The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 155



Beberapa hari pun berlalu. Kini, Cello dan Shanum sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Cello sesekali masih mengantar dan menjemput Shanum ketika jadwal kuliah mereka tidak bersamaan. 


Siang itu, Shanum harus segera pergi ke perpustakaan guna mencari tambahan referensi untuk tugas kuliahnya. Dia berjalan dengan terburu-buru ke arah perpustakaan hingga tidak sengaja menabrak seseorang saat hendak menuju tangga.


Brukkk.


"Aduuhh!" Shanum langsung meringis sambil mengusap-usap keningnya saat secara tidak sengaja dia menabrak bahu seseorang laki-laki.


"Eh, kamu tidak apa-apa?" 


"Tidak apa-apa. Aduh, maaf. Aku buru-buru tadi," jawab Shanum.


"Tidak apa-apa."


"Kalau begitu aku permisi," kata Shanum sambil menganggukkan kepalanya dan melanjutkan perjalanan menuju perpustakaan.


Setelah Shanum terlihat meninggalkan tempat tersebut, laki-laki tadi masih menatap punggung Shanum yang terlihat menjauh. Tiba-tiba laki-laki itu merasakan sebuah tepukan pada bahunya. Seketika laki-laki tersebut menoleh ke samping.


"Lihat apa, Sam?"


"Gue liat ada mahasiswi baru, Dav. Gue kok belum pernah lihat, ya."


"Eh, mahasiswi baru? Yang mana?" tanya Davian. Ya, laki-laki yang baru saja menghampiri Sam tadi adalah Davian.


"Itu, yang pakai baju putih dan celana biru," jawab Sam, laki-laki yang tadi tak sengaja bertabrakan dengan Shanum.


Davian, laki-laki yang menghampiri Sam, terlihat mencari-cari mahasiswi yang dimaksud oleh oleh sahabatnya tersebut. Namun, dia tidak menemukan orang yang dimaksud oleh Sam.


"Siapa sih? Mana?"


"Dia sudah berbelok. Mungkin mau ke perpustakaan."


Davian mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah itu, mereka kembali melanjutkan langkah kakinya menuju kelas selanjutnya.


Sementara itu, Shanum yang sudah selesai mencari referensi tambahan tugas kuliah hari itu, langsung bergegas untuk pulang. Dia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan kedua jagoannya.


"Sudah lama, Re?" tanya Shanum sambil berjalan menghampiri Rean dan juga twins di teras samping.


"Belum, Kak. Ini juga baru datang beberapa menit yang lalu. Nggak pulang bareng kak Cello?"


"Enggak. Tadi kami berangkat sendiri-sendiri, kok. Jadwal kuliah kami hari ini beda. Lagipula, mas Cello harus ke kantor Daddy setelah makan siang. Ada janji dengan beberapa orang di sana."


Rean terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Jadi, kak Cello sudah mulai aktif bekerja di kantor daddy, Kak?"


"Kalau aktif sih belum, hanya saja waktunya menyesuaikan dengan jadwal kuliah mas Cello."


Lagi-lagi Rean mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia memperhatikan Shanum yang tengah mengganti popok Drew sementara tangannya memegangi botol susu Dryn.


"Kak, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Rean sambil menoleh ke arah sang kakak.


"Ada apa, Re?" Shanum menoleh. Dia terlihat penasaran saat memperhatikan ekspresi wajah Rean yang terlihat malu dan memerah.


"Ehm, i-itu, anu…,"


"Ada apa sih, Re?"


"Ehm, dulu waktu Kakak pertama kali buka segel bareng kak Cello, bagaimana rasanya?" tanya Rean ragu-ragu. Dia terlihat tidak berani menoleh untuk menatap wajah sang kakak. Rean benar-benar malu melakukannya.


Kening Shanum berkerut saat mendengar pertanyaan sang adik. 


"Maksud kamu waktu malam pertama?" tanya Shanum memastikan pertanyaan Rean.


Rean hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Lagi-lagi wajah Rean memerah hingga telinganya.


"Awalnya, rasanya tentu saja sakit, tapi membuat ketagihan. Memangnya kenapa kamu menanyakan hal itu? Eh, atau jangan-jangan kalian belum…,?"


"Eh, i-itu, a-anu…,"