
Hari berganti hari, dan bulan pun sudah berganti. Kini, cafe Cello dan toko kue sudah hampir selesai pengerjaannya setelah pembangunan hampir menghabiskan waktu sekitar dua bulan.
Selama itu pula, Cello dan Shanum juga sering mengunjungi cafe dan calon toko kue tersebut. Shanum terlihat sangat antusias saat mendapatkan tawaran untuk mengelola toko tersebut. Shanum dan Cello sepakat akan mengelolanya bersama-sama.
Siang itu setelah dari kampus, Shanum pergi ke tempat produksi furniture bersama dengan Nanda. Mereka akan mencari pernak pernik untuk dekorasi toko kue tersebut. Selain menyediakan kue yang bisa dibawa pulang, rencananya toko kue tersebut juga menyediakan tempat untuk para pelanggan yang ingin menikmati kue-kue tersebut di sana.
"Kok gue jadi bete banget lihat si mukanya Dio itu. Nyebelin banget," gerutu Nanda saat mobil yang dikendarai Shanum berhenti di perempatan lampu merah.
Shanum pun menoleh menatap ke arah Nanda yang terlihat menggerutu itu. Dia bisa mengerti maksud dari sikap Nanda tersebut.
"Sudah, nggak usah diambil hati. Lupakan saja," ucap Shanum.
Seketika Nanda menolehkan kepalanya. Dia menyipitkan kedua matanya untuk sebagai tanda tidak setuju dengan perkataan Shanum.
"Seenaknya saja lo bilang lupakan? Mana bisa gue lupain apa yang sudah Dio dan perempuan itu lakukan. Lo juga sih, ngapain diam saja nggak ngomong sama suami lo. Bikin gregetan." Kata Nanda tambah emosi.
Ya, Nanda terlihat sangat emosi sejak tadi pagi Dio mendatangi Shanum di ruang kelasnya dan memaksanya untuk pergi makan siang nanti. Tentu saja Shanum menolaknya.
Tidak hanya sampai situ saja. Setelah kepergian Dio, datanglah seorang perempuan yang dulu sempat bertemu dengan Shanum di toko kue. Dia marah-marah dan mengeluarkan kata-kata kasarnya kepada Shanum. Perempuan tersebut adalah Anggita Bella, teman satu angkatan Dio yang sangat terobsesi dengannya.
"Maaf ya, Kak. Jangan membuat keributan di kelasku. Aku masih menghormati Kakak, karena usia kakak lebih tua dariku. Aku sama sekali tidak tertarik dengan kak Dio. Asal kakak tahu saja, aku sudah menikah. Dan suamiku, jauh lebih segala-galanya dari kak Dio. "
Kakak tidak perlu repot-repot lagi datang kesini hanya untuk memberitahu agar aku menjauh dari kak Dio. Seharusnya, kakak yang datang menemui kak Dio dan memberitahunya agar tidak menggangguku lagi." Kata Shanum tadi siang.
Ternyata, ulah Bella tidak sampai di situ. Dia langsung meraih rambut Shanum dan menariknya dengan keras. Sontak saja hal tersebut menimbulkan keributan di dalam kelas Shanum. Namun, Nanda yang ada di dekat Shanum langsung menarik lengan Bella dan menghempaskannya ke lantai.
Shanum hanya bisa menghembuskan napas beratnya saat menoleh untuk menatap wajah Nanda yang tengah kesal.
"Mana mungkin aku akan bilang ke suamiku, Nda. Yang ada dia pasti akan ngelabrak kak Dio nanti."
Nanda mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Iya juga ya. Suami kamu itu semakin hari semakin posesif sepertinya. Belum lagi tingkah absurd nya saat sedang cemburu. Aku benar-benar nggak habis pikir wajah lempeng begitu bisa merajuk jika sedang cemburu. Hahahaha."
Shanum hanya bisa mencebikkan bibirnya mendengar ocehan Nanda.
"Ya bisa lah. Namanya juga cinta." Jawab Shanum dengan bangga. Sedikit senyuman sudah terbit di bibinya.
"Siapa?" Tanya Nanda sambil menolehkan kepalanya.
"Apanya?"
"Yang nanya. Hahahaha."
Shanum hanya bisa menggeram kesal dengan tingkah sahabatnya itu.
•••
Jangan lupa tinggalkan jejak untuk othor ya. Terima kasih.