The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 44



Dena menghembuskan napas berat sebelum mematikan kompor. Dia berbalik untuk menatap sang suami. Kedua matanya meneliti ekspresi Rean dan mencoba menerjemahkannya. Dena melihat ekspresi tidak suka pada wajah Rean.


"Kita tidak bisa mengatur hati orang lain, Re. Kita tidak bisa mencegah orang lain untuk menyukai atau membenci kita. Yang bisa kita lakukan hanya menempatkan diri sebaik mungkin dengan keadaan itu."


"Aku mengenal Reno sejak beberapa hari aku pindah ke apartemen ini. Itu, sekitar dua tahun yang lalu. Aku masih ingat, saat itu aku masih sering bolak balik dari rumah papi untuk memindahkan barang-barangku kesini. Pertama kali kami bertemu saat di lift. Dia membantuku membawakan beberapa peralatan dapur yang baru saja aku beli."


"Saat itu, kami baru tahu jika ternyata kami tetangga apartemen. Tidak ada obrolan khusus atau tingkah istimewa setelahnya. Kami, hanya bertemu beberapa kali saat pagi hari. Karena kami berangkat bekerja pada jam yang sama. Aku ke kampus, dan dia ke kantor. Hanya itu. Untuk pulangnya, aku juga tidak tau dia pulang jam berapa dari bekerja."


"Hingga sekitar satu minggu kemudian, aku cukup terkejut saat baru pulang dari rumah papi, dan melihat orang yang cukup aku kenal keluar dari apartemen Reno. Dia adalah Bu Nania, rekan dosenku yang juga mengajar di kampus yang sama, meskipun beda fakultas."


"Selama sekitar satu minggu ini, aku sama sekali tidak melihat keberadaan Bu Nania di apartemen Reno. Rupanya, beliau sedang mengikuti diklat di Yogjakarta."


"Sejak saat itu, aku baru tahu jika Bu Nania dan Reno sudah menikah sejak satu tahun yang lalu. Bu Nania dan Reno memang terpaut usia sekitar empat tahun. Saat ini, bu Nania berusia tiga puluh empat tahun, dan baru memiliki momongan."


"Bagaimana? Sudah tahu ceritanya?" Dena masih menatap wajah Rean setelah menyelesaikan ceritanya.


Tampak Rean masih belum puas dengan jawaban Dena. Bukannya Rean tidak mempercayai cerita sang istri, hanya saja Rean khawatir dengan apa yang dirasakan oleh Dena. Rean khawatir jika sang istri juga menaruh hati kepada Reno.


"Lalu, sejak kapan Reno menyukaimu, Miss?"


"Beruntung Reno juga tidak berniat untuk mengkhianati pernikahannya. Dia hanya ingin mengungkapkan apa yang dirasakannya. Sejak saat itu, aku semakin menghindar darinya. Aku juga berusaha untuk menjaga jarak dengan laki-laki. Meskipun tidak selalu bisa. Tidak mungkin aku tidak menyapa atau membalas sapaannya, kan?"


Rean tampak mengangguk-anggukkan kepala. "Apa dia pernah melakukan hal-hal tidak pantas, Miss?"


Dena mengerutkan kening. Dia belum bisa menebak maksud Rean. "Maksud kamu?"


Rean mencebikkan bibir sebelum menjawab pertanyaan sang istri. "Reno sudah menikah, Miss. Jadi, besar kemungkinan jika dia bisa melakukan hal-hal nekad. Laki-laki yang sudah menikah, apalagi yang dicari jika bukan…," belum sempat Rean menyelesaikan perkataannya, Dena sudah melemparkan nampan yang ada di sampingnya hingga terjatuh.


Klontaannnggg.


Rean langsung kaget melihat hal itu. Dia menatap wajah sang istri yang kini sedang menatapnya dengan tatapan nanar.


"Kamu kira aku serendah itu, Re?!"


\=\=\=


Nah lho, apa-apaan ini. Baru juga pindahan. 🤧