
Malam itu, Rean benar-benar bahagia. Dia juga sudah memesan hotel seperti permintaan sang istri. Hampir semalaman dia tidak bisa tidur dan senyum-senyum sendiri memikirkan apa yang akan dilakukannya besok malam, gaya apa yang akan dipakainya, bahkan, berapa lama durasi yang akan dibutuhkannya. Hampir semua dipikirkan oleh Rean.
Dena yang sudah terlelap di sampingnya pun tidak menyadari tingkah sang suami. Rean menoleh ke samping dan memperhatikan wajah sang istri yang terlihat damai dalam tidurnya.
Rean mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. Dikecupnya pucuk kepala Dena dengan penuh kasih sayang. Tangan kannya membelai lembut pipi kiri sang istri. Rasanya, Rean betah berlama-lama memandangi wajah damai tersebut.
Tak terasa, hingga akhirnya Rean pun ikut terlelap. Rean dan Dena terlelap dengan perasaan damai.
Pagi menjelang, Rean dan Dena sudah mulai beraktivitas seperti biasa. Hari ini, Rean ada kuliah mulai dari jam pertama hingga jam ketiga. Seperti biasa, Dena membantu sang suami untuk menyiapkan semua keperluannya.
"Mas, kamu sudah jadi memesan hotel?" Dena bertanya dengan wajah merona karena malu.
Rean menolehkan kepala kepada sang istri. Senyum tersungging di bibirnya dengan tatapan hangat.
"Sudah. Semalam aku sudah memesannya. Ada apa? Apa kamu ingin membatalkannya?" Rean berbalik dan kini sedang menghadap sang istri.
Dena menggelengkan kepala. "E-enggak, Mas. Hanya saja, besok kamu masih ada jadwal kuliah. Apa tidak apa-apa kita pergi malam ini?"
"Nggak apa-apa, Yang. Besok kan hari Jum'at. Aku hanya ada satu mata kuliah. Kalaupun bolos, aku juga tidak masalah." Rean tersenyum lebar.
Dena mencebikkan bibirnya. Dia tidak suka mendengar jawaban sang suami. Tentu saja hal itu bertentangan dengan profesinya.
"Aku nggak suka kamu bolos kuliah, Mas. Aku nggak mau kamu harus ketinggalan mata kuliah dan harus mengulang lagi." Dena mencebikkan bibirnya.
"Hehehe, maaf, Yang. Aku hanya bercanda, kok."
Sementara di rumah, Dena juga mulai bersiap-siap. Hari itu, dia akan mempersiapkan diri untuk memberikan yang terbaik kepada sang suami nanti malam. Dena mulai menyiapkan perlengkapannya seperti baju, aromaterapi hingga baju haram namun halal yang akan digunakannya di depan sang suami nanti malam.
Wajah Dena terasa panas saat memasukkan baju-baju tersebut kedalam koper. Koper? Ya, Rean memesan hotel selama tiga hari. Dia ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan sang istri di luar rumah. Rean juga bilang, selama tiga hari itu dia ingin memanjakan sang istri untuk tidak terlalu memikirkan pekerjaan rumah. Dena merasa sangat bahagia mendengarnya.
Sepanjang hari, Dena tak berhenti mengulas senyumannya. Entah mengapa dia merasa sangat berdebar-debar saat membayangkan aktivitasnya nanti malam.
Menjelang pukul empat sore, Rean sudah sampai rumah. Dia sempat mampir ke distro sebentar untuk menitipkan distro kepada karyawannya. Rean berpamitan karena selama tiga hari tidak akan datang ke distro karena ada urusan penting.
Rean segera melangkahkan kaki menuju unit apartemennya. Rasanya, dia sudah tidak sabar untuk memulai aktivitas mereka sore itu juga.
"Assalamualaikum," Rean membuka pintu sambil mengucapkan salam.
Saat itu, Dena yang sedang berada di dapur segera berjalan menghampiri sang suami.
"Waalaikumsalam. Tumben pulang sore, Mas?" Dena segera mengecup tangan sang suami seperti biasa jika Rean baru pulang.
"Maaf, Yang. Aku mampir ke distro dulu untuk menitipkannya kepada anak-anak. Kita kan mau 'ndekem' di hotel selama tiga hari. Hehehe."
Wajah Dena langsung merah setelah mendengar perkataan sang suami. Setelah itu, Rean segera membersihkan diri dan bersiap. Hal yang sama juga dilakukan oleh Dena. Mereka berdua menaruh harapan besar agar malam ini berjalan dengan lancar dan puasa mereka bisa segera batal.
\=\=\=
Part setelah ini, mulai 'soft opening' ya. Kasih dukungan yang banyak buat Rean biar tenaganya full.