
Setelah acara benar-benar selesai, mama Tari menyuruh Kenzo untuk mengantar Vanya pulang. Meski Vanya sudah menolaknya berkali-kali, namun mama Tari tetap memaksa. Kenzo dan Vanya sama sekali tidak bisa menolak. Mereka menuruti permintaan sang mama.
Mobil mbak Erika yang tadi sore di bawa oleh Vanya untuk mengantar kue, sekarang sedang dikendarai oleh Reyhan, asisten Kenzo. Dia mengekori mobil yang dikendarai oleh Kenzo bersama Vanya.
Ketika sudah di dalam mobil Kenzo, Vanya segera membuka ponselnya. Dia sama sekali belum membuka ponselnya sejak sore. Begitu ponselnya menyala, Vanya langsung menghembuskan napasnya dengan berat. Ada 13 panggilan dari mbak Erika dan beberapa pesan beruntun yang juga masuk ke dalam ponselnya.
Vanya membuka satu persatu pesan yang masuk ke ponselnya. Hampir semua menanyakan keberadaannya yang belum juga kembali ke tempat acara. Vanya juga membalas pesan mbak Erika yang menanyakan keberadaannya. Dia menjelaskan secara singkat dan berjanji akan menceritakan kejadian sebenarnya keesokan harinya. Tak lupa juga Vanya menyampaikan kepada mbak Erika jika mobilnya di bawa ke kos-kosannya.
Setelah sampai di kosan Vanya, Kenzo menghentikan mobilnya di dekat pintu gerbang. Sementara Reyhan, sang asisten memasukkan mobil mbak Erika yang dikendarainya ke garasi di depan kos-kosan. Kenzo memperhatikan sekeliling kos-kosan tersebut dengan kening berkerut.
"Ini, tempat tinggalmu?" Tanyanya sambil masih mengamati sekitar.
Vanya yang mendengarnya langsung menoleh menatap Kenzo. "Iya, ada apa Om?" Tanya Vanya balik.
Mendengar Vanya memanggilnya dengan sebutan Om, Kenzo benar-benar kesal. Dia menatap Vanya dengan tatapan tidak suka.
"Jangan memanggilku dengan sebutan Om, aku belum setua itu" dengusnya kesal.
Vanya memutar bola matanya dengan jengah. "Om kan memang lebih tua, jadi wajar kan jika aku memanggil dengan sebutan Om," jawab Vanya yang tidak mau kalah.
Kenzo melayangkan tatapan tidak sukanya kepada Vanya. "Aku baru dua puluh sembilan tahun, belum setua itu. Awas saja jika kamu masih memanggil dengan sebutan itu lagi,"
"Lalu, aku harus memanggil dengan sebutan apa, Bapak?," Tanya Vanya sambil memutar bola matanya jengah.
Kenzo membulatkan matanya dengan lebar. Dia benar-benar geram. Setua itukah dirinya di mata gadis di yang berada di sampingnya ini, batin Kenzo.
"Enak saja. Kamu mau menghinaku," jawabnya dengan ketus. "Panggil aku Mas," lanjutnya.
Seketika Vanya tertawa dengan keras mendengar perkataan Kenzo. Bisa-bisanya laki-laki disampingnya ini meminta dirinya untuk memanggilnya dengan sebutan Mas.
Kenzo yang tidak suka mendengar Vanya tertawa segera memutar badannya. Dia menarik lengan Vanya dan mencengkram kedua bahunya hingga kini Vanya benar-benar berhadapan dengan Kenzo. Wajah mereka berada sangat dekat. Hingga Vanya bisa merasakan hembusan napas Kenzo mengenai pipinya.
Seketika Vanya terkesiap dan menghentikan tawanya. Wajahnya terasa panas dengan napas sedikit tertahan. Vanya menatap manik mata Kenzo yang menatapnya dengan tatapan tajam. Dia merasa sedikit takut dengan perubahan ekspresi wajah Kenzo. Vanya merasa sedikit ketakutan.
"Mas. Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan Mas Ken," kata Kenzo.
"Hhhaaaahh?" Tanya Vanya cengo. "Kenapa harus memanggil dengan sebutan itu?" Lanjutnya.
Kenzo mengamati wajah Vanya yang berada sangat dekat dengan wajahnya. Dia bisa melihat bibir berwarna pink milik Vanya yang sedang terbuka sedikit ketika hendak memprotesnya, terasa begitu menggoda bagi Kenzo.
Kenzo benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangannya dari bibir Vanya. Ingin sekali rasanya dia mencicipi benda kenyal yang berada tepat di depan wajahnya kini. Namun, lamunannya segera berakhir ketika tangannya merasakan Vanya hendak memberontak dari cengkramannya.
Kenzo segera tersadar dari lamunannya dan kembali fokus pada Vanya yang berada di depannya. "Tentu saja kamu harus memanggilku dengan sebutan Mas, karena aku calon suamimu, bukan calon om mu," jawabnya sambil melepaskan cengkraman tangannya.
Vanya menatap Kenzo dengan tatapan tidak suka. "Cccckkk. Siapa juga yang mau menikah denganmu Om, aku tidak mau," elaknya.
Kenzo menatap Vanya lagi dengan tatapan tidak suka dengan apa yang baru saja di dengarnya. "Kamu sudah tidak bisa mundur lagi," jawabnya dengan tatapan tajam.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Maaf slow up ya,