
Kinan langsung menutup mulutnya karena keceplosan. Adrian yang melihat tingkah Kinan, hanya bisa mengerutkan kening. Kinan yang merasa malu pun langsung beranjak berdiri.
"Ehm, a-aku ambil tas dulu," ucap Kinan sambil beranjak menuju kamar tamu untuk mengambil baju kotor dan tasnya.
Di dalam kamar, Kinan hanya bisa memegangi daadanya. Jantungnya berdegup sangat kencang seperti mengikuti lomba lari marathon.
"Astaga! Kenapa otakku jadi error begini. Jantungku juga jadi berdegup sangat kencang hanya melihat penampilan si Om padahal dia berpakaian lengkap. Bagaimana jika dia tidak, ah sudahlah." Kinan menggeleng-gelengkan kepala untuk menghalau pikiran yang amburadul tidak karuan.
Dia bahkan masih berdiri di balik pintu kamar tamu yang ditempatinya. Hingga Kinan tidak sadar sudah berada di dalam sana sedikit lebih lama.
Adrian yang sudah menunggunya terlalu lama, langsung berjalan ke arah pintu kamar tamu. Dia bahkan harus mengetuk pintu kamar tamu tersebut untuk mengajak Kinan segera berangkat.
Tok tok tokk
"Apa yang kamu lakukan di dalam sana? Kenapa lama sekali?" Adrian mengetuk pintu sambil bertanya.
Kinan yang saat itu tengah berada di balik pintu, langsung terlonjak kaget sambil memegangi daadanya. Dia segera menoleh dan menjawab Adrian.
"Iya, sebentar. Aku baru dari kamar mandi," jawab Kinan buru-buru.
Setelahnya, dia segera berjalan menuju meja rias untuk melihat penampilannya agar tidak kebanting dengan Adrian.
"Sudah oke. Hhmm, sepertinya baju ini pas untuk tubuhku. Dan juga, tidak terlalu malu-maluin saat berada di samping si Om," ucap Kinan sambil berdiri di depan meja rias.
Namun, seketika dia kembali tersadar dengan ucapannya. Lagi-lagi Kinan menggeleng-gelengkan kepala berusaha untuk menghilangkan pikiran ngelanturnya.
"Haisshhh, kenapa dengan otakku ini?" Kinan memukul-mukul kecil kepalanya.
Setelah itu, dia segera mengambil tas dan juga baju kotornya yang sudah dimasukkan ke dalam paper bag. Kinan harus bergegas agar Adrian tidak harus menunggunya lebih lama lagi.
Begitu keluar dari kamar tamu, Kinan mendapati Adrian yang tengah berdiri sambil bersedekap dan menatap tajam ke arahnya. Kinan sedikit terkejut, namun dia berusaha tetap terlihat tenang.
"Apa yang kamu lakukan di dalam sana?"
"Cckkk, memangnya apa yang mau aku lakukan? Aku bilang baru dari kamar mandi, kan?"
Tatapan Adrian masih menelisik ekspresi Kinan. Mendapati tatapan seperti itu, tentu saja Kinan merasa risih. Namun, dia berusaha menenangkan diri. Entah mengapa tatapan seorang Adrian Hanggara bisa membuat jantungnya kebat kebit.
"Jadi berangkat sekarang, kan? Aku tidak mau sampai kemalaman," ucap Kinan.
"Hhhmmm."
Adrian langsung mengambil jaketnya yang disampirkan pada sandaran kursi, dan menyambar kunci mobil. Dia akan mengantar Kinan dengan menggunakan mobilnya yang lain. Sebenarnya, Adrian berniat mengantarkan Kinan menggunakan motor. Namun, saat teringat jika pakaian Kinan tidak memungkinkan untuk dibonceng naik motor, Adrian mengurungkan niatnya.
Tanpa sepatah kata pun, Adrian langsung berjalan menuju pintu. Kinan juga segera mengekori Adrian.
Setelah mengunci pintu, Adrian dan Kinan berjalan menuju lift. Mereka berjalan dalam keheningan. Hingga pintu lift terbuka dan keduanya memasuki kotak besi tersebut, Adrian dan Kinan masih tidak bersuara.
Saat lift sudah sampai di lantai enam, ada tiga orang laki-laki yang baru saja masuk ke dalam lift tersebut. Rupanya, mereka sama-sama hendak menuju basement. Salah satu dari tiga orang laki-laki tersebut menatap Kinan dengan tatapan jahil. Bahkan, tatapannya seperti ingin memangsa Kinan saat itu juga.
Adrian yang melihat hal itu, langsung bertindak. Dia bergeser ke samping Kinan, dan langsung menariknya ke dalam pelukan.
Grep.
\=\=\=\=
Aaarrrgghh, jantung aman?
Mohon maaf jika lama lolos reviewnya.