The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 164



Beberapa hari kemudian, tampak Cello sudah rapi dengan outfit santainya. Dia memakai celana pendek hitam dan kaos putih. Cello juga hanya memakai sepatu kets biasa yang sering dipakainya untuk jalan.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Shanum. Dengan memakai celana jeans biru dan kaos putih, mommy muda tersebut masih tampak seperti anak SMA. Rambutnya juga hanya diikat biasa seperti kuncir kuda.


"Jadi jalan hari ini, Sayang?" Tanya mommy Fara saat Shanum sedang mengambil botol-botol susu milik kedua putra kembarnya.


"Eh, iya, Mom. Sekalian agar si kembar tidak bosan di rumah." Jawab Shanum sambil memasukkan botol tersebut pada tas bayi putranya.


"Nanti jadi menginap di rumah mama kamu?"


"Enggak, Mom. Mama harus menemani kakek. Kakek agak kurang enak badan."


"Eh, apa kakek kamu di rawat di rumah sakit lagi?"


"Enggak, Mom. Di rumah saja, kok. Kemarin sudah pulang."


Mommy Fara hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Tak berapa lama kemudian, Shanum dan juga Cello langsung bersiap untuk berangkat ke tempat futsal Cello yang baru. Ya, Cello memang membuka tempat futsal baru, yang hanya berjarak sepuluh menit dari kantor daddy El.


Lokasi yang strategis tersebut, benar-benar membuat tempat futsal Cello yang baru ramai dikunjungi oleh para anak muda yang gemar menggocek bola. Selain itu, lokasi yang ramah keluarga juga disediakan oleh Cello, agar para pengunjung yang memiliki anak kecil bisa melakukan aktivitas mereka dengan nyaman.


Perjalanan yang membutuhkan waktu sekitar satu jam tersebut, akhirnya usai. Cello segera membantu Shanum dengan menggendong putranya yang sudah terlelap tersebut, memasuki tempat futsalnya.


Ada Jeremy, asisten Cello, yang berada di sana. Dia melihat Cello tengah menggendong Dryn dan membawa perlengkapan bayi, langsung bergegas menghampirinya.


"Sini, tasnya aku bantu bawakan, Mas." Kata Jeremy sambil mengulurkan tangan untuk meminta tas yang sedang dibawa oleh Cello.


"Kamu langsung bawa ke rooftop saja ya, Jer."


"Siap, Mas. Eh tapi, di rooftop ada Mas Aldi."


Seketika Cello dan Shanum berhenti melangkah. Mereka merasa heran dengan keberadaan Aldi siang-siang begitu di sana.


"Aldi kemari?" Tanya Cello memastikan.


"Iya, Mas. Dan, wajahnya butek banget. Sepertinya, diputusin sama si Enggar itu, deh. Patah hati sepertinya dia." Jawab Jeremy sambil terkekeh.


Jeremy pun segera menganggukkan kepala. Setelah itu, mereka langsung beranjak menuju rooftop. Dan benar saja, Cello, Shanum, dan Jeremy melihat Aldi di ayunan dekat karpet bulu tengah tertidur dengan lelapnya.


"Ck, itu anak bisa tidak sih nggak gampang baperan sama cewek? Gerutu Cello.


Namun, tak ayal dia tetap melangkahkan kakinya menuju tempat Aldi tengah berbaring. Cello menurunkan Dryn pada karpet bulu dan segera beranjak menghampiri Aldi.


"Al, bangun gih." Kata Cello sambil menggoyang-goyangkan lengan Aldi.


"Hhmm,"


"Jangan cuma ham hem ham hem saja, ayo cepat bangun."


"Nanti dulu, Jer. Aku masih galon nih," protes Aldi yang tidak terima dibangunkan. Dia masih mengira Jeremy yang melakukannya.


"Ini gue Cello. Lo mau gue telepon Enggar dan menyuruhnya kesini sekarang juga?"


Seketika Aldi langsung membuka kedua bola matanya. Dia cukup terkejut saat melihat Cello berada di sana.


"Cell, ngapain lo disini?" Tanya Aldi sambil beranjak duduk.


"Mau pastiin nggak ada orang yang bakalan nekat terjun dari atas sini."


Aldi yang merasa tersindir pun langsung mencebikkan bibir.


"Ckckck, gue nggak mau jadi orang sebodoh itu, tau."


\=\=\=


Sambil nunggu up, bisa mampir di cerita sekuel Mendadak Istri 2 ya