The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 83



Dena langsung mengerucutkan bibir sambil menatap Rean dengan ekspresi kesalnya. Bisa-bisanya Rean mengatakan hal seperti itu. Memangnya siapa yang mau cium di bibir, batin Dena.


"Memangnya siapa yang mau cium di bibir? Itu hanya mau kamu saja, Mas." Dena masih menggerutu karena sikap jahil Rean.


Melihat sang istri tengah kesal, Rean hanya bisa tergelak.


"Hehehe, maaf, Yang. Habis gemes sekali. Sini cium dulu. Emuuaahh, emuuaahhh." Rean akhirnya memberikan beberapa kecupan pada pipi sang istri.


Meskipun sudah beberapa kali mendapat perlakuan yang sama, namun Dena masih merasa malu. Dia tidak bisa menyembunyikan rona merah wajahnya setiap kali Rean menghujami wajahnya dengan ciuman bertubi-tubi seperti itu.


Hari berganti hari. Selama kurang lebih tiga minggu ini, Dena dan Rean berada di rumah papi Hendra. Selama itu pula, Rean dengan telaten membantu Dena setiap dia membutuhkan bantuan.


Dena terpaksa cuti dari kampus karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk mengajar. Sementara Rean, dia sudah mulai memasuki semester dua. Jadwal perkuliahannya juga sudah mulai aktif seperti biasa. 


Memasuki minggu kedua perkuliahan Rean, dia lebih sering pulang larut malam. Jarak rumah orang tua Dena dan kampus Rean terbilang cukup jauh. Perjalanan Rean bisa membutuhkan waktu satu setengah sampai dua jam untuk sampai di kampus. Belum lagi, Rean harus mampir ke distronya sebelum pulang ke rumah papi Hendra.


Hal itu yang menyebabkan Rean selalu pulang larut malam. Bahkan, Rean bisa sampai rumah menjelang pukul sepuluh malam. Begitu sampai rumah, biasanya Rean langsung makan malam dan membersihkan diri. Setelah itu, dia pasti akan langsung tertidur.


Dena yang menyadari hal itu, langsung mengutarakan keinginannya untuk segera kembali ke apartemen. Dia tidak tega melihat Rean setiap hari kecapekan karena jarak rumah dengan kampus lumayan jauh. 


Rean juga menolak permintaan Dena untuk tinggal sementara di apartemen atau rumah orang tuanya yang jaraknya lebih dekat dengan kampus. Namun, Rean menolaknya. Dia tidak ingin tinggal terpisah dengan sang istri.


Weekend itu, diputuskan Dena dan Rean kembali ke apartemen. Dena yang sudah mulai bisa berjalan meskipun menggunakan bantuan kruk, merasa kondisinya sudah lebih baik. Dia tidak ingin semakin merepotkan orang tua dan sang suami.


Setelah sarapan, Dena dan Rean langsung berangkat menuju apartemen. Rean sejak kemarin sudah meminta bantuan petugas kebersihan yang biasa membersihkan apartemen untuk membersihkan apartemen mereka. Rean tidak mau jika sang istri harus bersusah payah membersihkan apartemen.


"Mas, di apartemen sudah ada bahan makanan?" tanya Dena saat masih dalam perjalanan menuju apartemen.


"Sudah, Sayang. Aku sudah meminta petugas kebersihan kemarin untuk sekalian berbelanja semua kebutuhan rumah tangga. Aku nggak mau kamu sampai kebingungan. Memangnya masih ada yang ingin kamu beli?" Rean menoleh ke arah Dena sambil tersenyum.


"Enggak kok. Kalaupun ada yang aku butuhkan, aku bisa pesan online."


Dena tampak sangat lega saat memasuki apartemennya. Dia merasa sangat rindu dengan tempat tinggal yang selama beberapa tahun terakhir ini ditempatinya.


"Mau istirahat sekarang?" tanya Rean setelah mengantarkan petugas apartemen keluar.


"Ehm, mandi dulu deh, Mas. Badanku lengket semua." Dena masih menundukkan kepala. Dia merasa malu mengatakan hal itu kepada Rean.


"Baiklah. Aku akan membantu kamu setelah membereskan barang-barang ini," ucap Rean sambil tersenyum.


Rean hendak beranjak menuju kamar tamu tempat dirinya dulu tidur sebelum ke Surabaya. Dena yang melihat hal itu langsung mencekal lengan Rean yang sedang membawa kopernya.


Rean menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Dena dengan kening berkerut.


"Ada apa? Apa kamu membutuhkan sesuatu?"


Dena menggelengkan kepala sambil menggigiti bibir. "Ti-tidak. Kamu mau ngapain, Mas?"


"Mau beresin barang-barang dulu, Yang."


"Ja-jangan kembali ke kamar itu. Ke kamarku saja." Dena menundukkan kepala sambil mengatakannya. Wajahnya terasa panas. Dia benar-benar malu.


Rean langsung berbalik menghadap Dena. "Kamu yakin, Yang?"


Dena menganggukkan kepala dengan mantap. Wajahnya terlihat merona. "I-iya. Saat di rumah Papi kita juga tidur satu kamar, kan?"


"Yes, aku bisa nyicil dong mulai sekarang. Yes yes yes!"


Bugh.