The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 68



Malam itu, Rean ikut makan malam dengan keluarganya. Dia juga bergantian dengan sang kakak untuk menjaga si kembar. Rean benar-benar berusaha untuk melupakan pikirannya yang sedang kalut dengan adanya si kembar.


Shanum yang melihat jika adiknya tersebut tengah gundah pun berjalan mendekati Rean. Saat itu, mereka sedang berada di dalam kamar Shanum dengan Drew dan Dryn yang sedang bermain-main di atas tempat tidur.


"Sebenarnya ada apa, Re? Apa ada masalah dengan distro kamu?" tanya Shanum sambil mendudukkan diri di depan Rean yang sedang bermain-main dengan Drew dan Dryn.


Rean menoleh ke arah sang kakak. Dia berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tidak terlihat khawatir dan cemas. 


"Nggak ada apa-apa, Kak. Semuanya beres, kok," ucap Rean.


Shanum tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh sang adik. Kening Shanum berkerut dengan tatapan mata yang tidak lepas menatap wajah Rean.


"Kamu tidak sedang ada masalah dengan Dena kan, Re?" Tanya Shanum to the point.


"Eh, memangnya aku ada masalah apa, Kak?"


Shanum mencebikkan bibir. "Ckckck, mana kakak tau kamu ada masalah apa. Tapi Re, jika kamu sedang ada masalah, jangan dipendam sendiri. Kamu punya kakak, mama dan papa yang akan selalu ada untuk kamu. Jangan pernah merasa sendirian, Re."


Rean mengangguk-anggukkan kepala. "Iya, Kak. Aku pasti akan cerita jika aku ada masalah."


Rean tidak mungkin mengatakan masalahnya kepada Shanum. Dia tidak ingin membebani sang kakak dengan masalahnya. Rean merasa kasihan saat sang kakak harus menjaga kedua buah hatinya sendiri sementara sang suami sedang berada di luar negeri. Ya, meskipun sebentar lagi mereka akan menyusul ke Kanada.


Setelah membantu kedua keponakannya terlelap, Rean segera beranjak keluar kamar. Dia ingin mencari sang papa untuk menanyakan alasan perjodohannya dengan Dena. Rean berjalan menuju ruang tengah, dan tengah melihat sang papa sedang mengotak-atik laptopnya. Sepertinya, papa Bian sedang sibuk.


Rean mendudukkan diri di sofa disamping sang papa. Papa Bian menoleh sekilas ke arah sang putra, sebelum kembali menatap layar laptopnya.


"Ada apa, Re?"


Rean menoleh ke arah papa Bian. "Papa sibuk?"


"Ada yang mau aku tanyakan, Pa. Ehm, Mama dimana?" Rean celingak celinguk mencari keberadaan sang mama. Dia tidak ingin sang mama mengetahui apa yang sedang mengganggu pikirannya.


"Mama kamu sedang membereskan baju yang habis di setrika. Kamu ingin ngobrol?" tanya papa Bian sambil menatap wajah sang putra.


"Ehm, iya, Pa. Tapi tidak di rumah. Aku tidak mau mama mengetahuinya."


Papa Bian mengangguk-anggukkan kepala. "Baiklah. Kita keluar sebentar lagi. Papa ingin menikmati ronde dekat minimarket itu. Tapi, tunggu papa bereskan pekerjaan dulu."


"Baiklah."


Tak berapa lama kemudian, papa Bian terlihat sudah selesai dengan pekerjaannya. Dia segera membereskan laptop dan menyimpannya. Setelah itu, dia segera mengajak Rean pergi untuk mencari ronde.


"Jangan terlalu malam pulangnya, Mas. Jika kemalaman, kamu tidur saja nanti sama Rean," ucap mama Revina sambil mengekori kedua laki-laki tersebut menuju garasi.


"Eh, kenapa begitu?" Papa Bian terlihat tidak terima.


"Hhhhh, iya, iya. Kami tidak akan pulang terlalu malam." Papa Bian berusaha menenangkan mama Revina.


"Mama tenang saja. Nanti, jika ada yang gangguin Papa, pasti akan aku hempaskan hingga kutub utara. Biar mereka main dakon dengan beruang kutub."


Mama Revina hanya bisa mencebikkan bibir. Setelah itu, papa Bian dan Rean segera beranjak menuju tempat penjual ronde yang berada di dekat minimarket. 


Tak berapa lama kemudian, mobil yang dikemudikan Rean sudah sampai di depan penjual ronde tersebut. Mereka segera memasuki warung tersebut, dan memesan ronde. Beberapa saat kemudian, pesanan ronde mereka sudah datang. 


"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan, Re?"