The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.98



Sejak semalam, kondisi Bian semakin lemas. Entah mengapa dia merasa tubuhnya tidak nyaman. Sejak pagi, perutnya terasa mual seperti diaduk-aduk. Bahkan, sudah kedua kalinya Revina membawakan sarapan, namun sama sekali tidak dihiraukannya. Beruntung hari itu weekend, jadi baik Bian maupun Revina tidak ke kantor.


"Mas, sarapan dulu, yuk. Kamu mau apa?" Tanya Revina sambil mengusap-usap kening sang suami. Saat ini, posisi Bian sedang rebahan di atas tempat tidur dengan kepalanya berada di atas pangkuan Revina.


"Nggak mau, Dek. Mual."


"Kamu masuk angin, Mas? Aku kerokin mau?"


"Nggak biasa kerokan."


"Lalu maunya apa, Mas? Dari tadi kamu bolak balik ke kamar mandi. Minum obat dulu, ya."


"Nggak mau, tambah mual."


"Kamu kenapa seperti ini sih, Mas. Badan kamu tidak panas sama sekali."


"Nggak tahu, Dek. Rasanya lemas. Perutku nggak enak ini rasanya. Seperti di aduk-aduk."


"Aku buatin wedang jahe ya, Mas?"


"Nanti saja. Di sini dulu. Elus-elus, Dek." Pinta Bian. Dia masih memejamkan kedua matanya.


Revina hanya bisa menghembuskan napas beratnya sambil menuruti permintaan sang suami. Sekitar lima belas menit kemudian, Bian benar-benar sudah bisa tertidur lelap. Revina segera memindahkan kepala sang suami ke atas bantal. Setelahnya, dia segera turun sambil membawa sarapan yang tidak dimakan oleh Bian.


Menjelang pukul sepuluh, Bian sudah terlihat turun dengan kaus yang sedikit basah di beberapa tempat. Rupanya dia baru saja mandi. Revina mengernyitkan keningnya bingung saat melihat kondisi sang suami yang sudah terlihat segar bugar.


"Kamu sudah mendingan, Mas?" Tanya Revina yang saat itu baru saja selesai menjemur baju.


"Sudah. Aku sudah tidak merasa mual lagi."


"Syukurlah kalau begitu. Mau makan, Mas?"


"Ehm, mau kolak pisang, Dek." Jawab Bian saat melihat ada pisang di atas meja makan.


"Eh, kolak pisang?"


"Sepertinya enak. Bisa minta tolong buatkan, Dek?" Tanya Bian sambil tersenyum nyengir.


Lagi-lagi Revina dibuat bingung dengan tingkah aneh sang suami. Meskipun begitu, dia tetap mengangguk mengiyakan permintaan Bian.


"Baiklah. Tunggu sebentar, aku akan mengganti baju dulu." Jawab Revina sambil berbalik.


Namun, belum sempat Revina melangkahkan kakinya, Bian sudah memeluk tubuh Revina dari belakang.


Grep.


"Ada apa, Mas. Mana bisa aku ganti baju jika seperti ini?" 


"Nanti saja. Tunggu sebentar." Jawab Bian sambil memutar tubuh Revina hingga kini sudah menghadapnya.


"Mau apa, Mas?" Tanya Revina sambil menatap wajah suaminya yang terlihat berbinar bahagia.


"Mau kamu."


"Lhah, apa maksud eempppphhh mmmmpphhhh…" Belum sempat Revina menyelesaikan pertanyaannya, bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Bian.


Satu tangan Bian bahkan sudah menekan tengkuk Revina. Sementara tangan satunya menekan pinggang sang istri hingga kini membuat tubuh keduanya saling menempel erat.


"Eemppphhh, Maassshhhh." Desis Revina. Kini, dia bisa melepaskan diri dari sang suami. Didorongnya tubuh sang suami hingga kini sudah mulai menjauh. Kedua netranya langsung terbuka lebar.


Bian yang mendapati tingkah sang istri hanya bisa mengernyitkan keningnya tidak suka. Tidak biasanya istrinya tersebut menolaknya. Bahkan, bisa dipastikan Revina akan bersemangat sekali jika mereka harus beradu mulut maupun geraman di atas ring empuk. Namun, entah mengapa kali ini Revina menolaknya.


"Kenapa? Kamu sudah tidak mau melakukannya lagi?" Tuduh Bian. Keningnya masih berkerut dengan mata yang masih menatap tajam ke arah Revina.


"Isshhh, kamu ini ngomong apa sih, Mas. Mana ada aku menolak hal semacam itu." Jawab Revina sambil memukul bahu sang suami dengan pelan.


"Lalu, kenapa kamu menghentikannya? Kamu sudah bosan?"


"Enggak, Mas. Aku sama sekali nggak bosan. Hanya saja, aku nggak mau menjadi tontonan gratis."


"Hhaahh, tontonan gratis? Maksudnya?" Tanya Bian bingung.


"Itu, lihat saja di belakang kamu, Mas."


Glek.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Tinggal beberapa part end ya.