
Setelah pertemuan dadakan dengan salah satu karyawannya tersebut, El langsung mengajak Fara ke ruangan mommy Vanya. Dia ingin makan siang bersama dengan mommy dan istrinya. Siang itu, mereka bertiga benar-benar menghabiskan waktu untuk bercerita banyak hal.
"Maksudnya tadi apa Mas yang masih kurang?" Tanya Revina saat berada di ruangan mommy Vanya.
"Oh itu. Sebenarnya, haris itu sudah menikah dua kali. Teman kamu istri ketiganya. Itupun jika dia dinikahi secara siri." Jawab El.
"Eh, sudah punya istri dua?"
"Iya. Makanya aku tanya apa masih kurang."
"Memangnya kamu juga mau nambah, Mas?" Tanya Fara sambil menoleh menatap wajah El.
"Satu saja belum berhasil berbuah, mau nambah segala." Jawab El sambil mendengus kesal.
"Hahahaha, makanya minta tips daddy kamu, El. dijamin tokcer." Kata mommy Vanya.
Mendengar godaan mommy Vanya, El hanya bisa mencebikkan bibirnya.
•••••
Sementara di bandara, Revina dan Bian terlihat berjalan menuju deretan taksi yang sudah ada di sana. Mereka menolak ajakan Kaero dan Keyya yang mengajak pulang bersama.
"Kita ke mana, Mas?" Tanya Revina saat sudah masuk ke dalam taksi tersebut.
"Kita pulang ke rumahku dulu. Aku sudah minta izin kepada papa. Besok, kita baru akan ke rumah kamu." Kata Bian.
"Benarkah?" Tanya Revina penuh semangat.
Sebenarnya, dia tidak masalah tinggal di rumah siapa. Dia bisa nyaman-nyaman saja tinggal dimanapun asalkan bersama dengan suaminya.
"Hhhmmm. Apa kamu keberatan nanti tinggal di rumahku?" Tanya Bian.
"Tentu saja tidak. Jarak rumah kita juga tidak terlalu jauh, Mas. Hanya sekitar dua puluhan menit. Jadi, sama sekali tidak masalah. Lagipula, jarak kantor kamu lebih dekat dari rumah kamu, Mas." Kata Revina.
Bian tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia bersyukur ternyata Revina bukan termasuk perempuan yang manja.
Beberapa saat kemudian, Bian dan Revina sudah sampai di rumah Bian. Mereka segera menurunkan barang bawaan mereka yang tidak seberapa. Bian mengajak Revina masuk ke dalam rumah dan menunjukkan beberapa bagian dari rumah tersebut. Setelahnya, Bian membiarkan Revina melihat-lihat isi rumahnya. Bian meninggalkan Revina dan berlalu menuju kamar tidurnya yang terletak di lantai dua.
Rumah Bian tidak sebesar rumah Revina. Namun, rumah minimalis dua lantai tersebut terlihat sangat rapi dan terawat. Ada taman kecil di belakang rumah yang menarik perhatian Revina. Dia sudah mulai merencanakan sesuatu untuk taman kecil yang masih kosong tersebut. Lamunan Revina buyar setelah mendengar perkataan Bian.
"Aku ke kantor dulu ya, Dek. Ada kunjungan dari Jepang sore ini." Kata Bian sambil berjalan ke arah Revina.
Revina menoleh untuk menatap Bian yang sudah terlihat rapi dengan setelan kerjanya. Rambut yang terlihat basah membuat Revina kembali menelan salivanya dengan kasar.
"Iya. Hati-hati, Mas. Kabari aku jika sudah sampai di kantor." Kata Revina sambil mengulurkan tangannya kepada Bian.
Bian menerima uluran tangan Revina dan segera dikecup oleh sang istri. Melihat tindakan sang istri, Bian refleks menarik tangan Revina dan mendaratkan sebuah kecupan pada keningnya. Revina tersenyum senang dengan tindakan Bian.
Bian hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dia berusaha untuk menghilangkan pikiran kotornya yang bisa menghambatnya berangkat kerja.
"Nggak aman, Dek. Jika disana, nanti akan merembet ke bawah. Jika sudah seperti itu, nggak akan lengkap tanpa scene lanjutan." Kata Bian sambil masih tersenyum.
"Ya sudah. Nanti malam saja dilembur, Mas. Aku mau praktek seperti yang kemarin." Jawab Revina.
"Eh, jangan lagi deh."
"Kenapa? Kamu nggak suka, Mas?" Revina langsung merasa tidak enak hati.
"Bu-bukan begitu, Dek. Aku hanya takut nggak selesai-selesai." Jawab Bian.
"Eh, kenapa nggak selesai-selesai?"
"Ya rasanya enak begitu. Seperti diurut dan di sedot-sedot terus. Jadi sayang jika cepat selesai. Hehehe." Kata Bian sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Seketika Revina tersenyum lebar mendengar perkataan Bian. Setelahnya, dia meninggalkan sebuah ciuman di pipi kiri sang suami.
Cup.
"Sudah, nanti malam saja langsung praktek. Sekarang berangkat dulu gih." Kata Revina yang langsung di iyakan oleh Bian.
Setelahnya, Bian benar-benar berangkat ke kantor. Saat hendak keluar dari komplek perumahan, mobil Bian di hadang oleh seseorang yang tiba-tiba berlari ke tengah jalan yang akan dilewatinya.
Cciiiiiittttt.
Bian mengumpat dengan keras saat dia berhasil menginjak rem dengan cepat. Mobilnya langsung berhenti dan Bian segera keluar dari mobil.
"Apa-apan ini?! Apa kamu sudah bosan hidup. Jika ingin mati, mati saja sendiri jangan mengajak orang lain!" Bentak Bian sambil menatap nanar ke arah pembuat masalah.
"Aku tidak mau mati. Aku ingin jadi istri keduamu."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Nah lho, kan kan kan. Si ngket-ngket muncul lagi itu.