The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 15



"Eh, kak Cello?" 


Rean mengernyitkan keningnya bingung. Apa hubungannya kak Cello dengan calon kakak ipar Dandi tersebut? batin Rean.


"Iya. Mungkin kamu masih bingung apa hubungan kakak ipar kamu dengan hal ini. Irwan, calon suami kakak gue, dia adalah karyawan di perusahaan orang tuanya. Dan, dia berada di bawah Cello langsung. Ya, meskipun gue tahu kakak ipar lo itu belum bekerja sepenuhnya di kantor karena masih harus menyelesaikan kuliah. Tapi, dia cukup berpengaruh."


Rean mengangguk-anggukkan kepala mulai paham dengan apa yang dimaksud oleh Dandi tersebut. "Lalu, maksudnya apa lo minta bantuan kak Cello?"


"Gue minta tolong untuk cari informasi tentang si Irwan ini. Gue curiga jangan-jangan keluarga dan informasi pribadi dia juga palsu. Karena dulu saat perkenalan keluarga, mereka tampak canggung."


"Awalnya, kami merasa mungkin karena mereka lama todak bertemu, karena keluarga Irwan ada di Salatiga. Namun, setelah gue melihat kejadian ini, gue jadi berpikir seperti itu."


Rean tampak setuju dengan perkataan Dandi. "Lalu, apa lo kenal perempuan itu?"


"Kalau kenal sih enggak. Tapi, kenalan gue ada yang tahu siapa dia. Dia adalah seorang karyawan di Star-G, anak perusahaan GC. Dia seorang resepsionis di sana."


Rean begitu terkejut setelah mendengar penjelasan Dandi. Dia cukup tahu siapa itu GC dan anak perusahaannya.


"Baiklah. Nanti akan aku coba bicarakan dengan kakak ipar gue. Semoga saja dia bisa membantu dengan mencari informasi tentang si Irwan ini."


"Thanks, Re. Gue berharap banget lo bisa nolongin gue."


"Sans, Bro. Selama gue masih bisa bantu, gue akan tetap usahakan."


Setelah itu, mereka kembali melanjutkan obrolan. Hingga menjelang malam, Rean dan Dandi bersiap untuk pulang.


***


Keesokan harinya, Rean sudah bersiap ke kampus. Dia sudah duduk di meja makan bersama dengan kedua orang tuanya.


"Hari ini kamu bawa mobil atau motor, Re?" tanya mama Revina di sela-sela sarapan mereka.


"Motor, Ma."


"Kenapa nggak dipakai mobilnya?"


"Nggak kenapa-napa, Ma. Takut macet saja. Lagipula, nanti juga langsung ke distro. Ribet jika pakai mobil. Waktunya sempit."


"Ingat, Re. Jangan sampai mama kamu tahu jika mobil kamu sudah di modivikasi." Papa Bian berbisik saat berada di sebelah Rean.


"Oya, Pa. Tenang saja."


Papa Bian mengangguk sebelum beranjak menuju mobilnya. Setelah itu, mereka berdua sama-sama berangkat.


Tak berapa lama kemudian, Rean terlihat memasuki halaman parkir. Dia melihat Dandi yang juga baru saja memarkirkan motornya.


"Tumben lo bisa datang pagi?" Rean berseloroh sambil melangkah menuju tempat Dandi.


"Nyokap gue sudah bawa toa pagi-pagi ke kamar gue," Dandi menjawab sambil mendengus kesal.


"Ck, jika todak seperti itu, bisa dipastikan lo akan telat bangun dan telat ke kampus lagi."


Dandi hanya bisa mencebikkan bibir. Setelah itu, mereka segera berjalan menuju ruang kelas. Namun, saat berada di dekat tangga, Rean melihat miss Dena juga baru saja keluar dari ruang dosen. Rean mempercepat langkah kakinya hingga kini dia berada di samping dosen kesayangannya tersebut.


Dandi yang melihat hal itu hanya bisa mendengua kesal. Ruapanya sang sahabat benar-benar naksir dengan dosennya tersebut.


"Selamat pagi dunia," ucap Rean sambil melangkahkan kaki menjajari miss Dena.


Seketika miss Dena menoleh dan menatap ke arah Rean. Dia yang sudah mulai hafal dengan sifat absurd Rean hanya bisa mencebikkan bibir.


"Namaku Denada, bukan dunia."


"Eh, saya juga tahu itu, Miss." Rean masih mengulas senyuman manisnya.


Miss Dena merasa kesal dengan jawaban Rean. "Jika kamu tahu namaku, kenapa kamu bilang 'dunia' tadi?"


"Eh, aku kan memang menyapa dunia, Miss. Aku menyapa apa dan siapa saja yang ada di sekitar sini. Apa miss Dena sudah merasa ada di dalam duniaku?"


\=\=\=


Lanjut nggak ini?


Mohon vantu dukung cerita ini ya, kasih komen, like dan vote buat othor 🤧