
Cello benar-benar tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Dia yang merasakan bola usus Shanum menempel erat pada da*da polosnya, benar-benar membuat tubuhnya menegang.
Grep
Cello memeluk tubuh Shanum dengan erat. Dia juga melemparkan boxer dan kaos yang semula dipegang oleh Shanum ke sembarang arah.
"Aku tidak mau pakai itu. Aku sudah kepanasan karena ulahmu. Jadi, sekarang kamu harus bertanggung jawab." Kata Cello sambil menatap kedua bola mata Shanum dengan tatapan sayunya.
Shanum membuka bibirnya hendak menjawab perkataan Cello. Namun ternyata, bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Cello. Keduanya langsung berlomba-lomba untuk saling l*m*t. Suara perpaduan benda kenyal tersebut langsung menggema di seluruh kamar.
Tangan Cello tak tinggal diam. Dia langsung menarik ujung tali simpul jubah tidur Shanum hingga benar-benar terlepas. Menyadari apa yang dilakukan oleh sang suami, Shanum sedikit menjauhkan tubuhnya hingga membuat bagian depan jubah tidur tersebut terbuka dengan sempurna.
Cello yang juga menyadari hal itu langsung melepaskan pagutannya. Dia sedikit menjauhkan tubuhnya dengan napas terengah-engah. Netranya langsung membulat sambil menelusuri tubuh yang ada di depannya tersebut.
Glek
Lagi-lagi Cello menelan salivanya dengan keras. Pandangan matanya seolah-olah mene*lanj*ngi tubuh sang istri. Apalagi, saat tatapannya jatuh pada bagian bawah yang tadi sempat membuatnya mupeng.
"Kamu babat habis semuanya, Yang? Nggak takut banjir?" Tanya Cello sambil masih tak memindahkan tatapan matanya. Entah apa maksudnya itu dengan banjir, othor ndk mudeng.
Shanum justru mengerucutkan bibirnya setelah mendengar perkataan sang suami.
"Justru aku babat habis agar kamu lebih mudah, Mas. Aku hanya khawatir jika nanti kamu kesulitan mencari jejak di tengah rawa-rawa dan hutan belantara. Aku takut kamu tersesat. Kamu kan belum pernah menjelajahinya."
Cello langsung merebahkan Shanum di atas tempat tidur. Dia juga menarik jubah tidur tersebut hingga benar-benar terlepas dari tubuh sang istri. Setelahnya, dia juga melepaskan handuk yang melilit pinggangnya dan melemparkannya ke sembarang arah.
"Buka mata kamu, dan yakinkan jika saat ini yang berada di atas tubuhmu adalah aku, suamimu." Kata Cello sambil menatap wajah Shanum.
Shanum tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dia sudah cukup tenang dan yakin jika memang saat itu yang sedang bersamanya adalah Cello, sang suami.
Melihat jawaban sang istri, Cello segera menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka dan mulai melancarkan aksinya. Dia langsung membungkam bibir Shanum. Tak ingin tangan kirinya menganggur, Cello langsung mencari 'bola usus' sang istri dan langsung me*re*m*snya dengan gemas.
Aaacchhhhh auuuhhmmmpppphhh.
Shanum langsung menggelinjang saat bagian sensitif tubuhnya tersebut mendapat serangan. Pagutan benda kenyal tersebut langsung terlepas. Kepala Shanum mendongak ke atas dan menoleh ke kanan dan ke kiri saat wajah sang suami sudah mulai menjelajah leher jenjangnya.
Tak sampai situ. Cello juga mulai menandai bagian-bagian yang disukainya. Wajahnya kini sudah berada di depan 'bola usus' sang istri. Cello langsung menjelajahi lereng dan lembah tersebut sambil sesekali meninggalkan jejak di sana. Cello sengaja menghindari ujung 'bola usus' tersebut hingga membuat Shanum yang sudah menunggu sambil menahan diri langsung menggeram sambil memegangi kepala sang suami.
"Eerrgghhhh, jangan main-main, Mas. Ini sudah kedinginan dari tadi dianggurin mulu. Ce…, aarrgghhhhhh."
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan klik like dan komen buat othor.
Scroll ya 👇