
"Ini akan sakit di awal, coba tahan sebisa mungkin." Kata Bian sambil mencoba bekerja di bawah sana.
"Aauuwwhhh, aduuuhhh pelan-pelan, Mas. Kuncinya nggak bakal muat ini. Auuuhhh i-ini sekeras pentungan di pos ronda. Aduuhhh duuuhhhh terus Mas."
"Eh, ini disudahi dulu, Dek?" Tanya Bian panik sambil menghentikan aktivitasnya. Dia merasa tidak enak saat melihat Revina kesakitan.
Dengan cepat Revina menggelengkan kepalanya. Tentu saja dia tidak ingin menghentikan aktivitas yang sedang mereka lakukan. Dia harus berusaha menahan rasa yang diakibatkan oleh aktivitas mereka.
"Jangan, Mas. Lanjutkan. Aku tidak mau menundanya lagi. Kasihan perkutut nanti ak…." Belum selesai Revina berbicara, Bian sudah melakukan apa yang sempat ditundanya. Dengan sekali gerakan, dia berhasil memperkenalkan si perkutut pada rumah barunya.
"Aaaarrgggghh eeemmmpppphhhh eeuugghhhh, eemmmmppphhh."
Revina hendak berteriak saat merasakan sesuatu yang mendesak di bawah sana. Namun, bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Bian. Tangan Bian juga tidak tinggal diam. Sia berusaha mengalihkan perhatian Revina dengan memberikan sentuhan-sentuhan pada bagian tubuh Revina yang mampu di jamah oleh tangannya.
Bia masih membiarkan si perkutut berkenalan dengan rumah barunya. Dia masih mendiamkannya tanpa bergerak sedikitpun sebelum Revina beradaptasi dengannya.
"Eeuugggghhh, Mas. I-ini mengganjal. Gerakin gih." Pinta Revina sambil sedikit bergerak-gerak di bawah sana.
"Yakin sudah tidak sakit lagi?" Tanya Bian meyakinkan permintaan Revina.
"Ya masih sakit lah. Orang segede pentungan pos ronda begini isshhh. Tapi jika diam begini tambah sakit, Mas. Gerakin gih." Pinta Revina.
"Baiklah. Aku akan pelan-pelan." Kata Bian.
Satu menit, dua menit, hingga hampir lima menit Bian masih bergerak sangat pelan untuk membuat Revina tidak sakit lagi. Sementara Revina sudah mulai bergerak-gerak gelisah.
"Maaasss, cepetin dong. Geli ini mah."
"Baiklah, jangan minta untuk berhenti lagi setelah ini." Kata Bian mengubah kecepatannya.
"Aaauuhhhh iyaaaahh aaahhhhh. Kok ra-rasanya tembus kemana-mana ya, Mas." Racau Revina di tengah-tengah gempuran Bian.
"Hhaahh, maksudnya?"
"I-itu pentungan."
"Nggak apa-apa. Beruntung bisa tembus sampai leher." 🙄🤔
Bian dan Revina saling berteriak mengekspresikan apa yang mereka rasakan. Aktivitas sore pertama Bian dan Revina benar-benar membuat mereka mereka merasakan sesuatu yang luar biasa untuk pertama kali. Mereka baru berhenti menjelang petang. Entah mereka akan melanjutkannya nanti malam atau tidak. Othor caveks ngetik beginian 🤦♀️
~
Sementara di Jakarta, El dan Fara juga tidak keluar rumah. Hari itu, Fara membantu El untuk menyiapkan kebutuhannya untuk pergi ke kantor esok hari.
"Aku benar-benar nggak nyaman pakai setelan ini, Yang." Kata El sambil mengikuti langkah Fara yang keluar masuk walk in closet.
"Kenapa, Mas? Daddy juga biasanya pakai seperti ini."
"Nggak nyaman, Yang. Gerah."
"Mas, jangan dibiasakan seperti itu dong. Biar pun tidak nyaman, tetap harus dibiasakan. Daddy dan om Reyhan juga selalu memakai setelan seperti ini. Lagipula, kamu kan masih baru, Mas. Setidaknya, berikan kesan yang baik di hadapan yang lainnya." Bujuk Fara sambil mengusap-usap dada bidang sang suami.
Jika sudah seperti itu, El benar-benar tidak bisa berkutik. Entah mengapa dia benar-benar tidak bisa menolak permintaan sang istri.
"Baiklah. Aku akan berusaha untuk membiasakan diri dengan pakaian itu." Jawab El sambil mendengus kesal.
Pasalnya selain tidak nyaman, El juga tidak mau dirinya mendapati ejekan dari sahabatnya Zee. Jika Zee mengetahui dia memakai pakaian formal seperti itu, bisa dipastikan sahabatnya itu pasti akan tertawa terbahak-bahak mengejeknya. Zee sendiri memang jarang memakai pakaian formal ke kantor. Dia lebih nyaman memakai pakaian casualnya jika bekerja. Hanya pada saat-saat tertentu saja dia akan memakai pakaian formal. Lagi pula, siapa yang akan berani mengomentari penampilan Zee?
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Jika ada yang jawab Kiara, benar sekali 🤭
Jika berkanan silahkan mampir di ig othor @keenandra_winda. Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote untuk othor ya. Terima kasih.