The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Memenuhi Keinginan Kenzo



"Baiklah, saya akan mencari penjual nasi goreng. Silahkan anda beristirahat dulu, nanti akan saya bawakan." Kata Reyhan.


"Tidak mau! Kami ikut." Kata Kenzo.


"Kenapa harus ikut, Tuan. Ini sudah lewat tengah malam. Biar saya carikan penjual nasi gorengnya. Saya pastikan saya sendiri nanti yang akan membuatnya." Kata Reyhan.


"Ehm, bukan aku tidak percaya kepadamu, Rey. Tapi aku benar-benar ingin ikut. Aku ingin langsung memakannya di sana." Jawab Kenzo.


Reyhan menghembuskan napas beratnya. Mau tidak mau dia membiarkan Kenzo untuk ikut. 


"Baiklah kalau begitu. Mari, Tuan." Kata Reyhan sambil beranjak mengambil kunci mobil.


"Tunggu sebentar. Aku ambilkan jaket dulu untuk Vanya." Kata Kenzo sambil berjalan cepat menuju kamarnya. 


Reyhan menoleh heran menatap Vanya.


"Nona ikut?" Tanya Reyhan.


"Iya. Kenzo ingin makan nasi goreng buatanmu dan makannya ingin aku suapi." Jawab Vanya sambil menghembuskan napas beratnya. "Maafkan mas Kenzo ya, Rey. Aku tidak tahu mengapa ngidamnya aneh seperti ini. Aku yang hamil, tapi justru mas Kenzo yang mengalami ngidam seperti ini. Iya kalau ngidamnya mudah, lha ini selalu saja mereptkan kamu." Imbuh Vanya.


"Tidak apa-apa, Nona. Namanya juga orang ngidam. Saya tidak masalah membantu selama saya bisa." Jawab Reyhan.


Tak berapa lama kemudian, Kenzo terlihat datang dengan membawa sebuah jaket yang cukup tebal untuk membubgkus tubuh Vanya. Dia segera membantu Vanya untuk memakainya. Setelahnya, mereka segera berangkat untuk mulai mencari penjual nasi goreng keliling.


Cukup lama mereka berputar-putar untuk mencari penjual nasi goreng. Beruntung saat mereka melewati taman tak jauh dari stasiun, mereka menemukan seorang penjual nasi goreng yang tengah melayani seorang pembeli. Reyhan segera memarkirkan kendaraannya di dekat penjual nasi goreng tersebut.


Kenzo segera membantu Vanya turun. Wajahnya terlihat sangat bersemangat sekali. Sementara Reyhan langsung berjalan menghampiri penjual nasi goreng tersebut dan menjelaskan maksud kedatangannya. Reyhan juga memberikan sejumlah uang kepada penjual tersebut.


Pak Karyo, penjual nasi goreng tersebut sangat senang karena mendapat sejumlah uang dari Reyhan. Dia langsung mempersilahkan Kenzo dan Vanya untuk menunggu di kursi yang sudah di sediakan. Sementara Reyhan langsung segera mulai membuat nasi goreng. Pak Karyo bahkan membantu Reyhan untuk menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat nasi goreng tersebut.


Saat Reyhan tengah menyiapkan bumbu nasi goreng, datanglah seseorang yang langsung berdiri di dekat Reyhan. Reyhan yang masih fokus menyiapkan bumbu bahkan tidak menyadari kedatangannya.


"Maaaasss, akyu minta nasi goreng spesial ya, pakai telor dua. Telornya juga yang spesial, yang masih alami juga boleh lho." Kata sebuah suara tepat di samping telinga Reyhan.


Sontak saja Reyhan langsung menoleh. Matanya langsung membesar saat melihat wanita jadi-jadian tengah berdiri di dekatnya. Reyhan langsung beringsut mundur karena terkejut dan takut.


"Iiihhh, masnya kok takut gitu sih. Akyu kan bukan mbak K yang biasanya nangkring di atas pohon. Lihat nih, akyu masih berpijak di atas tanah." Katanya sambil menelisik penampilan Reyhan dari atas sampai bawah.


"Aku bukan penjual nasi goreng!" Kata Reyhan sambil kembali melakukan kegiatannya.


"Iiihhh, Masnya jangan bercanda deh. Itu masnya sedang buat nasi goreng. Buatin buat akyu juga ya, please. Nanti akyu kasih bonus deh, gratis sampai pagi." Kata wanita jadi-jadian tersebut tersenyum sambil menempel pada lengan Reyhan.


Reyhan beringsut menjauh sambil bergidik ngeri. Tangan kanannya masih memegang pisau yang baru saja digunakan untuk memotong sayuran.


"Awas, kamu dekat-dekat sini lagi. Aku sunat langsung pakai ini!" Ancam Reyhan sambil mengacungkan pisau tersebut kepada wanita jadi-jadian tersebut.


Wanita jadi-jadian tersebut mengerucutkan bibirnya dan sedikit menjauhi Reyhan. Dia mengambil kursi dan segera duduk tak jauh dari Reyhan. 


Pak Karyo yang baru saja datang dari membuang sampah terkejut dengan kedatangan wanita jadi-jadian tersebut.


"Kenapa kembali lagi kesini?" Tanya pak Karyo pada wanita jadi-jadian tersebut.


"Tadi akyu lewat sini lihat mas ganteng lagi buat nasi goreng. Yasudah akyu mampir. Siapa tau dia butuh kehangatan setelah memasak." Jawab wanita jadi-jadian tersebut sambil mencolek pinggang Reyhan.


Reyhan langsung berjengit kaget merasakan pinggangnya dicolek.


"Awas jangan pegang-pegang! Aku laki-laki tulen. Aku masih doyan apem bukan sosis!" Gerutu Reyhan sambil mulai memasak.


Pak Karyo yang melihat pelanggan spesialnya merasa tidak nyaman pun segera mengusir wanita jadi-jadian tersebut. Bisa-bisa uang yang diberikan Reyhan akan diambil lagi nanti. Pikir pak Karyo.


"Sudahlah, Jen. Segera pergi dari sini. Tadi kan sudah makan nasi goreng. Jika makan lagi, itu perut akan membuncit lagi. Baju kamu tidak akan muat itu nanti." Kata pak Karyo.


"Nggak mau ah, nanti saja. Mumpung ada laki-laki ganteng ada di sini. Jarang-jarang kan ada laki-laki ganteng yang masak nasi goreng di sini." Jawab wanita jadi-jadian itu.


"Hiliihh, kamu itu sudah kewut Pak."


"Kewut? Apa itu?" Tanya pak Karyo.


"Tuwek alias tua."


"Sembarangan kamu kalau ngomong. Tua-tua begini aku masih kuat beberapa ronde!" Kata pak Karyo tidak terima dikatakan tua.


"Masa?? Nggak percaya akyu. Mau dicoba?" Goda wanita jadi-jadian tersebut.


"Ogaahh! Mending nyoba sama Jeni yang asli. Lha ini kalau malam jadi Jeni, kalau siang jadi Jono. Mana ada rasanya." Kata pak Karyo.


Jeni alias Jono, sang wanita jadi-jadian langsung berdiri dari duduknya. Dia berjalan mendekati pak Karyo dengan tatapan tajamnya. Sementara pak Karyo terlihat biasa saja mendapati tatapan wanita jadi-jadian tersebut.


"Wooiii, dasar Karyo kakek kewut. Awas saja jika buka kedokku lagi. Tidak akan aku biarkan kamu pulang dengan berdiri tegak!" Kata wanita jadi-jadian tersebut dengan suara prianya.


"Ya, ya, ya, ya. Aku kan nggak pernah pulang dengan berdiri tegak, capek punggungku mendorong gerobak jika tegak." Jawab pak Karyo dengan santainya.


Jeni alias Jono, si wanita jadi-jadian menjadi semakin kesal. Dia menghentak-hentakkan sepatunya dan menggerutu tidak jelas sambil berjalan pergi.


"Maaf, Tuan. Dia memang sering mengganggu di sini." Kata pak Karyo kepada Reyhan.


"Iya, Pak. Tidak apa-apa." Jawab Reyhan sambil menata nasi goreng di atas piring. Rupanya dia sudah selesai membuat nasi goreng.


Kenzo dan Vanya yang melihat adegan tadi hanya bisa diam sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya. Udara dini hari itu benar-benar sudah terasa sampai tulang.


Reyhan segera membawa sepiring nasi goreng tersebut kepada Kenzo dan Vanya yang tengah menunggunya. Wajah Kenzo benar-benar sudah seperti anak kecil yang senang mendapatkan mainan baru.


"Silahkan, Tuan." Kata Reyhan sambil meletakkan sepiring nasi goreng di hadapan Kenzo.


"Terima kasih Rey." Jawab Kenzo sambil menyodorkan piring tersebut ke hadapan Vanya. "Suapin, Yang. Aaaa.." Pinta Kenzo.


Vanya yang melihat hal itu langsung meraih piring dan sendok tersebut. Dia mulai menyuapkan nasi goreng tersebut ke dalam mulut Kenzo.


Reyhan yang melihat Kenzo makan dengan lahap sangat senang. Dia bersyukur bosnya tersebut menyukai makanan buatannya. Saat sedang mengamati Kenzo, tiba-tiba ponsel Reyhan berbunyi. 


Sebuah panggilan masuk terlihat pada layar ponsel Reyhan yang tergeletak di atas meja di samping siku si empunya. Baik Kenzo dan Vanya bisa melihat dengan jelas siapa yang tengah menelepon Reyhan dini hari tersebut.


"Segera angkat gih Rey." Perintah Kenzo.


Reyhan mengangguk sambil menghembuskan napas beratnya. Dia segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut untuk menyambungkan panggilan telepon tersebut.


"Hallo." Sapa Reyhan saat panggilan telepon sudah terhubung.


"Hallo Maasss, aku kangeennn. Aku nggak bisa tidur bagaimana ini. Aku terbayang-bayang wajah kamu terus."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Siapa itu?