The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 77



Zee yang mendengar perkataan Cello dan sang daddy langsung tergelak. Mereka ternyata benar-benar mirip.


Tak berapa lama kemudian, Dave sudah terlihat keluar dari sebuah ruangan. Dia terlihat sekali baru saja mandi dengan rambut masih agak basah.


"Eh, maaf pak El harus menunggu lama." Kata Dave sambil berjalan menemui daddy El dan juga Cello.


"Nggak apa-apa, Dave. Kami juga baru saja sampai."


Dave segera mengangguk dan mendudukkan diri di seberang Zee.


"Jadi, bisa kita mulai sekarang?" Tanya Dave sambil menatap wajah ketiga orang yang ada di depannya tersebut.


"Boleh. Semakin cepat semakin baik."


Setelahnya, mereka berempat segera berjalan menuju sebuah ruangan yang penuh dengan peralatan komputer. Ruangan tersebut hampir berukuran tiga kali ruangan kerja daddy El. Ada banyak sekali komputer dan beberapa layar yang sangat besar di sana.


Dave langsung mengambil tempat di depan sebuah komputer yang berada di tengah, dan mulai untuk mengotak-atiknya. Sementara Zee, daddy El dan juga Cello berdiri tak jauh di belakangnya.


"Kamu sudah tahu siapa perempuan ini, El?" Tanya Zee.


"Iya, aku sudah tahu siapa dia."


Zee mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


"Dia benar-benar cari perkara dengan melakukan ini semua." Kata Zee sambil melipat kedua tangannya ke depan dada.


Kening daddy El dan Cello kembali berkerut. Mereka saling toleh untuk meminta penjelasan. Namun, karena daddy El dan juga Cello masih belum mengerti maksud perkataan Zee, mereka menunggu penjelasan Zee selanjutnya.


"Maksudnya apa?"


"Danisha ini, selain menjadi istri simpanan dosen, dia juga menjadi sugar baby seorang pengusaha asal Australia."


"Apa?! Kok kuat?" Tanya daddy El dengan wajah penasarannya.


Zee yang mendengar perkataan sang sahabat langsung mendengus kesal.


"Ya kali mereka pakainya barengan, El." Jawab zee sambil mengerucutkan bibirnya.


"Gila saja dia berani melakukannya. Dia pasti akan kehilangan sumber uangnya nanti."


"Ngomong-ngomong, dari mana Lo tahu informasi itu?" Tanya daddy El penasaran.


"Sugar daddynya teman papa gue."


"Om Vanno?"


"Hhmmm."


"Sudah cukup tua, dong?"


"Lumayan. Papa gue sekarang enam puluh tiga tahun. Paling usia laki-laki itu juga sekitar itu."


Daddy El dan Cello hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


Beberapa saat kemudian, percakapan mereka bertiga terhenti saat mendengar perkataan Dave.


"Saya sudah mendapatkan rekaman dari cctv yang ada di perpustakaan, Pak. Audionya juga sangat jelas." Kata Dave.


Seketika Zee, daddy El dan juga Cello beringsut maju untuk melihat video yang diputar oleh Dave tersebut. Mereka bisa melihat dan mendengar dengan jelas apa yang terjadi disana. Netra mereka juga menangkap seorang laki-laki yang terlihat sedang mengambil rekaman dari dekat pilar sebelah kiri. Sepertinya, dia sudah berada di sana sejak sebum Cello dan Danisha tiba.


Kemungkinan, perekam video tersebut memang sudah bekerja sama dengan Danisha untuk menyebarkan rekaman video tersebut.


"Apa dia yang merekamnya?" Tanya Cello sambil menunjuk ke arah layar komputer.


"Iya. Memang laki-laki itu yang merekamnya. Coba lihat ini." Kata Dave sambil merubah tampilan video tersebut.


Tak berapa lama setelah kepergian Cello dari perpustakaan tersebut. Terlihat Danisha dan laki-laki tersebut berjalan menuju sebuah lorong yang berada di gedung belakang perpustakaan yang memang masih belum selesai di renovasi. Meskipun mereka tidak berjalan bersama-sama, namun dari arah yang dituju keduanya adalah sama.


Laki-laki tersebut terlihat memberikan sebuah ponsel kepada Danisha. Kemungkinan besar, ponsel tersebut berisi rekaman yang baru saja diambil di depan perpustakaan.


Danisha terlihat menerima ponsel tersebut dan memberikan sebuah amplop kepada laki-laki tersebut. Namun, laki-laki tersebut menepis amplop yang di sodorkan oleh Danisha. Seketika semua pasang mata membelalak saat melihat aktivitas selanjutnya.


"Astaga, main tusuk saja itu orang!"