
Cello mendadak panik. Entah mengapa dia merasakan ada yang tidak beres dengan tatapan sang istri.
Shanum segera melepaskan belitan tangan Cello. Di dekatkannya wajahnya di depan wajah sang suami. Kedua pasang mata mereka saling mengunci.
"Akan aku bantu memberitahu semua rekan kelompokmu jika kamu sudah taken, Mas."
"Eh, ba-bagaimana caranya?" tanya Cello bingung. Pasalnya, dia masih belum bisa mengerti apa yang dimaksud oleh sang istri.
Tanpa menjawab pertanyaan sang suami, Shanum mendekatkan wajahnya pada leher Cello. Secepat kilat, Shanum memberikan banyak tanda stempel alami di leher tersebut.
Cello yang memang juga memiliki titik sensitif di lehernya, langsung menggeram dan mere*mas b*k*ng sang istri dengan keras. Dia benar-benar sudah terpancing dengan aksi Shanum.
"Aaaaahhhhh, Ya-yaaanngggg, eeuughhhhhh," lenguh Cello. Meskipun dia merasa sangat geli, namun dia juga menyukai apa yang dilakukan oleh sang istri.
Hingga aktivitas yang dilakukan oleh Shanum langsung terhenti saat mendengar sebuah suara dari belakang mereka.
"Astaga, Mas. Ternyata anak dan menantu kita sama-sama ganas. Masa iya mereka mau buat adiknya twins di depan pintu seperti ini?" kata mommy Fara yang terkejut saat memasuki rumah dan dihadapkan pada adegan Cello dan Shanum.
Seketika Shanum segera melepaskan diri dari sang suami. Wajahnya langsung bersemu merah saat menyadari jika aktivitas mereka dipergoki oleh mommy Fara dan juga daddy El.
"Hahahaha, ternyata sekarang kamu ada penerusnya, Yang." Kali ini daddy El yang menggoda sang istri.
"Apaan sih, Mas." Gerutu Mommy Fara dengan wajah merona. Mommy Fara benar-benar bisa melihat dirinya pada diri Shanum.
"Kok apa sih? Kamu nggak nyadar jika dulu kamu juga sering memberi stempel alami pada leherku agar semua orang tahu jika aku sudah taken?" Goda daddy El sambil tergelak.
Cello dan Shanum hanya bisa menatap kedua orang tuanya tersebut dengan tatapan tidak percaya.
Hari itu, Cello datang ke tempat pelatihan dengan menggunakan transportasi umum seperti biasanya. Beberapa orang sempat terkejut saat melihat banyak sekali stempel alami pada leher hingga rahang Cello.
Cello yang menyadari hal itu benar-benar merasa malu. Namun, jika hal itu bisa dilakukan untuk menjelaskan tentang statusnya, dia dengan senang hati melakukannya.
"Eh Cell, semalam ke klub mana? Sepertinya pasangan kamu garang juga," kata David, teman satu kelompok Cello yang berasal dari Swedia.
"Oh, aku tidak pernah ke klub. Cukup di rumah bermain dengan anak dan istriku," jawab Cello dengan senyum bahagiannya.
"Kamu sudah menikah dan punya anak?!" Tanya David terkejut.
"Hhmmm. Aku sudah menikah dan punya dua orang anak."
"Waaahhh, serius?! Bukannya kamu masih sangat muda, Cell?"
"Eh, usia muda tidak bisa menjadi acuan untuk bisa menikah atau tidak. Jika kita sudah siap, mengapa kita harus menundanya. Di dalam agamaku, memang dianjurkan untuk segera menikah jika kita merasa sudah siap dengan tanggung jawab tersebut."
Beberapa orang yang berada di sana mengangguk-anggukkan kepalanya setuju. Hal yang dikatakan oleh Cello tersebut ternyata juga didengar oleh Alicia. Dia merasa sangat kagum dengan Cello. Namun, dia juga mengetahui posisinya. Dia tidak mungkin mengganggu rumah tangga orang lain.
Malam hari seperti biasa, Cello dan daddy El sedang berbicara di teras sambil menikmati secangkir kopi. Mereka berbicara tentang banyak hal. Hingga tiba-tiba mommy Fara memanggil daddy El. Daddy El segera beranjak menuju kamarnya dan disusul oleh Cello yang juga beranjak menuju kamar.
Ceklek.
Cello melihat Shanum sedang menyusui Dryn. Cello langsung melangkahkan kakinya menuju sang istri dengan tatapan yang tak lepas pada apa yang dilakukan oleh bibir mungil Dryn. Shanum yang menyadari hal itu hanya bisa mendengus kesal. Dia sudah menebak apa yang diinginkan oleh sang suami.
"Kalau kamu mau, yang sebelah nganggur, Mas."
"Eh, nanti buat Drew bagaimana?"
"Ya sisakan, jangan dihabiskan."
"Jangan! Aku nggak mau jika kedua putraku kekurangan. Aku yang bawah saja, kan warnanya sama. Hehehe."
Seketika Shanum membulatkan kedua bola matanya dengan ekspresi horornya.
"Kok aku merasa di serang habis-habisan oleh tiga laki-laki ya, Mas?"
Haduuuhhhh. Memang ada yang seperti Cello itu 🤦♀️
Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote buat othor ya.