
Miss Dena langsung membulatkan kedua mata dan mulutnya setelah mendengar perkataan Rean.
"Cckkk, mana ada yang seperti itu. Sembarangan." Miss Dena masih menggerutu kesal.
"Hehehe, saya hanya bercanda, Miss. Maaf, ini tadi Mama saya baru telepon. Saya diminta segera pulang."
Meskipun kesal, miss Dena hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, Rean segera pamit. Dia bahkan melupakan bajunya yang masih basah dan berada di dalam kamar mandi. Rean juga meminjam sandal jepit miss Dena. Rean tidak mungkin memakai sepatunya yang sudah basah semua tersebut.
Setelah kepergian Rean, miss Dean segera membersihkan diri. Perutnya terasa keroncongan karena belum terisi sejak siang tadi. Ketika hendak memesan makan malam, netranya menangkap sebuah pemandangan ganjil di dalam kamar mandi yang pintunya terbuka tersebut.
"Astaga! Apa anak itu lupa membawa baju basahnya?" Miss Dena menggelengkan kepala saat menyadari baju Rean tertinggal di dalam kamar mandinya.
Setelah memesan makanan melalui aplikasi online, miss Dena segera beranjak menuju kamar mandi. Dia mengambil pakaian Rean. Kedua bola matanya membulat saat mengambil baju basah tersebut, ada sesuatu yang terjatuh. Ternyata, itu adalah 'kurungan' milik Rean. Wajah miss Dena langsung panas. Entah mengapa dia merasa malu meski tidak ada siapa-siapa.
"Astaga, mengapa aku harus melakukan ini?! Cckkk, dasar mahasiswa aneh." Miss Dena masih menggerutu saat memasukkan pakaian basah Rean di dalam mesin cuci.
Sementara itu di tempat lain, Rean sudah terlihat memasuki garasi rumahnya. Dia segera beranjak turun dan berjalan memasuki rumah. Namun, langkah kakinya terhenti saat mendengar suara mama Revina.
"Lho, kamu dari mana, Re sarungan begitu? Mau sunat lagi?"
Rean hanya mendengus kesal setelah mendengar perkataan sang mama. "Apa-apaan itu mau sunat lagi? Habis kali, Ma jika sunat lagi nanti. Mana aku belum nikah lagi!"
"Nggak apa-apa. Nanti juga bisa tumbuh lagi," ucap mama Revina dengan santainya sambil ngeloyor pergi ke dapur.
"Hhhh, dikira tanaman bisa tumbuh lagi," gerutu Rean. Setelah itu, dia segera melangkahkan kaki menuju kamar untuk ganti baju.
"Setelah bersih-bersih, segera makan malam, Re."
"Iya."
***
Keesokan hari, Rean sudah bersiap ke kampus. Namun, dia masih mengingat jika miss Dena tidak mempunyai mobil. Rean berinisiatif menghubungi dosennya tersebut. Rean ingin memberikan tumpangan, sekaligus deketin gebetan.
Namun, setelah beberapa kali mencoba menghubungi miss Dena, ternyata ponselnya tidak aktif. Rean juga mengetikkan pesan yang ternyata tidak aktif juga. Mau tidak mau, Rean harus segera berangkat ke kampus.
Seperti biasa, Rean selalu antusias mengikuti kelas dosen favoritnya. Siapa lagi jika bukan miss Dena. Ingin rasanya Rean menanyakan pakaiannya yang semalam lupa dibawa pulang. Namun, dia mengurungkan niatnya.
Sepanjang perkuliahan, Rean selalu menatap wajah miss Dena sambil senyum-senyum sendiri. Entah mengapa dia selalu suka menatap wajah dosennya tersebut lama-lama.
Miss Dena yang menyadari jika Rean tengah menatapnya langsung menoleh. Dia mengerucutkan bibirnya sambil menatap tajam ke arah Rean.
"Ada apa, Re? Apa ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya miss Dena sambil menatap ke arah Rean.
"Ada Miss."
"Silahkan ajukan pertanyaannya."
"Apa yang dibutuhkan untuk mulai membangun usaha baru, Miss?" tanya Rean sambil masih menatap ke arah miss Dena.
"Yang pertama, buatlah sebuah riset dulu. Cari tahu apa saja yang paling diminati dan dibutuhkan oleh masyarakat saat ini. Setelah itu, kamu baru bisa mulai membuat perencanan dan mulai memikirkan langkah apa yang harus kamu ambil. Setelah itu, baru kamu bisa mulai menghitung modal yang diperlukan."
Rean mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Lalu, saat ini apa yang paling Anda minati dan butuhkan, Miss?" tanya Rean langsung setelah mendengar penjelasan miss Dena.
"Kalau saya, saat ini sangat menginginkan…," belum sampai miss Dena menyelesaikan perkataannya, dia sudah tersadar jika saat ini Rean telah mengerjainya. Sontak saja miss Dena langsung menatap tajam ke arah Rean.
"Rean Aksa Atmaja!!!"
"Iya Miss, saya."
"Coba sedikit lebih serius jika sedang kuliah. Jangan bercanda terus kerjaannya! Kamu mau nilai mata kuliah saya D, iya?!"
"Saya sih nggak masalah jika harus mengulang lagi, Miss. Asalkan mengulangnya tetap dengan Anda. Jangankan untuk mata kuliah, untuk mengulang-ulang hal lain pun ikhlas kok, Miss." Jawab Rean sambil mengulas senyumannya.
Hhhuuuuuuuuu.
Sontak saja terdengar suara ejekan dari para teman Rean. Mereka sudah sangat hafal jika Rean sering menggoda dosennya tersebut. Maklum, selama hampir satu semester ini, setiap minggu ada saja tingkah Rean untuk membuat dosennya tersebut emosi jiwa.
Siang itu, Rean sudah menyelesaikan kuliahnya. Dia langsung beranjak menuju cafe sang kakak ipar. Seperti biasa, Rean langsung ikut turun tangan untuk membantu para karyawan jika sedang ramai. Hari itu, Cello masih berada di kampus. Rean menunggu kedatangan sang kakak ipar sambil memainkan ponselnya setelah membantu beberapa karyawan.
Namun, saat tengah mengutak-atik ponselnya, tiba-tiba terdapat sebuah panggilan telepon dari sang papa. Rean langsung buru-buru mengangkat panggilan telepon tersebut karena khawatir ada sesuatu hal yang penting.
"Hallo, Pa."