
Revina masih diam mematung setelah panggilan telepon dari Bian terputus. Tangan kanannya masih memegang ponsel, sedangkan tangan kirinya memegang dadanya. Jantungnya terasa berlompatan hingga membuatnya hendak oleng.
"A-apa katanya tadi? Ma-mas Bian?" Gumam Revina. Dia masih belum bisa meyakini pendengarannya.
Saat Revina masih sibuk dengan pikirannya, terdengar suara ketukan pintu kamarnya. Revina langsung mengerjap-ngerjapkan matanya dan segera berjalan untuk membukakan pintu.
Ceklek.
Begitu pintu terbuka, terlihat mama Fida sudah berada di depannya. Kening Revina berkerut saat mendapati sang mama menatapnya dengan tatapan tajamnya.
"Ada apa, Ma?" Tanya Revina.
"Ada apa? Kamu kenapa masih belum siap-siap? Ini sudah jam berapa, sebentar lagi Bian akan datang. Segera siap-siap dan bantu Mama menyiapkan buka puasa." Kata mama Fida.
"Iya, iya."
"Jangan iya-iya terus. Cepetan, Mama tunggu di bawah." Kata mama Fida sambil berbalik dan berjalan menuju lantai satu.
Revina hanya bisa menghembuskan napas beratnya sesaat setelah mama Fida pergi dari depan kamarnya. Setelahnya, dia segera bersiap-siap untuk membantu mama Fida menyiapkan buka puasa dan menyambut kedatangan mas Bian, ups ðŸ¤
"Nak Bian sudah berangkat?" Tanya mama Fida saat Revina hendak menuangkan jus jeruk ke dalam gelas.
"Sudah, Ma. Sebentar lagi pasti…" Belum sempat Revina menyelesaikan perkataannya, terdengar ketukan dari pintu depan.Â
"Sepertinya dia sudah datang. Segera bukakan pintunya, gih." Kata mama Fida.
Revina segera mengangguk mengiyakan. Setelahnya, Revina segera beranjak menuju depan untuk membukakan pintu. Jantungnya masih terasa tidak baik-baik saja.
Ceklek.
Revina membuka pintu utama. Terlihat Bian tengah berdiri di depannya. Dia terlihat sangat sangat tampan dengan celana jean berwarna biru dan kemeja putih yang lengannya dilipat hingga siku. Revina bahkan merasa lupa caranya berkedip.
"Assalamualaikum." Sapa Bian saat melihat Revina belum membukakan pintu dengan lebar.
"Wa-Waalaikumsalam." Jawab Revina. Dia masih terus mamandangi Bian tanpa menggeser tubuhnya. Sementara Bian menatapnya dengan kening berkerut.
"Kamu tidak menyuruhku masuk?" Tanya Bian.
"Eh, i-iya Pak. Silahkan masuk." Jawab Revina sambil menggeser tubuhnya. Tak lupa juga dia membukakan pintu lebar-lebar.
Bian mengangguk dan segera berjalan memasuki rumah tersebut. Setelah Bian melewati pintu, Revina buru-buru menutup pintu tersebut dan berjalan mengikuti Bian.
"Sudah datang?" Tanya mama Fida sambil berjalan ke arah Bian.
"Iya, Tante." Jawab Bian sambil mengulurkan tangannya kepada mama Fida. Mama Fida pun menyambutnya dan segera dikecupnya sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua.
"Rev, panggil papa kamu. Sebentar lagi sudah waktunya buka puasa." Kata mama Fida kepada Revina. Revina pun segera mengangguk dan berjalan menuju kamar orang tuanya untuk memanggil papa Reyhan.
"Ayo Nak Bian, kira langsung ke ruang makan."
"Iya, Tante." Jawab Bian sambil mengikuti mama Fida.
Tak berapa lama kemudian, Revina dan papa Reyhan sudah tiba di ruang makan. Setelah saling sapa, mereka langsung berbuka puasa karena waktu buka puasa sudah tiba. Mereka ngobrol beberapa hal, terutama masalah pekerjaan yang saat ini sedang dikerjakan oleh Bian. Papa Reyhan yang sudah lumayan mengenal Bian langsung akrab dengannya.
"Hhhmmm, boleh juga. Dengan begitu, kita bisa ngobrol dengan lebih santai." Jawab papa Reyhan sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Benar sekali, Pak."
"Baiklah kalau begitu, Nak Bian. Aku tidak akan memanggilmu 'Pak' jika di luar kantor. Tapi sebagai gantinya, kamu juga tidak boleh memanggilku dengan sebutan 'bapak' dan 'tante' untuk mamanya Revina."
"Lho, kenapa seperti itu?" Tanya Bian sambil menoleh menatap wajah papa Reyhan.
"Sekarang, biasakan diri untuk memanggil kami dengan papa dan mama, seperti Revina."
Glek
Glek
Glek
Bukan hanya Bian yang terkejut setelah mendengar perkataan papa Reyhan. Namun, Revina juga langsung tersentak setelah mendengarnya.
"Pa-papa?"
"Iya, bukankah seharusnya seperti itu?" Kali ini mama Fida yang bersuara.
Bian dan Revina langsung menoleh dan saling pandang. Tatapan mata keduanya menyiratkan kebingungan.
"Rev, kamu lupa membawakan jus jeruk untuk Nak Bian. Segera ambilkan sekarang." Kata mama Fida.
Revina segera mengangguk dan beranjak berdiri untuk mengambilkan jus jeruk untuk Bian. Setelahnya, dia langsung memberikan segelas jus jeruk tersebut untuk Bian. Revina meletakkan jus jeruk tersebut di samping Bian.
"Silahkan jus nya, Mas." Kata Revina.
"Terima kasih, Dek." Jawab Bian refleks.
Seketika mama Fida dan papa Reyhan membulatkan mata dan mulutnya karena terkejut dengan panggilan Bian dan Revina.
"Mas? Dek?"
"Eh,"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Kalau reader, panggilnya apa nih kepada pasangannya? Mohon maaf othor orang Jawa, jadi ngikut kebiasaan sehari-hari othor ðŸ¤