
Setelah mendengar perkataan sang putri tadi pagi, siang itu juga papi Dena segera menghubungi papa Bian, papanya Rean. Mereka langsung membahas rencana pertunangan Rean dan Dena.
"Sebaiknya, pernikahannya dipercepat saja, Pak. Saya khawatir jika mertua Anda tiba-tiba datang dari Jawa."
"Ehm, apa sebaiknya begitu saja, ya?" Papinya Dena masih terlihat berpikir.
"Bagaimana jika kita bertemu besok siang di restoran dekat rumah sakit Anda. Kebetulan, besok saya ada janji di dekat sana." Papa Bian menawarkan pertemuan kepada papi Dena.
"Baiklah, saya setuju."
Setelah itu, panggilan telepon tersebut terputus. Sementara di apartemen Dena, dia masih merutuki keputusannya menerima rencana perjodohan tersebut. Namun, dia sudah tidak bisa lagi membatalkan keputusan tersebut.
"Bagaimana aki bisa menikah dengan anak kecil itu? Dia bahkan masih semester satu. Sifat-sifat remaja SMA pasti masih sangat melekat kepadanya. Ccckkk, apa yang harus aku lakukan?" Dena masih sibuk bergumam sambil berguling-guling di atas tempat tidur. Dia benar-benar bingung harus melakukan apa.
Keesokan hari, kedua orang tua Dena dan Rean bertemu. Mereka membahas rencana perjodohan tersebut dan memutuskan untuk segera melangsungkannya. Mereka khawatir jika nenek Dena bertindak nekad.
Rencananya, keluarga Rean akan mengadakan lamaran di rumah orang tua Dena yang berada di Jakarta. Acara tersebut memang tidak diagendakan meriah, mengingat kakek Dena dari pihak papa baru berpulang.
Rean yang siang itu mendapat kabar dari sang papa jika rencana perjodohan mereka segera dilaksanakan, langsung heboh sendiri. Ternyata, harapan Rean untuk bersanding dengan dosen favoritnya bisa segera terwujud.
Malam itu juga, mama Revina menghubungi Shanum dan memintanya ikut menghadiri acara lamaran Rean. Awalnya, tentu saja Shanum merasa sangat terkejut. Dia memang tidak mengetahui perihal rencana pernikahan sang adik. Shanum memang sedang sibuk-sibuknya mengurus twins.
Hari itu, Rean terlihat sudah sangat gelisah sejak pagi. Sang kakak dan si kembar juga sudah berada di rumahnya sejak setelah sarapan. Sementara Cello, masih harus pergi ke tempat futsal sebentar.
"Ada apa, Re? Apa ada yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Shanum saat melihat sang adik tengah melamun meskipun dia sedang memainkan jari-jari Drew.
"Nggak ada apa-apa sih, Kak. Hanya saja, aku belum bertemu dan ngomong langsung dengan miss Dena."
Shanum mengerutkan kening. "Kamu masih memanggilnya dengan panggilan, Miss?"
"Ya, karena dia kan memang dosenku, Kak," kilah Rean.
"Ya, itu kan di kampus. Setidaknya, jika di rumah atau di luar kampus, belajarlah mengubah nama panggilan untuknya."
"Mau panggil apa?"
Rean mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, dia membantu sang kakak menidurkan si kembar. Beberapa saat kemudian, Rean diminta mama Revina untuk mengambil pesanan kue dan beberapa seserahan yang dipesannya mendadak kemarin. Mau tidak mau, Rean segera berangkat menuju alamat yang sudah diberitahukan oleh sang mama.
Namun, ketika dia hendak mengeluarkan mobilnya dari garasi, terlihat sebuah notifikasi pesan pada layar ponselnya. Rean segera membuka pesan tersebut, dan cukup terkejut.
Bisa bertemu sebentar? Aku tunggu di apartemen sekarang. ~ Dena.
Rean mengerutkan kening. Dia masih bingung ada apa miss Dena memintanya untuk bertemu di apartemennya. Namun, Rean tetap membalas pesan tersebut dan menyetujui untuk menemui miss Dena. Di apartemennya.
Rean lebih dulu mengambil pesanan yang diminta oleh mama Revina. Setelah itu, dia segera menuju apartemen Dena. Tak butuh waktu lama bagi Rean untuk sampai di sana. Rean yang sudah mengetahui letak apartemen Dena, langsung menuju ke tempat tersebut. Dia segera mengetuk pintu begitu sampai di depan apartemen Dena.
Ceklek. Pintu apartemen tersebut terbuka dan menampakkan Dena telah bersiap untuk keluar.
"Eh, selamat siang, Miss." Sapa Rean begitu pintu terbuka.
"Siang. Masuk dulu."
Rean mengangguk dan segera berjalan memasuki apartemen yang beberapa hari lalu sudah dikunjunginya.
"Duduk, Re." Miss Dena mempersilahkan Rean untuk duduk di kursi tamu.
Rean hanya bisa mengangguk dan menuruti permintaan miss Dena.
"Mau minum apa?" tanya miss Dena.
"Eh, nggak usah, Miss. Saya kira, kita sama-sama terburu-buru."
Miss Dena menganggukkan kepala. "Baiklah kalau begitu. Langsung saja, aku akan menawarkan sesuatu."
"Eh, jangan, Miss. Kita belum sah. Nanti saja jika kita sudah menikah secara sah, Miss Dena bisa menawarkan bagian tubuh yang mana saja."
\=\=\=
Itu yang harusnya di cuci mulut atau otaknya si Rean sih? Othor kok soyo mumet 🤦♀️