
"Ccckkk, kebiasaan. Jika pulang itu, salam dulu. Jangan langsung nyelonong masuk."
"Hehehehe, iya Mom. Assalamualaikum." Kata pemuda tersebut sambil memberikan sebuah kecupan pada pipi kiri sang mommy.
"Waalaikumsalam. Nah, begitu kan bagus." Jawab sang mommy.
"Aku lapar, Mom."
"Sana, mandi dulu. Makanannya juga masih belum jadi. Jangan ganggu mommy, nanti nggak selesai-selesai."
"Cckkk, iya, iya." Jawab pemuda tersebut sambil melepaskan pelukannya pada sang mommy. Dia segera beranjak menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Namun, belum sempat dia mencapai tangga, terdengar suara sang mommy dari arah dapur.
"Cell, nanti setelah makan segera pergi ke bandara untuk jemput oma dan opa. Pesawat mereka tiba pukul empat sore ini." Kata mommy.
"Hari ini, Mom?" Tanya pemuda tersebut.
"Iya lah. Bukannya kamu senang jika oma dan opa kamu sudah kembali, Cell?"
"Senang sih, tapi keinginan oma dan opa yang buat aku tidak senang." Gumam Cello.
Ya, pemuda tersebut adalah Denzello Gabbriel Abram, atau lebih sering dipanggil dengan sebutan Cello. Dia adalah putra tungga El dan Fara. Cello yang saat ini telah berusia sembilan belas tahun dan sudah berada di semester dua kuliahnya.
Seperti sang daddy, El, Cello benar-benar mewarisi sifat dan tingkah daddynya. Hanya saja, El benar-benar terlihat lebih parah. Jika El masih bisa berinteraksi dengan lawan jenis dengan lumayan normal, tak terkecuali Revina dulu, hal yang berbeda justru ditunjukkan oleh Cello. Dia benar-benar sangat enggan berinteraksi dengan lawan jenis. Bahkan, dia akan mengabaikan para perempuan yang hampir setiap hari berusaha mengajaknya ngobrol atau hanya sekedar menyapa.
Setelah membersihkan diri, Cello segera kembali ke meja makan. Ternyata, dang daddy juga sudah berada di sana. Entah mengapa daddynya tersebut sudah pulang di saat jam seperti ini.
El menatap wajah putra semata wayangnya tersebut sekilas sebelum kembali menatap sang istri yang tengah mengambilkan nasi untuknya.
"Memangnya kenapa jika daddy pulang cepat. Jika daddy tidak cepat pulang, bisa-bisa kamu sudah menyabotase mommy kamu." Gerutu El.
"Cccckkkk, apaan sih Dad. Menyabotase apanya. Aku kan hanya minta ditemani main game sambil nonton tv. Daddy kan sudah setiap malam sama mommy. Gantian dong." Gerutu Cello.
"Ya nggak bisa dong. Mommy kamu itu punya daddy. Jika mau cari teman main game dan nonton tv, sana cari teman mabar kamu, atau paling nggak, cari pacar atau istri sana." Kata El tak mau kalah.
"Eh, apa hubungannya dengan teman-teman mabarku sama pacar dan istri. Daddy suka aneh-aneh." Jawab Cello tak mau kalah.
Namun, belum sempat El menjawab perkataan sang putra, Fara sudah langsung memotong perdebatan mereka berdua.
"Berisik! Jika kalian tidak mau berhenti berdebat, aku akan pergi menyusul oma dan opa. Biar kalian disini berdua puas saling berdebat." Ancam Fara.
"Jangaaannn." Jawab El dan Cello berbarengan. Mereka benar-benar tidak mau mengambil resiko. Fara benar-benar akan melakukan perkataannya dengan meninggalkan El dan Cello berdua di rumah selama kurang lebih satu minggu seperti dua tahun yang lalu. Fara benar-benar geram saat sang suami dan putranya saling memperebutkan perhatian dirinya. Hingga Fara memutuskan untuk menyusul daddy Kenzo dan juga mommy Vanya ke Jerman. Ya, mommy dan daddy El tersebut memutuskan untuk tinggal di Jerman sebelum memutuskan untuk kembali lagi ke Indonesia hari itu.
"Jika kalian tidak ingin ditinggal, jangan bertengkar terus dan segera makan. Kamu Cell, segera habiskan makanan kamu dan setelahnya segera pergi ke bandara untuk menjemput oma dan opa. Dan kamu Mas, segera habiskan makan siangmu dan segera kembali ke kantor. Aku nggak mau kamu sering bolos kerja seperti itu." Gerutu Fara.
Baik El dan Cello, sang putra, hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataan Fara. Seolah mereka seperti anak sekolah yang tengah mendapat hukuman dari gurunya karena tengah melakukan kesalahan.
\=\=\=\=\=
Mohon bantu klik like, komen dan vote untuk karya ini ya. Semakin banyak like, komen dan vote, semakin semangat othor crazy up. Terima kasih.
Scroll ya 👇