
Adrian masih tak bergeming. Dia menatap lekat-lekat wajah Kinan.
"Lalu, apa yang kamu inginkan jika menerima tawaran ini?" tanya Adrian. Mendengar pertanyaan Adrian, Kinan langsung berpikir.
Mungkin ini kesempatan bagus untuk memutus rumor yang beredar di kampus. Aku juga bisa menunjukkan ke semua orang jika si Firdan tidak ada apa-apanya dibanding si Om, batin Kinan.
"Ehm, kalau aku menerima tawaran Om, aku tidak ingin minta apa-apa. Aku hanya ingin membuat rumor yang beredar di kampus berhenti. Aku ingin mengajar dengan tenang dan nyaman. Tidak harus disibukkan dengan rumor yang beredar seperti itu," ucap Kinan.
Sebuah senyuman tipis terbit pada bibir Adrian. Sepertinya, tawarannya akan disetujui oleh Kinan.
"Baiklah, aku setuju. Aku bisa membantumu untuk menghilangkan rumor tersebut, dan kamu juga bisa membantuku untuk menghilangkan gosip yang menimpaku. Bagaimana? Deal?" Adrian mengulurkan tangannya ke arah Kinan untuk berjabat tangan.
Kinan yang sudah memikirkan tawaran itu masak-masak, menggerakkan tangannya untuk menyambut uluran tangan Adrian.
"Deal." Kinan akhirnya menyetujui tawaran tersebut.
Adrian cukup puas melihat hal itu. Dia menarik tangannya dan menyunggingkan senyuman tipisnya.
"Bagus. Jadi, kita bisa mulai membuat perjanjiannya. Kamu mau perjanjian tertulis atau…," belum sempat Adrian menyelesaikan ucapannya, namun Kinan langsung memotongnya.
"Tidak! Aku tidak mau ada perjanjian tertulis. Apa Om lupa siapa orang tua Om? Dulu, saat Om membuat perjanjian dengan mantan istri, mereka bisa dengan mudah mengetahui hal itu. Apa tidak menutup kemungkinan hal itu juga akan terulang?"
"Aku hanya khawatir, jika Om membuat perjanjian tertulis dan orang tua Om mengetahuinya, mereka akan mencari cara agar perjanjian tersebut batal sebelum waktunya berakhir," ucap Kinan.
Adrian yang masih belum mengerti maksud tersebut langsung mengerutkan kening bingung.
"Maksudnya bagaimana?"
Kinan menghela napas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Adrian.
"Eh, tidak membiarkan terjadi bagaimana?"
"Ya, tidak membiarkan kita putus."
Adrian mengerucutkan bibirnya. "Jangan suka sembarangan kalau ngomong. Nggak akan ada yang seperti itu."
Kinan hanya bisa mencebikkan bibir sambil mendengus kesal. "Terserah kamu saja, Om."
Setelahnya, obrolan tentang apa yang harus mereka lakukan pun dibahas. Kinan juga mengeluarkan unek-uneknya. Hal yang sama pun juga dilakukan oleh Adrian. Kali ini, Adrian dan Kinan sama-sama fokus pada perbaikan nama baik mereka. Mereka sama sekali tidak memikirkan dampak rencana mereka tersebut kedepannya, terlebih lagi tentang perasaan.
Kinan juga menjelaskan apa yang harus mereka lakukan dalam waktu dekat ini. Salah satunya adalah menghadiri acara resepsi pernikahan. Namun, sebelum itu Kinan ingin memberikan sedikit 'spoiler' tentang Adrian. Namun, dia tidak akan mengeksposnya secara terang-terangan.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Adrian. Laki-laki itu juga menjelaskan apa yang mereka lakukan dalam waktu dekat. Adrian berpikir, jika Kinan bisa memulai untuk mempublikasikan hubungan mereka secara terang-terangan pada saat menghadiri acara resepsi tersebut.
"Lalu, untuk skinship bagaimana?" tanya Kinan.
Adrian mengamati lekat-lekat wajah Kinan sebelum menjawab.
"Tentu saja kita harus melakukan skinship. Kita harus benar-benar melakukan hal rencana ini sealami mungkin."
"Ja-jadi, kita juga akan melakukan adegan cium mencium begitu?" tanya Kinan.
"Eh, apakah itu yang kamu maksud dengan skinship?"
\=\=\=
Masih ngetik lagi ya. Doakan cepat selesai. Kasih dukungan yang banyak biar tambah semangat.