
Rean segera mengganti baju dan sarungnya. Setelah itu, dia segera beranjak menuju ruang makan. Bau harum masakan Dena sudah tercium dari depan pintu kamar Rean. Dia langsung menuju meja makan tersebut dan melihat masakan perdana sang istri.
"Waahh, sepertinya enak nih. Sambal goreng dari mami juga ada," gumam Rean sambil menyunggingkan senyumannya.
Tak berapa lama kemudian, Dena sudah terlihat keluar dari kamarnya. Dia melihat Rean sudah duduk di kursi meja makan dan tengah menunggunya. Sebuah senyuman masih tersungging di bibir Rean.
"Belum makan?" tanya Dena sambil mendekat ke arah Rean.
"Mana mungkin aku bisa makan jika istriku belum makan."
Dena mencebikkan bibir sambil menggeser kursi di sebelah Rean. Tanpa diminta, Dena mengambil piring Rean dan mengisinya dengan nasi.
"Segini cukup?" tanya Dena sambil menunjukkan nasi ke arah Rean.
"Kebanyakan, kurangin dikit nasinya."
Dena segera mengangguk dan mengurangi nasi pada piring Rean. "Mau pakai lauk apa?"
"Yang kamu masak hari ini yang mana?" bukannya menjawab pertanyaan Dena, Rean justru balik bertanya.
"Eh, ini tumis sama bakwan."
"Ita, pakai itu saja."
Dena mengangguk dan segera mengambilkan lauk untuk Rean. Lagi-lagi Rean masih menyunggingkan senyumannya.
"Ini." Dena memberikan piring yang sudah penuh dengan nasi dan lauk kepada Rean.
"Terima kasih, Sayang," ucap Rean dengan senyuman lebarnya. Jangan lupakan kedipan maut Rean saat menerima piring pemberian sang istri.
Apa yang dirasakan Dena, tentu saja hatinya langsung meleyot tak karuan. Namun, bukan Dena namanya jika tidak menjaga gengsi.
"Ehem." Dena berdehem untuk menyamarkan kegugupannya.
Setelah itu, mereka makan dalam diam. Rean tampak sangat antusias dengan makanan yang dimasak oleh istrinya. Ini pertama kalinya Rean memakan masakan istri. Tidak mengecewakan. Bahkan, Rean terlihat sangat antusias.
Mereka makan sambil sesekali mengobrol. Hingga, tak terasa makan malam mereka pun telah selesai. Tanpa canggung, Rean membantu Dena membereskan sisa makan malam mereka.
"Nggak usah, Re. Biar aku saja." Dena mencegah Rean saat hendak membawa piring kotor ke tempat cucian piring kotor.
"Ckckck, siaga apaan?" Dena mencebikkan bibir.
Setelah beberapa kali bolak balik, Rean memutuskan masuk ke kamarnya untuk mengambil sesuatu. Tak berapa lama kemudian, dia terlihat kembali ke ruang makan dengan membawa sebuah amplop dan memberikannya kepada Dena.
Kening Dena pun berkerut saat menerima amplop pemberian Rean. "Apa ini?" tanya Dena.
"Itu uang, untuk kamu."
"Uang? Untuk apa?"
"Tentu saja untuk biaya kebutuhan kita."
Dena masih terdiam. Dia mulai mengerti maksud Rean. "Maksud kamu, ini nafkah begitu?"
Rean menganggukkan kepala. "Iya."
Dena menggelengkan kepala. "Kamu tidak harus melakukan ini, Re. Aku juga tidak meminta kamu untuk memberiku nafkah lahir. Setidaknya, tunggu sampai kamu lulus kuliah dan dapat pekerjaan," ucap Dena sambil memberikan kembali amplop tersebut kepada Rean.
"Kita kan sudah menikah. Jadi, sudah seharusnya aku sebagai seorang suami memberikan nafkah lahir dan batin kepada istrinya," kata Rean.
"Aku tahu itu, nggak usah dijelaskan lagi. Jangan kira aku anak kecil yang tidak mengetahui hal itu!" jawab Dena.
"Lalu, jika kamu sudah tahu hal itu, kenapa kamu menolak uang yang aku berikan?" tanya Rean dengan alis terangkat. Dia benar-benar tidak mengerti maksud perempuan tersebut.
Terdengar helaan napas perempuan tersebut sambil mengurai lipatan tangannya. Tatapan matanya masih menatap tajam ke arah Rean.
"Dengar, Re. Bukan aku tidak mau menerima uang pemberian kamu. Tapi kamu masih kuliah, aku tidak mau kamu merasa terbebani dengan nafkah yang harus kamu berikan untukku. Aku sama sekali tidak mempermasalahkannya. Aku tahu jika kamu berasal dari keluarga yang sangat mampu, tapi aku juga tidak mau menerima uang pemberian dari orang tua kamu. "
Lagi-lagi kening Rean berkerut setelah mendengar perkataan sang istri. Entah apa maksud perkataan Dena tersebut. Rean benar-benar tidak mengerti.
"Apa maksudnya itu? Uang pemberian apa?"
\=\=\=\=
Terkadang, ada orang yang tidak bisa diberitahu dengan kata-kata, tapi harus dengan perbuatan langsung. Mungkin, begitulah gambaran dari sifat Dena.
Sudah ada jatah vote, kasih vote buat Rean dong 🤧