The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 28



Shanum memegangi dadanya yang berdegup dengan kencang. Entah mengapa dia menjadi segugup itu. Belum lagi, kedua pipinya yang terasa panas. Ah, ini tidak sehat untuk jantung. Aku harus benar-benar menjaga jarak dengannya jika ingin berumur panjang, batin Shanum.


Setelahnya, dia kembali melanjutkan aktivitasnya mengeringkan rambut. Tak berapa lama kemudian, Cello terlihat keluar dari kamar mandi dengan menggunakan celana pendek dan masih bertelanjang dada. Cello masih menggosok-gosokkan handuk kecil pada rambutnya yang basah.


Shanum sempat melirik ke arah Cello sebentar, sebelum kembali menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Dia tidak menyadari jika Cello tiba-tiba sudah berada di sampingnya.


"Astaga! Jangan mengagetkanku seperti itu. Kamu ingin aku terkena serangan jantung?!" Gerutu Shanum sambil masih memegangi dadanya yang bergemuruh hebat.


"Ccckkk, gitu saja sudah kaget. Bagaimana jika aku tiba-tiba nyerang kamu, bisa-bisa langsung pingsan," kata Cello sambil meraih sisir yang ada di samping Shanum.


Sontak kedua mata Shanum terbuka lebar saat mendengar perkataan Cello. Apa maksudnya itu menyerang? Jangan-jangan dia mau melakukan hal yang aneh-aneh? Batin Shanum.


"Sudah cepetan, aku tunggu di balkon. Ada yang ingin aku bicarakan." Cello beranjak pergi menuju balkon meninggalkan Shanum yang masih mematung di depan cermin.


Setelahnya, Shanum segera menyelesaikan aktivitasnya. Dia mengeringkan rambutnya dan menyisirnya sedikit agar tidak berantakan. Tak lupa juga dia sedikit mengoleskan liptin pada bibirnya agar wajahnya tidak pucat. 


Shanum menatap wajahnya sebentar pada cermin dan menepuk-nepuk kedua pipinya dengan tangan. Dia segera beranjak menemui Cello yang sudah menunggunya di balkon kamar.


Shanum masih berdiri di samping sofa panjang yang berada di dekat pagar. Sudah ada Cello yang berada di sana sambil memainkan ponselnya. Melihat kedatangan Shanum, Cello langsung mendongakkan kepalanya.


"Duduk, sini! Ada yang harus kita bicarakan." Kata Cello sambil menepuk-nepuk bagian sofa yang ada di sebelah kanannya.


Shanum segera mengangguk dan berjalan mendekat. Dia mendudukkan diri di samping Cello yang tengah mematikan game nya. Shanum masih menunggu Cello untuk memulai pembicaraan.


"Ehemm, sebelumnya aku mau minta maaf. Seharusnya, kita membicarakan masalah ini sebelum pernikahan. Tapi, seperti yang kamu ketahui, kita bahkan tidak punya waktu untuk melakukannya." Kata Cello sambil memutar tubuhnya hingga menghadap ke arah Shanum.


Kening Shanum berkerut, saat mendengar perkataan Cello. Dia masih belum bisa menebak ke mana pembicaraan Cello tersebut.


"Apa maksudnya?"


"Bulan depan, aku sudah mulai bekerja di tempat temanku. Bukan full time, sih. Hanya saja, setidaknya aku bisa mendapatkan pekerjaan saat masih kuliah."


Seketika Shanum membeku saat mendengar perkataan Cello. Dia sama sekali tidak memikirkan hal itu sebelumnya. Untuk masalah kuliah Shanum, papa Bian memang sudah bilang masih akan menanggung semua biayanya. Hal yang sama juga dikatakan oleh daddy El. Namun, Shanum dibuat bingung dengan apa yang dikatakan oleh Cello.


"Kamu sudah mendapatkan izin dari dadsy dan mommy, Mas?"


"Aku belum bilang kepada mereka jika aku sudah mendapatkan pekerjaan. Daddy dan mommy pasti akan melarang nanti."


"Tapi, kenapa harus melakukan ini semua, Mas? Jika ingin bekerja, kenapa tidak ke kantor daddy? Atau mungkin, papa bisa mencarikan lowongan di kantornya."


"Dengarkan aku, hal itu sudah aku pikirkan baik-baik. Bisa saja aku meminta bantuan daddy untuk mencarikan pekerjaan. Namun, aku masih belum mempunyai bekal apa-apa. Aku masih mau semester tiga ini, dan sama sekali belum punya pengalaman untuk bekerja. Setidaknya, aku akan mencoba bekerja di tempat lain dulu, sebelum nanti bisa membantu daddy di perusahaan."


Shanum mencoba untuk memahami keinginan Cello. Dia hanya bisa mendukung apapun keputusan sang suami.


"Aku hanya bisa mendukung apa yang menjadi keputusan kamu, Mas. Tapi ingat, jangan sampai melalaikan kewajiban kamu untuk kuliah."


"Tentu saja. Aku tetap akan berusaha lulus kuliah sesuai dengan jadwalnya." Jawab Cello sambil mengulas senyumannya. "Ehm, ada lagi yang ingin aki bahas denganmu,"


Shanum mengerutkan keningnya bingung sambil menatap wajah Cello.


"Eh, tentang apalagi, Mas?"


"Semalam,"


Scroll ya 👇