
Setelah hujan cukup reda, Kenzo segera beranjak berdiri untuk pulang. Namun, sebelum mencapai pintu kamar kos Vanya, dia berhenti dan berbalik menghadap Vanya.
"Ingat, setelah kita menikah kita akan tinggal bersama. Jadi, mulai sekarang sebaiknya mulailah mengemasi barang-barangmu," kata Kenzo.
Vanya sedikit terperanjat dengan perkataan Kenzo. "Semuanya?" tanyanya.
Kenzo mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Vanya. "Tentu saja. Atau, kamu mau meninggalkan barang-barangmu disini?" tanya Kenzo.
"Bukan begitu, tapi aku sudah membayar kos-kosan ini selama satu tahun. Jadi kurang enam bulan lagi. Sayang jika harus ditinggalkan," jawab Vanya sambil mengerucutkan bibirnya.
Kenzo benar-benar geram dengan perkataan Vanya. "Tinggalkan saja tempat ini, akan aku bayar kerugiannya. Kalau perlu aku beli semua tempat ini," jawab Kenzo kesal sambil pergi meninggalkan Vanya.
Sementara Vanya masih cengo mendengarkan perkataan Kenzo. "Ciiihhh, emang holang kaya bisa seenaknya gitu kalau ngomong," gerutu Vanya.
Keesokan harinya, Vanya harus menyerahkan tugas kepada dosennya di kampus. Setelah itu, dia harus pergi ke rumah mama Tari, karena sejak pagi Vanya sudah mendapat telepon untuk menemuinya di rumah. Akhirnya, mau tidak mau Vanya terpaksa membolos kuliah. Beruntung bagi Vanya hari ini cuma ada satu mata kuliah. Dosen mata kuliah yang satunya mendadak berhalangan hadir, jadi para mahasiswa hanya harus mengumpulkan tugas.
Ketika sampai di parkiran, Vanya bertemu dengan Nabila, sahabatnya.
"Sudah mengumpulkan tugas Pak Heru?" tanya Nabila.
"Sudah, baru saja. Mau mengumpulkan sekarang?" Tanya Vanya.
"Iya nih. Lagian, kenapa sih pak Heru harus menyuruh mengumpulkan print outnya juga. Padahal kemarin juga sudah dikirimkan file nya kan," gerutu Nabila.
"Iya juga sih," Vanya hanya manggut-manggut mengiyakan sambil memakai helmnya.
Nabila yang mengamati Vanya tengah memakai helm memicingkan matanya. "Mau kemana?" Tanyanya. "Bolos kelasnya Bu Reni?" Lanjut Nabila.
Vanya nyengir mendengar pertanyaan Nabila. "Iya, ada urusan mendadak ini," jawabnya sambil memundurkan motornya.
"Ccckkk, alasan saja. Ya sudah, hati-hati," kata Nabila yang segera di angguki oleh Vanya.
Vanya segera pamit dan menyalakan motornya. Dia akan pergi ke rumah mama Tari. Dalam perjalanannya, Vanya memikirkan sahabat-sahabatnya.
Aku tinggal sendiri di kota ini. Hanya sahabat-sahabatku yang menemaniku. Susah senang kami selalu bersama. Ya, aku akan mengundang mereka di acara besok. Aku akan memberitahu mama Tari. Batin Vanya yakin.
Beberapa saat kemudian, Vanya membelokkan motornya di rumah besar yang didatanginya beberapa hari yang lalu. Ya, rumah itu adalah rumah mama Tari. Vanya segera memarkirkan motornya di samping motor-motor lain yang terparkir di sana. Banyak persiapan yang memang sudah mereka lakukan untuk acara besok lusa. Vanya masih mematung mengamati beberapa orang yang terlihat membawa beberapa bunga mawar dalam jumlah banyak. Seketika harum wanginya menyeruak ke dalam hidung Vanya.
Hhhmmm, harumnya. Gumam Vanya.
Lamunan Vanya ambyar ketika mendengar suara melengking memanggil namanya.
"Kakaaakkk," teriak suara seorang perempuan.
Vanya menoleh mencari sumber suara. Dilihatnya seorang gadis muda tengah berlari kecil hendak menghampirinya. Ya, dia adalah Kezia, adik Kenzo. Gadis itu mendekat dan segera memeluk Vanya dengan erat.
"Kakak lama sekali sih datangnya, mama sudah nunggu dari tadi," katanya sambil masih bergelayut manja di lengan Vanya.
Sedangkan Vanya sendiri terlihat masih salah tingkah. Dia bingung harus bersikap dan melakukan apa. Gadis di sampingnya ini benar-benar sangat ceria.
Karena Vanya masih tidak memberikan respon, Kezia menggoyangkan lengan Vanya dengan pelan. "Kakak baik-baik saja?" Tanyanya khawatir.
Vanya segera tersadar. "Ah, iya. Aku baik kok," jawab Vanya.
Kezia langsung tersenyum sumringah. "Baiklah, ayo kita ke dalam. Mama sudah menunggu," katanya sambil menarik lengan Vanya. Mendapat tarikan pada lengannya, Vanya hanya mengikuti kemana Kezia membawanya.
"Kakak usia berapa?" Tanya Kezia sambil berjalan menuntun Vanya menuju teras samping tempat mamanya berada.
"Aku sembilan belas tahun. Kalau Kezia berapa?" Tanya Vanya.
Gadis itu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Vanya. "Kakak jangan panggil Kezia dong, kesannya seperti orang lain. Cukup panggil Zia aja," katanya sambil masih mengulas senyum. "Aku tujuh belas tahun kak, tiga bulan lagi baru mau delapan belas tahun," lanjutnya.
Vanya mengangguk mengiyakan. "Masih SMA?" tanya Vanya.
"Iya kak. Aku kelas XII semester satu ini. Eh, itu mama," tunjuk Kezia pada sang mama yang baru saja masuk ke dalam rumah utama.
Mendengar suara sang putri, mama Tari langsung menoleh. Seketika senyum terbit dari bibirnya saat melihat Vanya bersama sang putri.
"Iya Ma. Ini baru sampai dan langsung ketemu Zia," jawab Vanya seusai menyalami mama Tari.
"Baiklah, sekarang ikut mana yuk," ajak mama Tari. "Zia, kamu cari Rosi, bilang bunganya seperti yang mama bilang tadi," kata mama Tari.
"Tapi aku ingin ikut Ma," Kezia cemberut mendengar perintah sang mama. "Aku ingun lebih kenal dengan kakak ipar. Aku kan hanya sebentar di sini," gerutunya.
"Sudah, besok-besok juga bisa kok," kata mama. "Segera bilang ke Rosi seperti yang mama bilang," lanjut mama Tari sambil menarik lengan Vanya. Vanya mengikuti mama Tari yang hendak membawanya menuju lantai dua rumah itu.
"Sayang, ayo masuk," ajak mama Tari ketika sudah sampai di sebuah ruangan dan membukanya. Vanya menurut dan segera masuk. Vanya melihat sekeliling. Dilihatnya banyak buku tertata rapi pada rak di sepanjang dinding. Ada satu set sofa yang berada di dekat jendela. Vanya masih berdiri mematung di dekat rak buku.
"Ayo sayang, kita duduk dulu. Mama mau ngomong sama kamu," ajak mama Tari yang di ikuti oleh Vanya.
"Ini ruang perpustakaan keluarga Ma?" tanya Vanya.
"Iya sayang, ini perpustakaan keluarga. Kamu suka membaca?" tanya mama Tari.
"Iya Ma, lumayan suka. Apalagi novel, hehehe," jawab Vanya sambil mengulas senyum.
Mendengar jawaban Vanya mama Tari merasa senang. "Sayang, mama boleh ngomong sesuatu?" Tanya mama Tari.
Vanya mengerutkan dahinya. Dia merasa sedikit khawatir dengan apa yang akan dikatakan sang calon mama mertua. "Ada apa Ma?" Tanya Vanya dengan sedikit was-was.
Mama Tari tersenyum ketika melihat ekspresi khawatir Vanya. "Jangan khawatir sayang, mama hanya mau menitipkan Kenzo," kata mama Tari berusaha menenangkan Vanya.
Vanya pun semakin bingung. Apa maksudnya menitipkan, bukanya seharusnya pihak laki-laki yang harus dititipi, batin Vanya.
"Maksudnya bagaimana Ma?" Tanya Vanya.
Mama Tari masih mengulas senyumannya sebelum menjawab pertanyaan Vanya. "Begini sayang, seperti yang kita ketahui usia Kenzo memang sudah sangat cukup untuk menikah. Namun, dia sama sekali tidak memiliki pengalaman untuk berdekatan dengan perempuan manapun, kecuali kamu tentunya. Mama sangat bersyukur dan berterima kasih kepadamu karena sudah hadir dalam kehidupan Kenzo,"
"Sebagai orang tua, mama mohon kamu dapat selalu ada untuk Kenzo. Bisa selalu menemaninya, membantunya, menjaganya, mengingatkannya jika dia sedang berada di jalan yang salah. Kenzo itu sangat manja sayang, dia akan terlihat kuat dan arogan hanya saat bekerja. Dia cenderung sangat dingin dengan para karyawan dan para koleganya. Dia juga sering berbicara seperlunya saja, jarang bercanda. Namun, jika saat bersama keluarga, dia akan berubah menjadi sosok yang berbeda,"
"Sayang, mama hanya ingin minta tolong kamu bisa membantu untuk merubah Kenzo agar menjadi sedikit lebih lembut. Siapa tahu dengan hadiran kamu di hidupnya, Kenzo akan menjadi lebih lembut dan lebih bisa ceria. Mama sebenarnya kasihan dengan para pegawai Kenzo. Mereka terkadang sangat takut pada Kenzo," kata mama Tari panjang lebar.
Vanya masih berusaha mencerna perkataan mama Tari. Namun, dia segera menganggukkan kepala sebagai tanda mengerti. "Iya Ma. InsyaAllah, Vanya akan berusaha sebaik mungkin," kata Vanya sambil mengulas senyumannya. Seketika senyum mama Tari kembali terbit.
"Terima kasih sayang," kata mama Tari sambil memeluk Vanya. "Oh iya, satu lagi. Mama mohon, nanti jangan menunda untuk memiliki momongan ya. Mama sudah berusia 52 tahun, papa juga sudah 55 tahun. Sudah saatnya kami menimang cucu kan," kata mama Tari sambil melepas pelukannya.
Seketika Vanya langsung cengo. Dia mengerjab-ngerjabkan matanya untuk menghilangkan keterkejutannya. "I-iya Ma," jawab Vanya sekenanya. Dia bingung harus menjawab apa.
"Terima kasih sekali lagi sayang. Mama senang akhirnya perseneling Kenzo tidak akan karatan lagi," kata mama sambil tersenyum tanpa dosa.
"Hhhaaa,"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=\=
Masih adakah yang menunggu?
Habis part ini wedding day ya ka, 🤗
Dan dimulailah dunia halunya 🤭🤭
Jangan lupa dukungannya ya, like, comment dan vote.
Thank you