The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Sarapan



Vanya masih duduk di sofa yang berada di balkon sambil menunggu Kenzo mandi. Dia masih membalut tubuhnya menggunakan selimutnya. Dia menyembunyikan diri di dalam selimut. Ya, setelah insiden tadi, Vanya merasa sangat malu pada Kenzo. Meskipun mereka sudah menikah, namun mereka belum saling mengenal.


Sekitar lima belas menit kemudian, Kenzo sudah selesai mandi. Dia segera berjalan menuju balkon untuk menemui Vanya.


"Aku sudah selesai, cepat mandi gih." Kata Kenzo begitu sampai di dekat Vanya.


Vanya segera menoleh dan menatap wajah Kenzo. Entah mengapa dia merasa malu.


"I-iya." Jawab Vanya. Namun, dirinya tidak juga beranjak dari posisinya. Vanya masih bergelung di dalam selimut.


Kenzo yang melihat Vanya tidak juga beranjak berdiri langsung mengerti. Mungkin dia masih malu, batin Kenzo.


"Aku keluar dulu, nanti sarapan di sini saja." Kata Kenzo sambil beranjak meninggalkan Vanya. Dia segera keluar kamar untuk memberikan waktu bagi Vanya membersihkan diri. 


Setelah Kenzo keluar dari kamar, Vanya segera beranjak berdiri. Dia segera menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Sekitar setengah jam kemudian, Vanya telah selesai membersihkan diri. Dia memilih menggunakan dress tanpa lengan sepanjang lutut. Vanya membiarkan rambutnya yang masih sedikit basah tergerai hingga punggung. Vanya juga hanya mengoleskan pelembab dan lip tint tipis pada bibirnya. Vanya tidak suka memakai make up.


Setelah semua selesai, Vanya duduk di kursi balkon sambil menunggui petugas hotel membersihkan kamarnya. Dia sebentar-sebentar menoleh ke arah pintu, untuk memastikan Kenzo segera kembali. Namun, hampir tiga puluh menit berlalu Kenzo belum juga menampakkan dirinya. Vanya menoleh menatap jam yang sudah menunjukkan 07.40. Dia sudah merasa sangat lapar. Petugas kebersihan juga sudah menyelesaikan pekerjaannya.


Vanya hendak berjalan mengambil ponselnya, namun terdengar pintu kamar terbuka. Kenzo berjalan memasuki kamar dan diikuti oleh petugas hotel yang membawa nampan berisi sarapan untuk mereka. Setelah semua diletakkan pada meja yang berada di balkon kamar, Kenzo mengajak Vanya untuk segera sarapan. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Vanya langsung bergegas mengikuti Kenzo. 


Vanya dan Kenzo sarapan dalam diam. Vanya masih merasa malu dengan kejadian tadi pagi, sedangkan Kenzo sendiri merasa canggung. Setelah selesai sarapan, Kenzo beranjak berdiri sambil memainkan ponselnya tanpa menatap ke arah Vanya. Vanya yang melihatnya hanya bisa mendengus kesal.


Ketika Vanya hendak beranjak berdiri, namun terdengar suara dering ponselnya. Vanya segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut setelah mengetahui id penelepon.


"Hallo Ma," kata Vanya begitu sambungan terhubung.


"Hallo sayang, selamat pagi. Bagaimana malam kalian? Mama tidak mengganggu kalian kan?" Tanya Mama Tari.


Vanya menggaruk tengkuknya karena bingung menjawab pertanyaan mama Tari. Belum sempat Vanya menjawab, mama Tari sudah mengalihkan menjadi panggilan video. Vanya kebingungan dan langsung berdiri. Kenzo yang melihatnya menjadi bingung.


"Ada apa?" Tanya Kenzo lirih.


"Mama, ini mau melakukan panggilan Video." Jawab Vanya hanya dengan menggerakkan bibirnya tanpa ada suara yang keluar dari bibirnya.


Kenzo pun sedikit terkejut, namun segera berjalan mendekati Vanya yang saat ini sedang berdiri tak jauh darinya. 


"Alihkan ke panggilan Video." Kata Kenzo yang segera di angguki oleh Vanya. Seketika wajah mama Tari dan papa Mike muncul disana. Mereka terlihat sedang berada di dekat taman belakang rumah mereka. Sepertinya, mama Tari dan papa Mike juga baru saja selesai melakukan sarapan. Terlihat ada beberapa piring kosong di depan mereka.


"Bagaimana honeymoonnya sayang, apa kalian senang?" Tanya papa Mike begitu melihat Vanya dan Kenzo berada di layar ponsel mereka.


Belum sempat Vanya menjawab dia sudah dikejutkan oleh tindakan tiba-tiba Kenzo. Kenzo memeluk Vanya dari belakang. Kedua tangannya melingkar sempurna pada perut Vanya. Wajah Kenzo berada sangat dekat di samping kanan wajah Vanya. Dagu Kenzo diletakkan pada bahu kanan Vanya.


Deg deg deg.


Jantung Vanya mendadak bermaraton ria. Dia terlihat salah tingkah dan malu. Vanya masih diam membeku mendapati perlakuan Kenzo yang tiba-tiba.


"Senang kok Pa, kami sangat menikmati berada di sini." Jawab Kenzo sambil mengeratkan pelukannya. Vanya yang masih terkejut berusaha tersenyum di depan kedua mertuanya.


"Baguslah, mama sangat senang jika kalian bisa menikmati liburan. Apalagi pulang-pulang bawa oleh-oleh cucu untuk mama dan papa. Hahahahaha." Kata mama Tari.


Vanya yang mendengarnya merasakan panas di kedua pipinya. Dia benar-benar merasa sangat malu. Kali ini, kembali Kenzo yang menjawab sang mama.


"Mama pikir cucu bisa jadi dalam semalam?" Kata Kenzo. "Kami harus bekerja keras dulu membuatnya. Dan juga, bagaimana kami bisa bekerja keras membuatkan mama cucu jika mama masih menelepon kami. Kapan kami akan mulai coba." Lanjut Kenzo dengan entengnya.


Vanya, tidak usah ditanyakan lagi. Betapa malunya dia mendengar perkataan Kenzo. Bisa-bisanya dia mengatakan akan bekerja keras membuatkan cucu. Seketika pikiran Vanya berkelana ke video-video yang sedang viral. Video yang, ah sudahlah. 


Seluruh tubuh Vanya langsung meremang hanya dengan memikirkannya. Dia segera membuang pikiran horor yang tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam otaknya.


"Ah, iya benar. Kalau begitu, mama tutup teleponnya. Jangan lupa pulang nanti bawa cucu. Hahahahaha." Kata mama Tari dan kemudian segera berpamitan.


Vanya segera mematikan sambungan video tersebut. Namun, Vanya masih diam mematung karena Kenzo sama sekali tidak melepaskan kedua tangannya dari perutnya. Vanya merasa gelisah karena saat ini tangan Kenzo bahkan sudah agak merembet naik. Vanya berusaha menggerak-gerakkan badannya.


"Ma-mas, i-ini sudah selesai teleponnya." Kata Vanya.


"Lalu?"


"Ta-tangannya belum dilepas." Jawab Vanya lirih.


Kenzo terdengar menghembuskan napasnya dengan berat sebelum menyahuti perkataan Vanya.


"Aku ingin membicarakan sesuatu. Tapi, sebelum itu, kamu harus terbiasa dengan ini." Kata Kenzo.


"Apa itu?"


Cup.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Hayo, jangan ditahan senyumnya ya, 🤭