The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 84



Wajah Dena semakin memerah setelah mendengar perkataan Rean. Dia hanya bisa menatap punggung sang suami yang sudah menghilang di balik pintu kamarnya.


"Aku sudah pernah melakukan kesalahan sebelum ini. Mulai saat ini, aku berjanji akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi istri kamu, Mas. Aku sudah berjanji untuk membuka hati ini dan menerimamu sebagai suami," gumam Dena.


Beberapa saat kemudian, Rean sudah terlihat keluar dari dalam kamar Dena. Dia bahkan sudah membawa baju ganti di bahu kanannya. Dena yang melihat hal itu langsung mengerutkan kening.


"Ka-kamu mau apa, Mas?"


"Aku mau mandi. Tapi di kamar mandi luar saja. Sekarang, aku bantu kamu bersiap-siap untuk mandi." Rean langsung membantu Dena berdiri. Dia juga mengambilkan kruk untuk sang istri, dan membantu menuntun Dena ke kamar mandi.


"Sudah, sampai sini saja, Mas." Dena masih merasa malu. Selama di rumah orang tuanya, biasanya mami Rida yang membantunya mandi dan memakai pakaian. Namun, saat ini dia hanya tinggal berdua dengan Rean. Mau tidak mau, Dena harus mempersiapkan diri untuk menerima semua bantuan dari Rean.


"Yakin bisa sendiri?" Rean masih merasa ragu dengan permintaan sang istri.


"Bisa, Mas. Ehm, di kamar mandi ini belum ada kursinya, Mas. Bisa minta tolong ambilkan kursi plastik di dekat dapur. Aku biasa duduk jika mandi."


"Oh iya, lupa. Sebentar." Rean langsung melesat keluar dari kamar mandi. Dia membawa kursi plastik dan jemuran handuk yang ada di depan kamar mandi.


Setelah itu, Rean segera menata kursi untuk Dena agar mudah mengambil sabun dan peralatan mandinya.


"Kursi aku letakkan di sini, ya. Baju kotornya di taruh saja disana, nanti aku laundry," ucap Rean sambil menunjukkan keranjang. "Bathrobe aku letakkan di atas jemuran ini. Jika sudah selesai, kamu teriak saja. Aku akan segera kesini. Oh iya, pintu kamar mandi tidak akan aku kunci."


Seketika Dena menoleh ke arah Rean. Keningnya berkerut saat mendengar perkataan terakhir sang suami.


"Kenapa pintunya tidak dikunci?"


"Agar kalau ada apa-apa, aku bisa segera masuk."


Dena masih mengerucutkan bibir. "Kamu nggak berniat mau ngintip aku kan, Mas?"


Rean menoleh ke arah Dena dengan bibir mengerucut. "Cckkk, buat apa ngintip? Mending lihat langsung saja. Sudah halal ini."


"Mass!"


"Hehehe, maaf, Yang. Ya sudah, aku mandi di luar dulu. Jika kamu kesulitan, langsung teriak saja."


"Iya."


Setelahnya, Rean segera keluar dari kamar mandi Dena. Dia bergegas menuju kamar mandi luar yang ada di dekat dapur. Tak butuh waktu lama bagi Rean untuk menyelesaikan mandinya. Hanya sekitar sepuluh menit, Rean sudah menyelesaikan mandinya.


Begitu selesai, Rean segera beranjak menuju kamar Dena. Dia masih mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Sepertinya, sang istri belum selesai mandi. Rean bergegas keluar kamar untuk mengambil ponselnya yang berada di atas meja makan. Rean akan memesan makan siang untuk mereka.


Sekitar lima belas menit kemudian, Rean mendengar panggilan Dena dari dalam kamar mandi. Dia bergegas membantu sang istri yang sepertinya sudah selesai membersihkan diri.


Tak berapa lama kemudian, terdengar bel dari pintu depan. Rupanya pesanan makan siang Rean sudah datang. Siang itu, mereka makan siang bersama.


Menjelang petang, mama Revina dan papa Bian datang berkunjung. Mereka ingin mengunjungi Dena dan melihat keadaannya. Sudah sekitar satu minggu yang lalu, mama Revina dan papa Bian terakhir mengunjungi mereka saat masih berada di rumah papi Hendra.


"Jangan terlalu banyak bergerak, Den. Jika butuh apa-apa, minta bantuan Rean. Atau perlu mama carikan asisten rumah tangga sementara?" tanya mama Revina saat melihat Dena berjalan ke arah mereka.


"Nggak perlu, Ma. Aku masih bisa melakukan aktivitas, kok. Hanya saja, aku masih belum bisa memasak. Hehehe."


"Nggak apa-apa kalau untuk itu. Kalian bisa pesan online. Atau jika Rean di rumah, dia bisa membantu kamu memasak. Iya kan, Re?" Mama Revina menoleh ke arah sang putra.


"Iya, betul. Cakep-cakep gini aku juga bisa masak lho. Masak nasi goreng, ayam kecap, bahkan masak sosis pun aku bisa jamin jika aku ahlinya." Rean membanggakan dirinya sendiri.


Dena langsung menundukkan kepala karena malu mendengar jawaban Rean. Sementara mama Revina langsung mencibir perkataan sang putra.


"Halah, masak sosis kamu bilang, Re? Memang sudah tahu caranya?"


"Tau dong, Ma. Hampir setiap hari aku selalu cari referensi kok." Jawab Rean dengan tidak tahu malunya.


"Jangan bilang kamu cari referensi dari video pemersatu bangsa. Astaga, Mas anak kamu kenapa bisa seperti ini? Dia nurunin sifat siapa sih?"


Nurunin sifat siapa ya? 🤔