
Setelah mengatakan hal itu, wanita tersebut segera mengajak sang nenek pergi dari apartemen Rean. Sebelum meninggalkan apartemen tersebut, terlihat dia melayangkan tatapan tajam ke arah Rean. Hal yang sama juga dilakukan oleh sang nenek.
Namun, saat laki-laki yang bersama dengan nenek Dena tersebut melewati Rean, dia menepuk bahu Rean sambil sedikit berbisik.
"Jangan menyerah. Perjuangkan apa yang sudah kamu miliki," bisik laki-laki tersebut, meskipun dengan ekspresi yang masih sama datarnya.
Rean cukup terkejut dengan apa yang didengarnya dari laki-laki tersebut. Sepeninggal para tamunya, Rean berjalan menuju ruang makan. Dia mendudukkan diri di kursi yang berada di sana. Pikirannya sudah mulai menerawang kemana-mana.
Banyak sekali yang dipikirkan Rean. Dia menjadi berpikir, apakah pernikahannya dengan Dena memang bertujuan sebagai tumbal seperti yang dikatakan oleh nenek Dena tadi? Apakah kedua orang tuanya dan orang tua Dena mengetahui hal ini?
Rean benar-benar merasa kacau saat itu. Setelah itu, dia memutuskan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Rean memutuskan untuk menanyakan hal itu kepada kedua orang tuanya. Baru setelah itu, dia akan menanyakan kepada kedua orang tua Dena.
Rean segera memasukkan ayam dan bumbu-bumbu yang sudah dipersiapkannya tadi kembali ke dalam lemari pendingin. Dia memutuskan akan pergi ke rumah orang tuanya. Beruntung dia belum memberitahu Dena jika sudah sampai di Jakarta. Biarlah Dena mengira yang berbelanja adalah asisten rumah tangga yang biasanya datang membersihkan apartemennya, karena memang biasanya juga begitu.
Setelah semua rapi, Rean segera menyambar tasnya dan langsung beranjak menuju rumah orang tuanya. Dia memilih menggunakan taksi dari pada menggunakan mobilnya yang berada di basement apartemen. Rean tidak ingin Dena curiga jika dia sudah berada di Jakarta.
Sebelum semuanya jelas, Rean ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan perjodohan dan pernikahannya. Oleh karena itu, dia ingin menanyakan hal itu langsung kepada orang tua dan juga mertuanya.
Tak butuh waktu lama bagi Rean untuk sampai di rumah mama Revina. Saat itu, kebetulan di rumah mama Revina ada sang kakak dan juga si kembar. Mereka menginap di sana sebelum tiga hari lagi akan berangkat ke Kanada untuk menyusul Cello, kakak iparnya.
Begitu memasuki rumah, Rean langsung berjalan menuju ruang tengah, dimana kedua keponakannya tersebut sedang bermain-main di sana. Shanum yang melihat kedatangan sang adik langsung bersuara.
"Lho, kok sudah pulang, Re? Bukannya kamu di Surabaya?" tanya Shanum saat melihat Rean berjalan mendekat ke arahnya.
"Memangnya sudah selesai renovasinya?"
"Kalau selesai sih, belum. Tinggal sedikit lagi. Aku sudah bisa meninggalkannya, kok." Rean mendudukkan diri di dekat si kembar.
Shanum yang melihat hal itu langsung mencegahnya. "Eh, bersih-bersih dulu sana. Banyak kuman juga, ish."
Rean mengerucutkan bibirnya. Namun, tak urung dia juga beranjak menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Saat menaiki tangga, Rean berpapasan dengan sang mama.
"Lho, kapan kamu datang, Re?"
"Barusan ini, Ma. Dari bandara juga langsung kesini." Rean terpaksa berbohong.
"Oh begitu. Istri kamu kan juga di Jogja, kan?" Mama Revina kebetulan juga sudah mengetahui jika Dena berada di Jogja untuk mengikuti diklat.
"Iya."
"Yasudah, kamu bersih-bersih dulu. Setelah itu, segera makan siang."
Rean mengangguk dan segera melanjutkan langkah kakinya menuju kamar. Siang itu, Rean bermain-main dengan si kembar. Rean sengaja tidak menghubungi Dena, karena dia tidak ingin Dena mengetahui jika dirinya sudah berada di Jakarta.
Rean juga tahu jika pesawat Dena akan take off sore ini untuk kembali ke Jakarta. Bisa dipastikan, jika Dena akan sampai di apartemen sekitar jam sembilan atau jam sepuluh malam.