The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 91



Skip bagian Rean tanya-tanya tentang rasanya pembukaan jalan tol ya. Bagi yang lupa, bisa scroll ke atas. Othor cepetin biar cepet end 🤭


***


Hari berganti hari, dan minggu pun berganti. Kini, kesehatan Dena sudah mulai membaik. Selain menjalani pemeriksaan rutin, Dena juga menjalani beberapa terapi. 


Hari ini, dia sudah memasak sarapan untuk Rean. Rean ada jadwal kuliah pagi itu. Dena juga sudah menyiapkan baju kuliah untuk Rean.


Beberapa saat kemudian, Rean terlihat keluar dari kamar mereka, lengkap dengan perlengkapan kuliahnya. Dena menolehkan kepala ke arah sang suami yang sedang berjalan menuju meja makan tersebut.


"Hari ini ada satu mata kuliah, kan?" tanya Dena saat Rean menarik kursi dan mendudukinya.


"Iya, Yang. Jadi lihat rumahnya?"


"Iya. Aku penasaran sekali, Mas. Hehehe." Dena tersenyum manis ke arah Rean.


Melihat hal itu, Rean menjadi semakin gemas. Jika sudah seperti itu, Dena sama sekali tidak terlihat seperti dosennya yang memiliki usia enam tahun di atasnya.


"Kamu gemesin banget sih, Yang. Sini cium dulu." Rean langsung mendekatkan wajahnya sambil memonyongkan bibir.


Dena yang sudah biasa dengan tindakan Rean tersebut langsung memberikan apa yang diinginkan sang suami.


Emuuaaahhh. Emuuaaahhhh. Emmuuuuaaah.


Tiga buah kecupan singkat mendarat pada bibir Rean. Setelah itu, Dena segera menjauhkan wajahnya agar si berondongnya tersebut tidak mulai bertingkah.


"Kenapa cepat sekali sih, Yang?" Tuh kan, benar. Rean pasti tidak akan merasa puas.


"Waktunya mepet, Mas. Sudah, sekarang sarapan dan segera ke kampus."


Menjelang pukul sebelas, Rean sudah kembali ke apartemen. Dena juga sudah siap untuk berangkat menuju rumah baru mereka. Siang itu, Rean dan Dena memutuskan untuk makan siang di luar.


Setelah mengganti baju, Rean dan Dena segera berangkat menuju rumah baru mereka. Berhubung besok tanggal merah, mereka juga memutuskan untuk menginap di rumah mama Revina malam itu.


Tak butuh waktu lama, Rean dan Dena sudah tiba di komplek perumahan tersebut. Mereka langsung menuju lokasi rumah. Wajah Dena langsung berbinar bahagia. Saat itu, pertama kali baginya mengunjungi rumah yang disiapkan oleh Rean.


Rean yang melihat ekspresi sang istri merasa sangat bahagia. Dia sama sekali tidak menyangka jika Dena akan sebahagia itu melihat rumah baru mereka.


"Suka?" tanya Rean saat mengiringi langkah kaki Dena memasuki halaman rumahnya.


Dena menoleh ke arah sang suami. "Suka, Mas. Suka banget malahan. Kok bisa kepikiran buat rumah model begini?" ucapnya sambil masih mengulas senyuman.


"Hehehe, aku hanya berusaha memanfaatkan tempat, Yang. Halaman ini cukup sempit kalau digunakan untuk bermain anak-anak kita nanti."


Seketika Dena menoleh ke arah sang suami. Wajahnya langsung bersemu merah. "Apaan sih, Mas. Sudah mikirin anak segala. Kapan mau nyicil buatnya coba." Entah mengapa Dena getol sekali menggoda Rean. Padahal, dia baru saja sembuh.


"Hehehe, sabar Yang. Setelah kamu tidak kebanjiran lagi, kita agendakan untuk unboxing. Tapi, aku tidak mau di apartemen ataupun dirumah orang tua kita." Rean menoleh ke arah Dena.


"Eh, memangnya mau dimana?"


"Di Raja Ampat."


\=\=\=


Sabar, cerita Rean tidak lama lagi akan end ya. 🤗