The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 101



Shanum masih terlihat sangat kesal setelah pembicaraan absurdnya dengan laki-laki yang ada di sampingnya tadi. Meskipun laki-laki tersebut sudah pergi karena sang istri juga sudah melakukan pemeriksaan, wajah Shanum masih terlihat cemberut.


"Sudah, nggak usah di tekuk begitu wajahnya. Orangnya juga sudah pergi." Kata Cello sambil berusaha menenangkan sang istri.


"Masih kesel tau nggak sih, Mas. Enak saja dia berpikir begitu. Lagian, siapa yang menyuruhnya praktek," gerutu Shanum.


Cello hanya bisa mengusap-usap tangan sang istri. Dia hanya bisa diam tanpa bersuara kembali. Bisa-bisa Shanum akan tambah mengomel jika dia masih menjawabnya. Beruntung setelahnya, nama Shanum sudah dipanggil. Cello dan Shanum langsung beranjak untuk memasuki ruang pemeriksaan dokter Risma.


"Selamat siang, silahkan duduk." Sapa dokter Risma.


"Terima kasih, Dok."


Cello segera membantu Shanum untuk duduk. Setelahnya, dia juga ikut duduk di samping sang istri. Cello benar-benar sangat antusias jika menemani Shanum memeriksakan kandungannya.


"Apa kabar, Bu Shanum? Apa ada keluhan?" Tanya dokter Risma sambil memeriksa catatan kehamilannya.


"Alhamdulillah tidak ada, Dok. Hanya saja, kaki sedikit mudah membengkak, Dok." Kata Shanum menjelaskan.


Dokter Risma tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, Bu. Memang sudah lazim bagi ibu hamil akan mengalami pembengkakan kaki di sekitar bulan kelima kehamilannya. Hal itu bisa disebabkan jika sang calon ibu sering berjalan kaki atau cuaca yang terasa panas. Biasanya, pembengkakan pada kaki ini disebabkan oleh adanya peningkatan volume darah dan cairan yang ada di dalam tubuh." Jelas dokter Risma.


"Apa tidak berbahaya, Dok?" Tanya Cello. Pasalnya, dia sering merasa tidak tega saat melihat kaki Shanum yang terlihat membengkak.


"Tidak apa-apa, kok. Dengan adanya penambahan volume darah dan cairan tubuh, itu merupakan mekanisme yang dihasilkan oleh tubuh untuk mendukung pertumbuhan janin, serta mempersiapkan persendian dan jaringan panggul agar lebih terbuka untuk persalinan nanti."


Cello dan Shanum hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Setelahnya, dokter Risma segera meminta Shanum untuk berbaring di atas brankar untuk memeriksa keadaan janin mereka.


Cello dengan setia membantu sang istri untuk merebahkan diri di atas brankar. Lagi-lagi, Cello sangat antusias dengan serangkaian pemeriksaan yang dilakukan oleh Shanum.


Dokter Risma dengan bantuan seorang perawat, mengoleskan gel pada perut Shanum. Dia juga segera mengarahkan sebuah alat di atas perut Shanum untuk memeriksa keadaan calon bayi tersebut.


Cello tampak tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


"Lalu, apa sudah terlihat jenis kelaminnya, Dok?" Tanya Cello sambil tak mengalihkan pandangan matanya pada layar kecil tersebut.


"Belum terlihat, Pak. Posisinya masih seperti itu, jadi harus bersabar dulu untuk mengetahui jenis kelamin mereka," jawab dokter Risma sambil tersenyum.


Lagi-lagi Cello hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia terlihat sudah tidak sabar ingin mengetahui jenis kelamin calon bayinya. Setelah selesai, Cello segera membantu Shanum untuk kembali turun dan duduk di kursi semula. Dokter Risma juga memberikan beberapa resep vitamin dan nasehat untuk pasangan muda tersebut.


"Ehm, maaf Dok. Boleh saya bertanya?" Tanya Shanum terlihat malu-malu.


"Iya, silahkan Bu."


"Ehm, apakah wajar jika sedang hamil, di usia kandungan seperti saya mempunyai keinginan yang sangat besar untuk aktivitas ranjang?" Tanya Shanum dengan wajah memerahnya.


Cello yang mendengarnya sedikit terkejut. Dia tidak menyangka jika Shanum akan menanyakan hal itu.


"Eh, ini yang sering minta mamanya atau papanya nih?" Goda dokter Risma sambil mengulas senyumannya.


"Saya, Dok. Entah mengapa semakin bertambah usia kehamilan saya, saat melihat suami rasanya ingin menerkam saja." Jawab Shanum sambil melirik wajah Cello.


"Eh, memang sering merasa begitu?"


"I-iya, Dok. Apa itu wajar?" Tanya Shanum malu-malu.


Cello yang mendengar jawaban Shanum hanya bisa menghembuskan napas beratnya.


Kira-kira yang pengen si Shanum atau calon anaknya ya? 🤔