
Hari-hari Reyhan dan Fida berjalan sebagaimana biasa. Namun, hari ini kondisi badan Fida tidak terasa nyaman. Dia merasakan kontraksi ringan di perutnya sejak sore tadi. Tetapi, dia sama sekali tidak memberitahukannya kepada Reyhan.
Malam itu sejak setelah makan malam, Reyhan terlihat sedang memeriksa beberapa file yang sudah di kirimkan ke emailnya. Dia sudah terlihat membaik. Tangan kanannya juga sudah bisa digerakkan. Bahkan, selama dua hari dalam satu minggu ini, Reyhan sudah terlihat bekerja kembali. Meskipun begitu, Kenzo tetap membatasi pekerjaannya. Kenzo benar-benar melarang aktivitas berat untuk dilakukan oleh Reyhan.
Menjelang tengah malam, Fida sudah merasakan sakit pada perutnya. Dia sudah yakin jika akan segera melahirkan. Namun, dirinya belum juga memberitahu sang suami. Ya, Reyhan masih terlihat sibuk dengan laptopnya di atas meja makan. Fida yang memang sudah pindah di kamar bawah pun bisa melihat sang suami dari dalam kamar karena pintu kamar memang tidak ditutup.
Lama kelamaan, Fida sudah benar-benar tidak kuat. Dia memekik tertahan saat kontraksi pada perutnya semakin terasa sakit.
"Ma-maaassss…" Teriak Fida tertahan.
Reyhan yang mendengar sayup-sayup suara sang istri pun menoleh. Betapa terkejutnya dia saat melihat Fida kesakitan memegangi perutnya. Rethan langsung buru-buru berlari menghampiri sang istri.
"Sayang, sayang, kenapa? Sudah mau lahiran? Kenapa tidak bilang? Aduh bagaimana ini." Reyhan berteriak-teriak panik.
"Mas, jangan panik. Ayo pelan-pelan antar aku ke rumah sakit. Ini kontraksinya sudah mereda sedikit." Kata Fida sambil menggigit bibirnya.
Reyhan mengangguk mengiyakan. Dia segera memegangi Fida dan menuntunnya menuju mobil. Tangannya yang memang masih belum bisa banyak digerakkan, tidak memungkinkan baginya untuk membopong sang istri.
Setelah keluar dari rumah, Reyhan langsung berteriak-teriak memanggil Yusni, sang supir. Ya, setelah mengalami kecelakaan, Kenzo memang mencarikan seorang supir untuk Reyhan dan Fida. Dia tidak ingin Reyhan maupun Fida kesulitan saat akan bepergian.
Tak lupa juga Reyhan membawa seluruh peralatan persalinan yang memang sudah Fida siapkan jauh-jauh hari.
"Auuhhh, Masss. I-ini terasa sakit lagi." Kata Fida sambil mencengkram paha kiri Reyhan. Wajahnya sudah mulai pucat dengan keringat mulai membasahi keningnya.
Reyhan semakin panik melihatnya. Dia yang biasanya kalem dan tenang, langsung berteriak-teriak meminta sang supir untuk mempercepat kendaraannya. Tak sampai lima belas menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit tempat dokter Friska bekerja. Fida sudah sejak sore tadi sudah memberitahukan kondisinya kepada sang dokter. Sehingga begitu mereka sampai di rumah sakit, Fida langsung mendapat pertolongan.
Fida langsung dibawa ke ruang persalinan. Reyhan masih setia menemaninya, meskipun dirinya sebenarnya merasa tidak tega melihat perjuangan sang istri.
"Sayang, operasi saja ya, aku nggak tega melihat kamu kesakitan." Berulang kali Reyhan membujuk Fida. Namun, tetap tidak berhasil. Fida tetap menginginkan untuk melahirkan secara normal.
Reyhan hanya bisa pasrah sambil mengelap keringat Fida. Dia terus memberikan dukungan dengan membisikkan kata-kata penyemangat untuk sang istri.
"Ayo sedikit lagi, kepalanya sudah kelihatan." Kata dokter Friska.
Fida yang mendengarnya berusaha sekuat tenaga untuk melahirkan sang putri. Tak berapa lama kemudian, lahirlah seorang bayi perempuan. Suara tangisannya seolah menjadi oase bagi kedua orang tuanya.
Reyhan segera memberikan pelukan dan kecupan sebagai ungkapan terima kasih kepada sang istri. Tangis harunya pun sudah tidak bisa di bendung lagi.Â
Setelah bayi tersebut dibersihkan, seorang perawat segera memberikannya kepada Reyhan untuk di adzani. Reyhan menerima dan menggendong putrinya pertama kali dengan wajah terharunya. Tak menunggu lama, Reyhan segera melantunkan adzan dan iqomat pertama kali untuk sang putri.
"Welcome to the world baby Revina Desti Aditama."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mumpung masih hari Senin, jangan lupa vote buat othor ya.
Tinggal beberapa part lagi end. Mohon bersabar dulu.