sama terkapar dengan nafas saling memburu. Tidak ada percakapan yang terjadi setelahnya. Hanya ada tarikan dan hembusan nafas yang cepat yang terdengar. Kenzo menoleh menatap wajah sang istri tang kelelahan. Dia tersenyum lebar saat melihat keringat bercucuran dari kening sang istri.
"Terima kasih Sayang. Istirahatlah dulu. Kita lanjutkan sesi kedua setelah ini."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon maaf tidak bisa terlalu 'horor' masih ada yang patroli 🙏
Jika ini tidak lolos review, nanti akan othor revisi dan akan othor sreenshoot selanjutnya di post di ig othor
Terima Kasih